INVERSI.ID – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat diperkirakan masih menghadapi tekanan meski terbatas. Aksi ambil untung atau profit taking yang dilakukan investor menjelang akhir pekan diperkirakan menjadi sentimen utama yang membayangi pasar.
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka menguat 4,63 poin atau 0,08 persen ke level 6.112,84. Sementara itu, Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga naik tipis 0,31 poin atau 0,05 persen menjadi 608,89.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus atau Nico menilai secara teknikal IHSG masih berpotensi bergerak dalam tren pelemahan terbatas.
“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.000- 6.220,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.
Dari pasar global, perhatian investor masih tertuju pada meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Amerika Serikat terus melancarkan serangan terhadap Iran dengan tujuan melemahkan kemampuan militernya.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan yang menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Yordania. Teheran juga meminta kelompok Houthi di Yaman tetap menutup Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dunia.
Kondisi tersebut membuat volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz turun drastis dari sekitar 9,4 juta barel menjadi 5,5 juta barel. Dampaknya, harga minyak dunia melonjak tajam dengan minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup di level 79,55 dolar AS per barel, sedangkan Brent berada di posisi 84,23 dolar AS per barel pada Kamis (16/07).
Menurut Nico, situasi tersebut berpotensi memberikan tekanan besar terhadap pasar keuangan, termasuk pasar saham dan obligasi Indonesia.
“Pelaku pasar dan investor, mungkin akan menghadapi masa-masa sulit, terutama bagi IHSG dan pasar obligasi untuk bisa bangkit kembali. Selain itu, probabilitas kenaikan tingkat suku bunga The Fed, kami melihat berpotensi meningkat dengan cepat, apabila harga energi tidak bisa dikendalikan akibat perang tersebut,” ujar Nico.
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2026 mencapai 462,4 miliar dolar AS atau hampir menyentuh Rp8.000 triliun dengan asumsi nilai tukar Rp17.300 per dolar AS. Nilai tersebut tumbuh 2,1 persen secara tahunan (year on year/yoy).
BI juga mencatat rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di level 30,6 persen. Sekitar 84,6 persen dari total utang tersebut merupakan utang jangka panjang, sehingga risiko pembiayaan kembali atau refinancing risk masih tergolong terkendali.
Nico menilai kenaikan utang luar negeri mencerminkan pemerintah masih memanfaatkan sumber pembiayaan eksternal untuk mendukung pembiayaan APBN serta pembangunan nasional. Namun demikian, laju pertumbuhannya dinilai masih berada dalam batas yang sehat.
Menurutnya, struktur utang Indonesia juga relatif kuat karena didominasi pinjaman berjangka panjang dengan rasio terhadap PDB yang masih rendah, sehingga risiko terhadap stabilitas ekonomi tetap terjaga.
“Namun, pelemahan Rupiah dan tingginya suku bunga global berpotensi meningkatkan beban pembayaran utang ke depan. Selama dana utang digunakan untuk sektor produktif dan disiplin fiskal tetap terjaga, kenaikan ULN diperkirakan belum menjadi risiko signifikan bagi stabilitas ekonomi Indonesia,” ujar Nico.
Sementara itu, pergerakan bursa saham global pada perdagangan Kamis (16/07) menunjukkan hasil yang beragam. Di Eropa, indeks Euro Stoxx 50 naik 0,25 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,54 persen, sedangkan DAX Jerman turun 0,34 persen dan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,05 persen.
Di Amerika Serikat, Wall Street ditutup di zona merah. Indeks S&P 500 turun 0,51 persen ke level 7.533,77, Nasdaq Composite melemah 1,62 persen menjadi 29.025,77, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,20 persen ke posisi 52.552,97.
Adapun bursa saham Asia pada perdagangan Jumat pagi juga bergerak bervariasi. Indeks Nikkei terkoreksi 4,22 persen ke level 64.016,00, Shanghai Composite turun 1,50 persen menjadi 3.823,95, Shenzhen melemah 3,20 persen ke posisi 14.024,53, serta Strait Times terkoreksi 0,38 persen menjadi 5.518,77. Di sisi lain, Hang Seng justru menguat 1,55 persen ke level 24.602,00.