INVERSI.ID – Di tengah dominasi smartphone, tren penggunaan feature phone atau ponsel sederhana kembali mencuat. Fenomena ini menjadi bentuk perlawanan terhadap dampak negatif teknologi digital, terutama di kalangan Generasi Z.
Meski ponsel pintar menawarkan kemudahan akses informasi, penggunaannya yang intens sering kali berdampak pada kondisi psikologis. Mulai dari mood swing, sulit fokus, hingga kecanduan layar, menjadi alasan utama di balik kebangkitan tren ponsel jadul ini.
Awal Mula Gerakan “Back to Basic” Digital
Dilansir dari The Guardian, gerakan kembali ke feature phone mulai populer di Amerika Serikat pada 2017. Kampanye ini banyak dipopulerkan oleh para kreator TikTok lewat tagar #BringBackFlipPhones, yang mengajak warganet untuk berhenti sejenak dari dunia digital yang terlalu cepat dan bising.
Melihat tren tersebut, Human Mobile Devices (HMD) selaku produsen ponsel Nokia, menangkap peluang dengan meluncurkan kembali seri-seri ponsel lipat legendaris mereka. Hasilnya, penjualan feature phone Nokia melonjak hingga dua kali lipat pada April 2023.
Dominasi Pasar dan Antusias Gen Z
Menurut laporan Counterpoint Research, pasar feature phone justru masih sangat kuat di negara-negara berkembang seperti India, Timur Tengah, dan Afrika, dengan persentase mencapai 80% pada 2023.
Menariknya, Generasi Z menjadi kelompok yang paling aktif mengadopsi tren ini. Sejak kecil sudah terpapar teknologi canggih, banyak dari mereka merasa jenuh dan mulai menggali kembali hal-hal berbau nostalgia. Ini menjadi bagian dari tren “newtro” (new + retro) yang juga mencakup kegemaran terhadap piringan hitam, kaset pita, fanzine, gim 8-bit, hingga penggunaan kamera analog.
Bagaimana di Indonesia?
Di Indonesia, memang belum ada data resmi soal jumlah pengguna ponsel jadul. Namun, pengguna feature phone biasanya menggunakannya untuk dua fungsi utama, detoks digital dan ponsel cadangan.
Tak hanya itu, feature phone dikenal memiliki daya tahan baterai yang luar biasa lama, sehingga menjadi andalan dalam situasi darurat atau ketika traveling tanpa akses listrik memadai.***