Dunia literasi Korea Selatan dan para pembaca global tengah berduka atas kepergian Baek Se-hee, penulis memoar fenomenal “I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki.” Di usia 35 tahun, Baek meninggalkan dunia dengan cara yang begitu mulia—mendonasikan organ tubuhnya dan menyelamatkan lima nyawa. Kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi dunia sastra, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya empati, keberanian, dan kemanusiaan.
Siapa Baek Se-hee?
Baek Se-hee adalah penulis asal Korea Selatan yang dikenal luas berkat bukunya “I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki” (2018). Buku ini merupakan memoar yang mengangkat pengalaman pribadinya dalam menghadapi distimia—sejenis depresi kronis ringan yang berlangsung lama. Dengan gaya penulisan yang jujur, hangat, dan penuh refleksi, Baek berhasil membuka ruang diskusi tentang kesehatan mental di masyarakat Korea yang selama ini cenderung tabu membicarakan isu tersebut.
Memoarnya menjadi bestseller di Korea Selatan dan diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Buku ini menjadi semacam pelipur lara bagi banyak pembaca yang merasa tidak sendirian dalam pergulatan batin mereka.
“I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki”: Suara Sunyi yang Menggema
Judul buku Baek Se-hee yang unik dan kontras langsung menarik perhatian. Di satu sisi, ia mengungkapkan keinginan untuk mati, namun di sisi lain, ia masih ingin menikmati makanan favoritnya—tteokbokki. Kontras ini mencerminkan kompleksitas emosi manusia, terutama mereka yang hidup dengan gangguan mental.
Buku ini ditulis dalam format percakapan antara Baek dan psikiaternya, menjadikannya terasa sangat personal dan relatable. Ia tidak menawarkan solusi instan, tetapi mengajak pembaca untuk menerima diri, merawat luka batin, dan terus bertahan.
Kepergian Baek Se-hee dan Donasi Organ yang Menyelamatkan Nyawa
Pada 16 Oktober 2025, Baek Se-hee dinyatakan meninggal dunia di usia 35 tahun. Hingga kini, penyebab kematiannya belum diumumkan secara resmi. Namun, yang membuat publik terharu adalah keputusan Baek untuk mendonasikan organ tubuhnya.
Menurut Badan Donasi Organ Korea (KODA), Baek mendonasikan jantung, paru-paru, hati, dan ginjalnya, yang berhasil menyelamatkan lima nyawa. Donasi ini dilakukan melalui prosedur donasi dari pasien mati otak, dan menjadi salah satu bentuk pengabdian terakhir Baek kepada sesama.
Adik perempuan Baek menyampaikan dalam siaran pers:
“(Baek) ingin menulis, berbagi isi hatinya dengan orang lain melalui karyanya, dan menginspirasi harapan. Mengetahui sifatnya yang lembut, tidak mampu menyimpan kebencian, saya harap dia sekarang dapat beristirahat dengan tenang.”
Donasi Organ: Aksi Kemanusiaan yang Menginspirasi
Donasi organ masih menjadi isu yang sensitif di banyak negara, termasuk Korea Selatan dan Indonesia. Keputusan Baek Se-hee untuk mendonasikan organ tubuhnya menjadi contoh nyata bahwa cinta kasih bisa melampaui batas kehidupan.
Menurut data dari KODA, satu pendonor organ dapat menyelamatkan hingga delapan nyawa. Dengan menyumbangkan empat organnya, Baek telah memberikan harapan baru bagi lima pasien yang membutuhkan transplantasi.
Dampak Global: Dari Buku ke Gerakan Sosial
Karya Baek Se-hee telah melampaui batas negara dan bahasa. Di Indonesia, buku “I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki” menjadi bacaan wajib bagi generasi muda yang mulai terbuka terhadap isu kesehatan mental. Banyak komunitas literasi dan kesehatan mental menjadikan buku ini sebagai bahan diskusi dan refleksi.
Kepergian Baek juga memicu gelombang penghormatan di media sosial. Tagar #ThankYouBaekSeHee dan #RestInPeaceBaekSeHee menjadi trending di Korea dan beberapa negara Asia. Para pembaca membagikan kutipan favorit mereka dari bukunya, serta kisah pribadi tentang bagaimana karya Baek membantu mereka melewati masa-masa sulit.
Warisan Baek Se-hee: Membuka Percakapan tentang Kesehatan Mental
Salah satu warisan terbesar Baek adalah keberaniannya membuka percakapan tentang kesehatan mental di masyarakat yang masih menyimpan stigma. Ia tidak hanya menulis, tetapi juga menjadi suara bagi mereka yang merasa tak terdengar.
Melalui bukunya, Baek mengajarkan bahwa tidak apa-apa merasa lelah, tidak apa-apa merasa ingin menyerah, selama kita tetap mencari alasan untuk bertahan—meski sesederhana keinginan makan tteokbokki.
Baek Se-hee, Cahaya yang Terus Menyala
Kepergian Baek Se-hee adalah kehilangan besar bagi dunia literasi dan kesehatan mental. Namun, warisan yang ia tinggalkan—baik melalui tulisannya maupun donasi organnya—akan terus hidup dan memberi cahaya bagi banyak orang.
Ia telah menunjukkan bahwa bahkan dalam keheningan, seseorang bisa tetap berbicara. Bahkan dalam kematian, seseorang bisa tetap memberi kehidupan. Terima kasih, Baek Se-hee, atas keberanianmu menulis, mencintai, dan memberi.