INVERSI.ID – Dalam rangka memperingati tujuh tahun tragedi bom bunuh diri yang mengguncang Surabaya pada 13 Mei 2018, sekelompok anak muda dari berbagai komunitas lintas agama menggelar aksi refleksi bertajuk “Agama untuk Apa?”. Tahun ini, aksi solidaritas tidak hanya dilakukan lewat diskusi, tetapi diwujudkan dalam bentuk nyata, penanaman pohon di lokasi-lokasi terdampak.
Ketua pelaksana acara, Wicaksana Isa, mengatakan bahwa peringatan tahun ini menjadi momentum untuk bergerak lebih konkret.
“Kami ingin menunjukkan solidaritas tidak hanya dengan simbol atau doa, tapi juga lewat aksi nyata. Penanaman pohon menjadi komitmen kami terhadap kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.
Simbol Harapan di Empat Titik Tragedi
Sebanyak empat pohon akan ditanam di empat titik lokasi yang menjadi sasaran serangan bom tujuh tahun lalu, yaitu:
- Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (Ngagel)
- GKI Diponegoro
- GPPS Sawahan
- Mapolrestabes Surabaya
Keempat lokasi tersebut dipilih karena menjadi pusat duka dalam peristiwa 13 Mei 2018.
“Empat pohon melambangkan empat lokasi tragedi, sekaligus menjadi simbol tumbuhnya harapan baru di tempat yang dulu menjadi saksi luka,” tambah Wicaksana.
Pohon yang ditanam adalah ketapa kencana, dikenal karena akarnya yang kuat dan daunnya yang rindang. Menurut panitia, pohon ini dipilih sebagai lambang ketahanan dan komitmen untuk terus menyemai kebaikan.
Kolaborasi Lintas Komunitas Pemuda
Acara refleksi ini dihadiri berbagai elemen anak muda dari organisasi seperti Pemuda BGI, GUSDURian Surabaya, Idenera, GMKI Surabaya, serta perwakilan pemuda Katolik. Beberapa penyintas juga turut hadir meski memilih tidak dipublikasikan demi menjaga privasi.
Mengangkat tema “Agama untuk Apa?”, kegiatan ini menjadi ruang kontemplasi bersama atas maraknya konflik yang mengatasnamakan agama.
“Kami ingin mengajak semua pihak untuk merefleksikan: apakah agama menyatukan atau justru menciptakan jarak? Agama seharusnya menjadi jembatan perdamaian,” jelas Wicaksana.
Bersama Wujudkan Kota yang Lebih Hijau
Penanaman pohon dijadwalkan berlangsung pada 17 atau 18 Mei 2025, bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya. Salah satu lokasi yang akan dihijaukan adalah TPU Keputih, yang dinilai masih membutuhkan lebih banyak ruang hijau.
Melalui aksi ini, anak muda Surabaya berharap peringatan tragedi tidak berhenti pada seremoni atau duka semata. Mereka ingin menghadirkan makna baru dari peringatan, menumbuhkan, bukan hanya mengenang.***