INVERSI.ID – Gen Z jarang konsumsi buah dan sayur menjadi sorotan serius Kementerian Kesehatan. Kepala Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes, Anas Ma’ruf, mengungkapkan bahwa berdasarkan Survei Kesehatan Nasional (SKI) 2023, kelompok usia Gen Z rata-rata hanya mengonsumsi buah dan sayur kurang dari lima porsi dalam seminggu. Kondisi ini menjadi perhatian karena pola makan yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular di masa depan.
Gen Z jarang konsumsi buah dan sayur juga terlihat dari tren penurunan dalam satu dekade terakhir. Sejak 2013 hingga 2023, data menunjukkan bahwa konsumsi buah dan sayuran pada kelompok usia muda terus menurun.
“Gen Z, anak-anak kita saat ini, banyak yang tidak suka makan sayuran dan buah-buahan,” kata Anas dikutip dari Media Indonesia, Rabu (10/9/2025).
Menurutnya, perubahan pola makan ini harus segera diatasi sebelum menimbulkan dampak kesehatan yang lebih serius.
Gen Z jarang konsumsi buah dan sayur bukan hanya masalah preferensi, melainkan juga bagian dari tren meningkatnya konsumsi makanan berisiko. Anas menambahkan bahwa makanan dan minuman yang mengandung gula, garam, dan lemak (GGL) justru lebih banyak dikonsumsi anak muda. Pola ini memicu risiko tinggi penyakit tidak menular, mulai dari obesitas, diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung. Oleh karena itu, kebijakan pengendalian konsumsi GGL dinilai sangat penting.
Risiko Kesehatan Akibat Pola Makan Gen Z
Fenomena jarangnya konsumsi buah dan sayur di kalangan Gen Z berpotensi menambah beban kesehatan nasional. Penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes dan hipertensi semakin meningkat di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kasus PTM terus melonjak dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi penyumbang utama angka kematian di Indonesia. Konsumsi buah dan sayuran yang rendah semakin memperparah kondisi ini karena tubuh tidak mendapatkan asupan vitamin, mineral, dan serat yang cukup.
Buah dan sayur memiliki peran penting dalam menjaga daya tahan tubuh, melancarkan pencernaan, hingga mencegah peradangan. Namun, pola konsumsi masyarakat, khususnya Gen Z, kini lebih banyak dipengaruhi gaya hidup praktis dengan makanan cepat saji. Hal ini berbanding terbalik dengan kebutuhan nutrisi yang sebenarnya.
Upaya Pemerintah Kendalikan Konsumsi GGL
Pemerintah menyadari perlunya langkah konkret untuk mengatasi tingginya konsumsi gula, garam, dan lemak. Asisten Deputi Peningkatan Gizi dan Pencegahan Stunting Kemenko PMK, Jelsi Natalia Marampa, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan orkestrasi bersama kementerian dan lembaga lain untuk menekan konsumsi GGL di masyarakat.
“Kami sudah siap sejak Maret lalu untuk membentuk forum koordinasi terkait penetapan standar kandungan GGL. Saat ini, kami menunggu hasil kajian dari Kementerian Kesehatan yang sedang berlangsung,” ujar Jelsi.
Menurutnya, hasil kajian ini akan menjadi dasar dalam penyusunan regulasi yang lebih tegas.
Jelsi menambahkan, Kemenko PMK tengah menyusun Peraturan Menko yang akan mengidentifikasi kementerian dan lembaga mana saja yang terlibat dalam forum tersebut.
“Kami sudah siap dengan berbagai kegiatan strategis terkait pengendalian GGL, khususnya penetapan standar batas maksimal yang nantinya berlaku di masyarakat,” jelasnya.
Perubahan Gaya Hidup untuk Gen Z
Selain kebijakan dari pemerintah, perubahan gaya hidup juga harus dimulai dari diri sendiri. Gen Z perlu diedukasi untuk memahami pentingnya konsumsi buah dan sayur secara rutin. Kampanye kreatif di media sosial dapat menjadi cara efektif untuk menarik perhatian generasi muda. Misalnya, melalui konten yang menekankan manfaat buah dan sayur bagi energi, kecantikan kulit, hingga kesehatan mental.
Selain itu, sekolah dan perguruan tinggi juga dapat berperan penting dengan menghadirkan program edukasi gizi, penyediaan kantin sehat, serta kegiatan kampanye makan buah dan sayur bersama. Orang tua pun perlu menjadi teladan dengan membiasakan pola makan sehat di rumah.
Tantangan dan Harapan
Tantangan terbesar dalam mengubah pola makan Gen Z adalah derasnya pengaruh industri makanan cepat saji dan minuman manis yang menawarkan harga murah dan akses mudah. Namun, dengan regulasi yang tepat, kampanye kesehatan yang masif, serta peran aktif masyarakat, pola konsumsi Gen Z dapat diarahkan ke jalur yang lebih sehat.
Harapannya, langkah-langkah ini mampu menekan prevalensi penyakit tidak menular dan membangun generasi muda yang sehat, bugar, dan produktif. Dengan kesadaran kolektif, krisis kesehatan akibat jarangnya konsumsi buah dan sayur bisa dihindari.