INVERSI.ID – Kesehatan mental Gen Z kini menjadi isu yang semakin relevan seiring dengan meningkatnya tekanan hidup, persaingan, dan ekspektasi sosial yang membebani anak muda. Dalam wawancara eksklusif di program Cerita Penutup Hari Pro 2 RRI Ende pada Rabu (20/8/2025), psikolog muda Fathiyah Allisah memberikan pesan penting bagi generasi Z (Gen Z). Ia menekankan bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah bijak untuk bisa tetap kuat menghadapi tantangan hidup.
Menurut Fathiyah, kesehatan mental Gen Z sering kali terabaikan karena masih adanya stigma. Banyak anak muda merasa takut dianggap lemah ketika membicarakan soal kecemasan atau depresi. Padahal, justru dengan berani membicarakan perasaan, seseorang bisa menemukan jalan keluar dan mengurangi beban yang dipikul sendirian.
Lebih jauh, Fathiyah menekankan bahwa kesehatan mental Gen Z bisa terjaga dengan kombinasi antara kesadaran diri, dukungan sosial, dan keberanian untuk mencari bantuan profesional. “Jangan takut untuk cerita, baik ke orang terdekat maupun psikolog. Dengan begitu, kamu tidak hanya meringankan beban, tapi juga menjaga kesehatan mental agar tetap stabil,” ujarnya dengan penuh empati.
Tantangan Kesehatan Mental yang Dihadapi Gen Z
Tekanan hidup di era modern membuat Gen Z berada di situasi yang unik sekaligus menantang. Berbeda dengan generasi sebelumnya, mereka tumbuh dalam era digital dengan arus informasi yang begitu deras. Media sosial, meski memberi banyak manfaat, juga menjadi sumber kecemasan dan perbandingan sosial yang tidak sehat.
Fathiyah menilai bahwa fenomena fear of missing out (FOMO), standar kesuksesan yang dibangun oleh media, hingga tuntutan akademik maupun pekerjaan, sering membuat anak muda merasa terjebak. Akibatnya, tidak sedikit yang mengalami gejala gangguan kecemasan, depresi, bahkan kelelahan emosional (burnout).
“Kesehatan mental bukan hanya soal menghindari gangguan, tapi bagaimana kita bisa beradaptasi dengan tekanan. Anak muda harus menyadari bahwa merasa cemas atau sedih itu normal, tetapi jangan sampai dibiarkan berlarut hingga mengganggu kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Selain itu, kurangnya komunikasi yang sehat dalam keluarga maupun lingkungan sekitar sering memperparah kondisi mental anak muda. Banyak dari mereka memilih diam karena takut dianggap berlebihan, padahal sebenarnya mereka butuh didengar. Menurut Fathiyah, kehadiran teman atau keluarga yang mau mendengarkan tanpa menghakimi dapat menjadi penyelamat.
Dukungan Sosial dan Edukasi sebagai Solusi
Dalam wawancara di Pro 2 RRI Ende, Fathiyah juga menekankan pentingnya edukasi publik untuk mematahkan stigma terhadap isu kesehatan mental. Acara yang ia hadiri bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, bahwa berbicara soal mental bukanlah hal tabu.
Menurutnya, dukungan sosial memiliki peran penting dalam memperkuat daya tahan mental Gen Z. Lingkungan yang suportif dapat menjadi benteng pertama dalam menghadapi tekanan hidup. Baik itu teman dekat, keluarga, maupun komunitas, semua memiliki andil dalam menciptakan ruang aman bagi anak muda untuk berbagi cerita.
Fathiyah menambahkan bahwa keberanian Gen Z untuk mencari bantuan profesional juga harus diapresiasi. Psikolog, konselor, maupun layanan kesehatan jiwa lainnya bisa memberikan perspektif serta strategi yang lebih tepat untuk mengelola emosi dan tekanan.
“Ketika anak muda berani membuka diri, itu artinya mereka sudah mengambil langkah pertama untuk sembuh. Jangan menunggu sampai kondisi mental semakin buruk baru mencari pertolongan,” pesan Fathiyah.
Selain itu, ia juga mendorong institusi pendidikan, media, dan komunitas anak muda untuk lebih gencar mengangkat isu kesehatan mental. Dengan begitu, anak-anak muda tidak merasa sendirian dalam perjuangan menjaga keseimbangan jiwa mereka di tengah hiruk pikuk kehidupan modern.
Fondasi Penting Bagi Masa Depan
Kehadiran psikolog muda seperti Fathiyah Allisah menjadi pengingat bahwa kesehatan mental adalah fondasi penting bagi masa depan generasi. Pesannya untuk Gen Z agar berani bercerita, mencari pertolongan, dan tidak merasa sendirian patut menjadi refleksi bersama.
Melalui program Pro 2 RRI Ende, pesan edukasi ini disampaikan dengan harapan bisa mengurangi stigma sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Bagi Gen Z, menjaga kesehatan mental berarti menyiapkan diri agar mampu menghadapi dinamika kehidupan dengan lebih matang, berdaya, dan penuh harapan.