INVERSI.ID – Program pendidikan militer bagi pelajar yang digagas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menuai beragam tanggapan. Salah satu kritik datang dari Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PAN, Verrell Bramasta. Ia menilai pendekatan militeristik terhadap pelajar, khususnya anak-anak yang dinilai “nakal”, tidak bisa disamaratakan.
“Jika hanya mengandalkan pendekatan fisik tanpa menyentuh sisi psikologis dan spiritual, saya khawatir kita justru membentuk karakter yang keras, bukan tangguh,” ujar Verrell, Rabu (14/5).
Verrell menyoroti kebijakan pengiriman pelajar dengan masalah kedisiplinan ke barak militer sebagai bentuk pembinaan. Menurutnya, remaja memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh agar perubahan perilaku bisa terjadi secara mendalam dan berkelanjutan.
Klarifikasi Sikap Politik di Tengah Kritik
Selebritis yang kini aktif di dunia politik ini juga menanggapi tudingan bahwa dirinya sepenuhnya menolak program yang dijalankan di daerah pemilihannya.
“Perlu saya luruskan, tidak ada satu kata pun dalam video saya yang menyatakan kontra terhadap program di dapil saya. Saya hanya menyuarakan aspirasi masyarakat yang memiliki pandangan berbeda,” tegas Verrell.
Ia menekankan bahwa kritiknya bukan untuk menjatuhkan, melainkan mendorong agar program tersebut dievaluasi dan disempurnakan.
“Kalau ada masukan, sebaiknya dijadikan bahan koreksi agar kebijakan pendidikan kita bisa lebih baik ke depan,” lanjutnya.
Kritik sebagai Wujud Demokrasi
Verrell Bramasta menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya sikap terbuka dari pejabat publik terhadap kritik. Menurutnya, kritik adalah bagian penting dalam sistem demokrasi.
“Kalau tidak mau dikritik dan merasa selalu paling benar, sebaiknya tidak usah jadi pejabat,” tandasnya.
Ia berharap pemerintah daerah, termasuk Gubernur Dedi Mulyadi, bisa mempertimbangkan berbagai masukan yang datang dari masyarakat maupun anggota legislatif, terutama terkait sektor pendidikan yang menyangkut masa depan generasi muda.***