By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: IHSG Masih Tertekan, Kenaikan Harga Minyak Hingga Utang Luar Negeri Jadi Sorotan
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » IHSG Masih Tertekan, Kenaikan Harga Minyak Hingga Utang Luar Negeri Jadi Sorotan

Ekonomi

IHSG Masih Tertekan, Kenaikan Harga Minyak Hingga Utang Luar Negeri Jadi Sorotan

Jack
By
Jack
14 hours ago
Share
5 Min Read
Arsip - Pekerja memantau grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: Antara)
SHARE

INVERSI.ID – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat diperkirakan masih menghadapi tekanan meski terbatas. Aksi ambil untung atau profit taking yang dilakukan investor menjelang akhir pekan diperkirakan menjadi sentimen utama yang membayangi pasar.

Pada awal perdagangan, IHSG dibuka menguat 4,63 poin atau 0,08 persen ke level 6.112,84. Sementara itu, Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga naik tipis 0,31 poin atau 0,05 persen menjadi 608,89.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus atau Nico menilai secara teknikal IHSG masih berpotensi bergerak dalam tren pelemahan terbatas.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.000- 6.220,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Dari pasar global, perhatian investor masih tertuju pada meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Amerika Serikat terus melancarkan serangan terhadap Iran dengan tujuan melemahkan kemampuan militernya.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan yang menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Yordania. Teheran juga meminta kelompok Houthi di Yaman tetap menutup Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dunia.

Kondisi tersebut membuat volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz turun drastis dari sekitar 9,4 juta barel menjadi 5,5 juta barel. Dampaknya, harga minyak dunia melonjak tajam dengan minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup di level 79,55 dolar AS per barel, sedangkan Brent berada di posisi 84,23 dolar AS per barel pada Kamis (16/07).

Menurut Nico, situasi tersebut berpotensi memberikan tekanan besar terhadap pasar keuangan, termasuk pasar saham dan obligasi Indonesia.

“Pelaku pasar dan investor, mungkin akan menghadapi masa-masa sulit, terutama bagi IHSG dan pasar obligasi untuk bisa bangkit kembali. Selain itu, probabilitas kenaikan tingkat suku bunga The Fed, kami melihat berpotensi meningkat dengan cepat, apabila harga energi tidak bisa dikendalikan akibat perang tersebut,” ujar Nico.

Baca Juga :

Bangkok Jadi Kota Terbaik di Dunia bagi Gen Z, Kalahkan Melbourne hingga New York
DPR Setujui Proses Naturalisasi Luke Vickery, Timnas Indonesia Dapat Tambahan Amunisi

Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2026 mencapai 462,4 miliar dolar AS atau hampir menyentuh Rp8.000 triliun dengan asumsi nilai tukar Rp17.300 per dolar AS. Nilai tersebut tumbuh 2,1 persen secara tahunan (year on year/yoy).

BI juga mencatat rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di level 30,6 persen. Sekitar 84,6 persen dari total utang tersebut merupakan utang jangka panjang, sehingga risiko pembiayaan kembali atau refinancing risk masih tergolong terkendali.

Nico menilai kenaikan utang luar negeri mencerminkan pemerintah masih memanfaatkan sumber pembiayaan eksternal untuk mendukung pembiayaan APBN serta pembangunan nasional. Namun demikian, laju pertumbuhannya dinilai masih berada dalam batas yang sehat.

Menurutnya, struktur utang Indonesia juga relatif kuat karena didominasi pinjaman berjangka panjang dengan rasio terhadap PDB yang masih rendah, sehingga risiko terhadap stabilitas ekonomi tetap terjaga.

“Namun, pelemahan Rupiah dan tingginya suku bunga global berpotensi meningkatkan beban pembayaran utang ke depan. Selama dana utang digunakan untuk sektor produktif dan disiplin fiskal tetap terjaga, kenaikan ULN diperkirakan belum menjadi risiko signifikan bagi stabilitas ekonomi Indonesia,” ujar Nico.

Sementara itu, pergerakan bursa saham global pada perdagangan Kamis (16/07) menunjukkan hasil yang beragam. Di Eropa, indeks Euro Stoxx 50 naik 0,25 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,54 persen, sedangkan DAX Jerman turun 0,34 persen dan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,05 persen.

Di Amerika Serikat, Wall Street ditutup di zona merah. Indeks S&P 500 turun 0,51 persen ke level 7.533,77, Nasdaq Composite melemah 1,62 persen menjadi 29.025,77, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,20 persen ke posisi 52.552,97.

Adapun bursa saham Asia pada perdagangan Jumat pagi juga bergerak bervariasi. Indeks Nikkei terkoreksi 4,22 persen ke level 64.016,00, Shanghai Composite turun 1,50 persen menjadi 3.823,95, Shenzhen melemah 3,20 persen ke posisi 14.024,53, serta Strait Times terkoreksi 0,38 persen menjadi 5.518,77. Di sisi lain, Hang Seng justru menguat 1,55 persen ke level 24.602,00.

You Might Also Like

Antrean BBM Di Sumut Mulai Diurai! ESDM Tambah Armada Truk Tangki Distribusi
Jangan Rugikan Tanah Adat! Bahlil Pastikan Warga Blok Masela Dapat Skema Ganti Untung
Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.980 per Dolar AS, Inflasi AS Jadi Sentimen Positif
Listrik Warga Jadi Prioritas! Revisi RKAB Batu Bara Utamakan Pasokan PLN
Pecah Telur! Blok Masela Resmi Dimulai, Proyek Raksasa Gas Akhirnya Bergerak
TAGGED:bursa sahamISGHSaham
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article AS Gempur Bandara Iranshahr, Infrastruktur Listrik Iran Lumpuh dan Warga Terluka
Next Article Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.980 per Dolar AS, Inflasi AS Jadi Sentimen Positif
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

ASN Disorot DPR! PR Besar Kementerian PANRB Tingkatkan Kinerja Birokrasi

Urusan Batu Bara Murni Bisnis PLN, Kenapa Oposisi Sibuk Serang Menteri ESDM?

Bahlil Selamatkan Harga Sawit, Petani Bisa Lega!

Gaikindo Ketok Palu! B50 Dipastikan Aman, Mesin Diesel Tak Perlu Khawatir

BBM Nelayan Rp15 Ribu Disahkan! Jurus Bahlil Lindungi Dompet Tanpa Sentuh APBN

Jakarta Darurat Judol. Ribuan Warga Pilih Jalan Spekulasi demi Bertahan Hidup

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

EkonomiTerkini

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

5 days ago
Ekonomi

Jakarta Fair Kemayoran 2026 Pecahkan Transaksi Rp8,2 Triliun Selama 32 Hari

6 days ago
Ekonomi

INNOPROM 2026 Hasilkan 13 MoU Strategis, Indonesia Perkuat Industri dan Investasi di Eurasia

6 days ago
Ekonomi

Hadapi Musim Kemarau, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Nasional Tetap Aman

7 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index