INVERSI.ID – Di tengah isu krisis iklim yang semakin nyata, dua anak muda Indonesia menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sederhana di sekitar kita. Mereka adalah Fikri (20) dan Sari (22), peserta GLOW Ambassador by Childfund, sebuah kampanye yang mengajak remaja dan dewasa muda untuk menjadi agen perubahan dalam isu lingkungan.
Fikri: Olah Sampah Jadi Eco-Enzym dan Lilin Organik
Masa pandemi Covid-19 menjadi titik balik bagi Fikri, mahasiswa asal Semarang. Ia mulai aktif belajar bersama komunitas ibu-ibu pengolah sampah organik dan menghasilkan eco-enzym, cairan hasil fermentasi limbah dapur seperti kulit buah dan sayuran yang bermanfaat untuk tanaman.
“Eco-enzym ini dari limbah kulit buah. Cairan ini baik digunakan untuk pupuk tanaman,” ujar Fikri saat ditemui di Jakarta, Selasa (17/6).
Tak hanya itu, Fikri juga berinovasi membuat lilin dari bahan-bahan organik sebagai bentuk nyata dari kepeduliannya terhadap pengelolaan sampah rumah tangga.
Sari: Bangun Bank Sampah Digital untuk Kurangi Banjir
Berbeda dari Fikri, Sari yang berasal dari Kabupaten Bogor merasa resah karena masih banyak masalah sampah di wilayahnya. Salah satu dampak yang ia rasakan langsung adalah banjir saat musim hujan. Berangkat dari keresahan itu, Sari menginisiasi gerakan bank sampah digital lewat situs yang ia kelola sendiri.
“Saya membeli sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan botol dari warga sekitar. Lalu saya jadwalkan pengambilan dan mengelolanya menjadi tas atau barang bernilai jual,” jelas Sari.
Gerakan ini melibatkan teman-teman kampus dan mendorong kolaborasi lintas komunitas untuk menciptakan solusi lingkungan berbasis teknologi.
Youth Gathering GLOW: Aksi Iklim yang Berakar dari Komunitas
Fikri dan Sari merupakan dua dari 107 anak muda berusia 17–24 tahun yang mengikuti kegiatan National Youth Capacity Enhancement yang diselenggarakan oleh Childfund International in Indonesia dalam program GLOW Ambassador. Acara ini digelar selama tiga hari sejak 16 Juni 2025 di Jakarta, dan melibatkan peserta dari 39 kota/kabupaten di seluruh Indonesia.
Membangun Komitmen dan Konsistensi Anak Muda
Menurut Meinrad Indra Cahya, Senior Program Specialist Childfund Indonesia, tantangan utama dari kampanye ini adalah menjaga konsistensi para peserta dalam menjalankan aksi lingkungan mereka.
“Informasi soal perubahan iklim memang banyak, tapi belum tentu anak muda paham dan mau beraksi. Kita harus dorong mereka dari tahap kesadaran ke aksi nyata,” ujarnya.
Childfund berharap kegiatan ini bisa menjadi jembatan bagi generasi muda untuk menyalurkan ide dan solusi, sekaligus mengatasi keterbatasan ruang pembelajaran, akses, dan dukungan sistemik.
Dari Media Sosial ke Kebijakan: Anak Muda Punya Peran Strategis
Dalam sesi pelatihan, Ivan Tagor Manik, Senior Program Specialist Childfund lainnya, mendorong peserta merancang proyek sederhana yang bisa diterapkan di sekolah, komunitas, atau media sosial.
“Beberapa peserta bahkan sudah mengangkat isu sulitnya akses air di desa mereka. Mereka riset, diskusi, dan memikirkan solusi jangka panjang. Ini luar biasa,” kata Ivan.
Ia menambahkan bahwa anak muda memiliki energi dan pemikiran progresif yang bisa menjadi motor penggerak dalam isu lingkungan.
Aksi Kecil, Dampak Besar
Fikri berharap lebih banyak anak muda mau terlibat dalam gerakan lingkungan. Menurutnya, krisis iklim adalah persoalan nyata yang dampaknya akan langsung dirasakan generasi mereka.
“Kalau kita tidak mulai sekarang, kita sendiri yang akan menerima dampak buruknya,” tegas Fikri.
Senada, Sari juga mengajak generasi muda untuk lebih peduli.
“Kita bisa jadi agen perubahan lingkungan. Ayo kita lebih peduli lagi,” ucapnya.
Melalui program GLOW Ambassador, anak-anak muda Indonesia membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dimulai dari hal besar. Aksi sederhana, bila dilakukan secara konsisten dan bersama-sama, bisa menjadi solusi nyata dalam menghadapi krisis iklim. Karena masa depan bumi adalah tanggung jawab kita bersama—dan generasi muda sedang berdiri di garis depan.***