INVERSI.ID – Gen Z Nepal menjadi sorotan dunia setelah aksi protes besar-besaran mereka berhasil melumpuhkan Pemerintah Nepal pada September 2025. Dimulai dari unggahan di media sosial dengan tagar #nepokids, gerakan anak muda ini berujung pada kerusuhan yang memaksa Presiden Nepal Ram Chandra Poudel dan Perdana Menteri Khadga Prasad Sharma Oli mengundurkan diri. Aksi Gen Z Nepal ini menunjukkan bagaimana media sosial dapat menjadi alat perubahan politik yang nyata.
Gen Z Nepal selama ini menyimpan kekecewaan mendalam terhadap perilaku Pemerintah Nepal yang dianggap korup dan tidak peduli pada rakyat. Menurut laporan Bank Dunia, 1 dari 5 penduduk Nepal hidup dalam kemiskinan akut, dan hanya 10 persen yang benar-benar kaya. Ironisnya, di tengah kondisi rakyat yang sulit, para pejabat, politisi, birokrat, hingga keluarga mereka justru memamerkan gaya hidup mewah di media sosial. Hal inilah yang memantik kemarahan generasi muda.
Gen Z Nepal juga menghadapi tantangan serius di bidang ketenagakerjaan. Berdasarkan data World Bank, tingkat pengangguran usia 15–24 tahun mencapai 22 persen pada periode 2022–2023. Banyak anak muda yang sudah menyelesaikan pendidikan tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan. Kreativitas mereka pun terbatas, dengan hanya sekitar 18 persen yang dapat menyalurkan potensi mereka. Ketidakadilan ini membuat Gen Z Nepal semakin bertekad menyuarakan perubahan.
Tagar #nepokids Jadi Simbol Perlawanan
Gerakan Gen Z Nepal dimulai dari media sosial. Tagar #nepokids mendadak viral setelah menyoroti gaya hidup hedonis anak-anak elit politik di tengah penderitaan rakyat. Foto dan video mewah mereka menyebar luas, memicu kemarahan publik. Meski ada keraguan tentang keaslian beberapa konten, semangat perlawanan tak terbendung.
Sebagai respons, Pemerintah Nepal justru memperburuk keadaan dengan melarang 26 platform media sosial, termasuk WhatsApp, Facebook, Instagram, hingga WeChat. Alasannya, perusahaan-perusahaan itu dianggap tidak memenuhi persyaratan pendaftaran ke pemerintah. Namun, larangan ini justru memicu ledakan protes. Gen Z Nepal menilai pemblokiran media sosial sebagai bentuk otoritarianisme yang merusak kebebasan berekspresi sekaligus merugikan sektor pariwisata dan komunikasi dengan diaspora pekerja Nepal di luar negeri.
Pemblokiran itu juga memutus hubungan jutaan pekerja migran Nepal dengan keluarga mereka. Padahal, ekonomi Nepal sangat bergantung pada remitansi dari para pekerja tersebut. Inilah yang membuat situasi semakin memanas dan menjadi titik balik perlawanan anak muda.
Dari Dunia Maya ke Jalanan
Pada 8 September 2025, Gen Z Nepal turun ke jalan. Mereka memprotes larangan media sosial sekaligus menyuarakan ketidakadilan ekonomi dan politik. Di Kathmandu dan berbagai wilayah lain, aksi protes berlangsung ricuh. Polisi dituduh menembaki demonstran muda yang menuju kompleks Parlemen. Situasi kian memburuk setelah para demonstran mulai menyerbu barikade, menjarah toko, membakar kantor pemerintahan, hingga merusak fasilitas publik seperti bandara dan hotel.
Singha Durbar, pusat pemerintahan Nepal, menjadi sasaran amarah massa. Beberapa gedung pemerintah, termasuk Mahkamah Agung, ikut terbakar. Kerusuhan ini menewaskan sedikitnya 30 orang, 19 di antaranya akibat tembakan aparat keamanan. Meskipun para pemimpin gerakan menyerukan damai di dunia maya, di lapangan sebagian massa bertindak anarkis.
Pemerintah akhirnya mencabut larangan media sosial pada 9 September 2025. Namun, langkah itu tidak mampu meredam gelombang kemarahan rakyat. Pada hari berikutnya, Perdana Menteri dan empat menteri lain memilih mengundurkan diri. Media besar di Nepal, termasuk The Kathmandu Post, sempat menangguhkan publikasi digitalnya setelah kantornya diserang massa. Situasi semakin kacau ketika otoritas memberlakukan jam malam nasional pada 11 September 2025.
Gen Z Nepal dan Harapan Baru
Di tengah kekacauan, para pemimpin de facto gerakan Gen Z Nepal bertemu pejabat militer untuk mencari solusi. Mereka mengusulkan mantan Ketua Mahkamah Agung Nepal sebagai pemimpin sementara. Meski langkah politik selanjutnya belum jelas, satu hal pasti: pemerintah lama sudah tumbang dan era baru tengah dirintis.
Gerakan ini menunjukkan karakter Gen Z Nepal yang tanpa pemimpin tunggal, tetapi bersatu dalam tujuan. Mereka menggambarkan diri sebagai suara generasi muda yang marah atas korupsi, pengangguran, dan ketidaksetaraan. Gerakan ini merupakan protes terbesar sejak Nepal menjadi republik demokratis pada 2008, membuktikan bahwa suara anak muda dapat mengguncang fondasi sebuah negara.
Apakah Gen Z Nepal akan berhasil membawa perubahan permanen? Jawabannya masih menunggu waktu. Namun, jelas bahwa generasi ini sudah menandai babak baru dalam sejarah politik Nepal. Mereka berhasil mengubah kekecewaan menjadi aksi nyata yang tidak bisa lagi diabaikan.