INVERSI.ID – Meski hidup di kota besar dan dikelilingi teknologi, banyak anak muda yang justru merasa kesepian. Hal ini terungkap dalam survei Health Collaborative Center (2023) di wilayah Jabodetabek. Hasilnya, 44% responden mengalami kesepian derajat sedang, sementara 6% lainnya kesepian berat. Mayoritas dari mereka adalah usia muda, terutama 20–24 tahun.
Menurut psikolog Virginia Hanny, kesepian ini diperparah oleh dampak pandemi yang membatasi interaksi sosial. Meski kini sudah normal, banyak yang masih kesulitan kembali berkomunikasi langsung (face to face).
Sleep Call: Solusi Cepat tapi Bisa Bikin Ketergantungan
Fenomena jasa sleep call muncul sejak pandemi. Layanan ini menyediakan teman bicara lewat telepon, terutama malam hari. Salah satunya adalah Sleepcallinn yang dirintis Oka Adabi (23), dengan tarif Rp15.000/jam.
“Banyak yang pesan layanan ini karena merasa enggak punya tempat cerita,” kata Oka.
Meski membantu, psikolog mengingatkan bahwa sleep call tetap bersifat transaksional. Bila terlalu bergantung, justru bisa memperparah rasa sepi yang ada.
Dating Apps: Obrolan Singkat Cari Koneksi
Nia (31), perantau dari Surabaya ke Jakarta, mengaku mencoba aplikasi kencan seperti Bumble untuk sekadar ngobrol. Kesibukan dan kesenjangan budaya membuatnya sulit berinteraksi dengan orang baru.
“Kadang ngobrol aja sudah cukup buat mengusir kesepian,” katanya.
Namun, tidak semua interaksi di aplikasi kencan berujung positif. Perbedaan ekspektasi sering kali menimbulkan rasa kecewa. Hanny menekankan pentingnya membangun batasan dan ekspektasi yang sehat dalam hubungan.
Solusi Sehat: Hubungan Nyata dan Berteman dengan Diri Sendiri
Menurut pakar, solusi paling efektif untuk kesepian adalah membangun koneksi nyata di kehidupan sehari-hari. Bergabung dengan komunitas atau kegiatan tatap muka bisa jadi langkah awal.
Namun, saat kondisi tidak memungkinkan, belajar berdamai dengan diri sendiri juga penting. Misalnya, menulis jurnal, melakukan hobi, atau sekadar menikmati waktu sendirian.
“Kesepian itu wajar. Tapi jangan lupa, kita juga bisa berteman dengan diri sendiri,” ujar Hanny.
Kesepian bukan aib, dan kamu enggak sendiri. Entah lewat obrolan digital, koneksi nyata, atau refleksi pribadi, yang terpenting adalah memahami bahwa setiap orang punya cara sendiri untuk melewati fase sepi ini. Tak perlu buru-buru mencari pelarian. Mungkin, jawabannya ada di dalam diri sendiri.***