INVERSI.ID – Tanaman aren dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu sumber utama bioetanol nasional. Selain mudah diolah menjadi bahan bakar nabati, tanaman ini juga mampu berproduksi dalam jangka panjang dan dapat tumbuh di lahan yang kurang produktif.
Peneliti Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Saptadi Darmawan, mengatakan nira aren memiliki kandungan sukrosa, glukosa, dan fruktosa yang tinggi sehingga sangat cocok dijadikan bahan baku bioetanol.
Dalam diskusi bersama wartawan di Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan, Bogor, Jawa Barat, Jumat, Saptadi menjelaskan bahwa proses pengolahan bioetanol berbahan nira aren jauh lebih sederhana dibandingkan bioetanol yang berasal dari pati maupun biomassa kayu.
Menurutnya, nira aren hanya memerlukan tahapan fermentasi dan penyulingan untuk menghasilkan bioetanol, sehingga proses produksinya menjadi lebih efisien.
Tak hanya itu, bioetanol yang dihasilkan dari tanaman aren juga memiliki kualitas yang baik. Saptadi menyebut angka oktannya mencapai sekitar 108, lebih tinggi dibandingkan bensin beroktan tinggi yang beredar di pasaran.
Keunggulan lainnya, pohon aren mampu menghasilkan nira hingga sekitar 20 tahun. Kondisi tersebut menjadikannya sebagai salah satu sumber energi terbarukan yang memiliki produktivitas berkelanjutan.
“Nilai ekonominya cukup bagus. Sifatnya juga terbarukan,” ujar dia.
Selain berpotensi sebagai sumber energi, tanaman aren juga bisa dibudidayakan di lahan marginal atau lahan yang kurang cocok untuk pertanian. Dengan demikian, pengembangannya tidak akan mengganggu produksi komoditas pangan.
Saptadi menambahkan bahwa tanaman aren turut memberikan manfaat bagi lingkungan. Sistem perakarannya membantu menjaga kestabilan tanah dan cadangan air, mengurangi risiko erosi, serta menghasilkan nektar yang menjadi sumber pakan bagi lebah.
Meski menyimpan potensi besar, pengembangan bioetanol berbasis aren masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah perlunya standarisasi kualitas bahan baku dan proses produksi agar menghasilkan bioetanol dengan mutu yang konsisten.
Di sisi lain, pemanfaatan nira aren di sejumlah daerah masih bersaing dengan industri minuman beralkohol tradisional yang menawarkan nilai ekonomi lebih tinggi.
Karena itu, Saptadi menilai pengembangan tanaman aren untuk kebutuhan energi harus dipisahkan dari pemanfaatannya sebagai bahan pangan agar tidak terjadi perebutan bahan baku.
Ia menjelaskan masyarakat tetap dapat mengelola aren untuk kebutuhan pangan, sementara pengembangan bioetanol memerlukan kawasan budidaya khusus dalam skala ekonomi yang mampu menjamin pasokan nira secara berkelanjutan.
“Untuk pengembangannya kita harus membuat dua klaster, yaitu aren untuk pangan dan aren untuk energi. Kalau tidak dipisahkan, pengembangannya tidak akan berjalan dengan lancar,” katanya.
Dari sisi bisnis, Saptadi menilai industri bioetanol berbahan aren memiliki prospek yang menjanjikan, baik untuk koperasi maupun pelaku industri kecil.
Hasil penelitian tim BRIN menunjukkan harga pokok produksi (HPP) bioetanol aren berada di kisaran Rp8.500 hingga Rp10.000 per liter. Sementara itu, harga jualnya diperkirakan mencapai Rp14.000 sampai Rp16.000 per liter dengan margin kotor sekitar 35 hingga 45 persen.
Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan seluruh bagian tanaman aren agar nilai ekonominya semakin tinggi. Selain nira yang diolah menjadi bioetanol, buah aren dapat diproses menjadi kolang-kaling, ijuk dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri, sedangkan limbahnya bisa diolah menjadi biopelet maupun biobriket.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tanaman aren tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Jawa Barat menjadi provinsi dengan areal perkebunan aren terluas, disusul Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan yang juga memiliki potensi pengembangan cukup besar.
Namun, Saptadi mengingatkan bahwa luas perkebunan aren di Indonesia menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data BPS, luas arealnya menyusut dari 64.544 hektare pada 2019 menjadi 60.557 hektare pada 2023.
Penurunan juga terjadi pada produksi nasional yang turun dari 107.415 ton pada 2021 menjadi 100.273 ton pada 2023. Produktivitasnya ikut mengalami penurunan dari 2,8 ton per hektare menjadi 2,7 ton per hektare pada periode yang sama.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius apabila pemerintah ingin menjadikan aren sebagai salah satu sumber utama bioetanol nasional.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan bioenergi, Kementerian Kehutanan pada Desember 2025 telah meresmikan Pilot Bioethanol Aren yang berlokasi di kawasan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Kamojang, Garut, Jawa Barat.
Saat peresmian, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan proyek tersebut menjadi tonggak penting dalam mempercepat pengembangan bioenergi hijau berbasis aren yang sejalan dengan agenda transisi energi pemerintah.
Menurut Raja Juli, aren merupakan salah satu komoditas yang berpotensi menopang kebutuhan bioetanol nasional karena dapat tumbuh dengan baik di kawasan hutan maupun lahan berlereng.
Fasilitas percontohan tersebut memanfaatkan pasokan nira aren dari Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Baru Bojong di Desa Bojong, Garut. Kapasitas produksinya mencapai sekitar 300 liter bioetanol per hari dengan kebutuhan bahan baku antara 300 hingga 500 kilogram nira aren setiap hari.
Kementerian Kehutanan memperkirakan satu hektare tanaman aren mampu menghasilkan sekitar 24.000 liter bioetanol dalam satu tahun, sehingga komoditas ini dinilai memiliki prospek besar untuk mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pemanfaatan energi ramah lingkungan.