Indonesia sebagai negara rawan bencana membutuhkan sistem pendidikan yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan tanggap darurat. Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos) menetapkan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 14 Kabupaten Bandung Barat sebagai model nasional Sekolah Aman Bencana.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Sekolah Rakyat Aman Bencana (SRAB) yang digagas oleh Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Bandung. Tujuannya adalah membangun kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap bencana di lingkungan pendidikan, terutama di wilayah-wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi.
Pada 4–5 November 2025, Kemensos menggelar simulasi penyelamatan bencana di SRMA 14. Kegiatan ini menjadi implementasi perdana dari Panduan Pelaksanaan Sekolah Rakyat Aman Bencana (PPSRAB) yang telah ditandatangani oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul).
Simulasi dimulai dengan safety briefing, dilanjutkan skenario gempa bumi yang menyebabkan kebakaran. Para siswa dan tenaga pendidik melakukan evakuasi mandiri, mendirikan shelter, dan menjalankan koordinasi terpadu untuk layanan psikososial, logistik, pemadaman, serta pertolongan pertama.
Program SRAB tidak berjalan sendiri. Kemensos menggandeng berbagai mitra strategis, antara lain:
- BNPB dan BMKG Bandung untuk pemetaan risiko dan edukasi kebencanaan
- Unicef, YKMI, IPSPI, dan Rumah Zakat untuk dukungan teknis dan sosial
- Yayasan Adaptasi Bencana Indonesia (YABI) dan Disaster Management Centre Dompet Dhuafa (DMC DD) untuk pelatihan komunitas
- Tagana, PREDIKT, dan MPBI sebagai pelaksana lapangan dan fasilitator
Dukungan juga datang dari Pemprov Jawa Barat, Pemkab Bandung Barat, BPBD, Damkar, Basarnas, Puskesmas Jayagiri, Polsek dan Koramil Lembang, serta relawan lokal.
Program SRAB dirancang melalui delapan tahapan strategis:
- Diskusi bersama pemangku kepentingan pusat dan daerah
- Penyusunan Panduan Pelaksanaan SRAB
- Sosialisasi dan uji publik panduan
- Pemetaan risiko bencana di sekolah
- Bimbingan teknis bagi guru dan pengelola sekolah
- Rapat koordinasi lintas sektor
- Gladi bersih dan pengecekan jalur evakuasi
- Simulasi penyelamatan dan evaluasi
Setiap tahapan dirancang untuk memastikan bahwa sekolah benar-benar siap menghadapi berbagai skenario bencana, dari gempa bumi hingga kebakaran.
SRMA 14 dipilih sebagai model nasional karena lokasinya yang berada di wilayah rawan bencana serta komitmen tinggi dari pengelola dan komunitas sekolah. Ke depan, model ini akan direplikasi di 166 titik Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia.
Kepala BBPPKS Bandung, Iyan Kusumadiana, menegaskan pentingnya membangun budaya sadar bencana sejak dini.
“Kami ingin memastikan bahwa ketika bencana terjadi, civitas Sekolah Rakyat mampu bertindak cepat, tenang, dan sesuai prosedur penyelamatan. Kesiapan adalah kunci untuk mengurangi risiko korban,” ujarnya.
Simulasi SRAB mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Perwakilan Basarnas menyebut bahwa koordinasi lintas instansi membuat simulasi terasa realistis dan edukatif. Tim penilai dari BPBD, Dinas Sosial, Damkar, dan Puskesmas memberikan rekomendasi teknis untuk:
- Penyempurnaan jalur evakuasi
- Penambahan titik kumpul aman
- Kesiapan alat pemadam dan komunikasi darurat
Kegiatan ditutup dengan demonstrasi penggunaan APAR (alat pemadam api ringan), edukasi pertolongan pertama, dan pemeriksaan kesehatan bagi peserta.
Baca Juga : https://inversi.id/lulusan-sekolah-rakyat-kini-bisa-kuliah-lewat-beasiswa-kemensos-dan-kemendiktisaintek/
Penetapan SRMA 14 sebagai model Sekolah Aman Bencana menandai langkah penting dalam membangun sistem pendidikan yang tangguh terhadap bencana. Dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis komunitas, program ini diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga siap menghadapi risiko bencana dengan tenang dan terlatih.
Karena pendidikan yang aman adalah hak setiap anak, dan kesiapsiagaan adalah investasi untuk masa depan yang lebih kuat dan berdaya tahan.