DALLAS – Spanyol menunjukkan bahwa sepak bola bukan hanya soal kecepatan dan deretan pemain bintang. Dengan permainan kolektif yang rapi, disiplin, dan cerdas secara taktik, La Roja berhasil menundukkan Prancis, 2-0 pada semifinal Piala Dunia di Dallas Stadium, Selasa, (14/7/2026) sekaligus mengamankan tiket menuju final untuk kedua kalinya dalam sejarah mereka.
Sebelum laga dimulai, Prancis lebih banyak dijagokan berkat lini depan bertabur bintang seperti Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, dan Michael Olise. Namun, pasukan Luis de la Fuente membuktikan bahwa organisasi permainan mampu mengalahkan kualitas individu. Gol Mikel Oyarzabal melalui titik penalti dan penyelesaian apik Pedro Porro memastikan langkah Spanyol ke partai puncak.
Mantan striker Liga Inggris Chris Sutton, yang menyaksikan pertandingan untuk BBC Radio 5 Live, menilai Spanyol tampil jauh lebih unggul. “Spanyol menumbangkan Prancis, mereka benar-benar melumat Prancis. Kita sudah banyak memuji Prancis sepanjang turnamen, tetapi mereka disingkirkan begitu saja oleh permainan halus Spanyol. Secara keseluruhan, Spanyol mengungguli mereka dalam permainan dan pertarungan di lapangan.”
Pendapat serupa disampaikan Roy Keane di ITV. “Prancis tidak bermain sebagai sebuah tim. Mereka memiliki individu-individu hebat, tetapi tidak bermain sebagai tim. Sebaliknya, Spanyol tampil luar biasa dan sangat menyenangkan untuk ditonton.”
Di bawah arahan Luis de la Fuente, Spanyol kini mencatat 37 pertandingan internasional tanpa kekalahan, menyamai rekor Italia. Mereka juga menjadi tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mencatat enam clean sheet dalam satu edisi turnamen. Menariknya, saat menghadapi Prancis, Spanyol hanya melepaskan dua tembakan tepat sasaran, dan keduanya berbuah gol.
Keunggulan Spanyol lahir dari dominasi lini tengah yang dihuni Rodri, Fabian Ruiz, dan Dani Olmo. Olmo memainkan peran penting sebagai gelandang serang yang bergerak bebas sehingga menciptakan keunggulan jumlah pemain di lini tengah dan memaksa pertahanan Prancis terus bereaksi.
Mantan bek Prancis Gael Clichy juga mengakui kualitas lawannya. “Ini mungkin bukan tim Spanyol terbaik yang pernah ada, tetapi tim terbaik malam ini memang menang. Mereka mengendalikan setiap fase pertandingan.”
Legenda Prancis Patrick Vieira menambahkan bahwa Spanyol mendominasi “setiap aspek permainan”, sementara Ian Wright menyebut kemenangan itu sebagai bukti bahwa “struktur mengalahkan individualitas.”
Bagi De la Fuente, keberhasilan ini merupakan buah dari proses panjang sejak menangani tim-tim kelompok umur Spanyol. Bersama pemain seperti Rodri, Mikel Merino, Mikel Oyarzabal, Dani Olmo, dan Unai Simon, ia membangun fondasi permainan yang kini membawa Spanyol kembali ke final Piala Dunia.
“Kami telah menghidupkan kembali semangat 2010. Ini adalah hasil dari kerja keras, talenta, pengorbanan, dan keinginan untuk terus menjadi versi terbaik dari diri kami,” ujar De la Fuente.
Spanyol kini menunggu pemenang laga Argentina vs Inggris di partai final. Dengan performa yang semakin matang dan permainan kolektif yang nyaris sempurna, La Roja tampil sebagai salah satu kandidat terkuat untuk mengangkat trofi Piala Dunia.