Suasana malam pembukaan Jakarta International Literary Festival (JILF) 2025 menjadi lebih hidup dan penuh makna lewat penampilan spektakuler band Barasuara yang membuka acara. Festival literasi tahunan tersebut bertema “Homeland in Our Bodies” atau “Tanah Air dalam Tubuh Kita”, diadakan mulai 13 hingga 16 November dan ditempatkan sebagai ruang dialog budaya, sastra, dan musik.
Tahun ini, JILF mengangkat tema yang diilhami oleh puisi “The Last Train Has Stopped” dari penyair Palestina, dengan fragment “Homeland in my body” sebagai dasar inspirasi. Tema ini menyuarakan bahwa tanah air bukan hanya ruang fisik tetapi sesuatu yang berada dalam diri kita — yang menuntut kebebasan dari kolonialisme, penindasan, dan ketidakadilan.
Dalam pidatonya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menegaskan bahwa acara ini menyatukan kita dalam percakapan mendalam soal jati diri bangsa dan manusia. “Masyarakat yang gemar membaca dan berpikir kritis akan melahirkan peradaban yang cerdas dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sebagai pembuka, Barasuara tampil menggelegar dengan membawakan lagu-lagu hits mereka seperti “Bahas Bahasa”, “Pancarona”, “Hitam dan Biru”, “Mengunci Ingatan”, hingga lagu viral “Terbuang dalam Waktu”. Kehadiran mereka menambah dimensi seni pertunjukan ke dalam festival yang utamanya literasi dan diskusi.
Penampilan elektrik Barasuara dianggap sangat cocok untuk membuka festival yang menggabungkan nilai sastra dan musik, sehingga malam pembukaan berjalan dinamis, penuh energi, dan tetap reflektif.
Selain konser malam pembukaan, JILF 2025 juga menghadirkan panel panel diskusi dengan narasumber lintas bidang, termasuk penerjemah Indonesia yang pernah menerjemahkan literatur Palestina seperti Zulfah Nur Halimah, serta penulis buku disabilitas seperti Muhamad Khambali.
Semua program festival terbuka untuk umum secara gratis, dan pengunjung bisa menghadiri talk show, pameran buku, serta performa seni. Festival ini bukan hanya untuk lingkup akademis tetapi juga untuk publik umum yang ingin terlibat dalam wacana budaya dan literasi.
Kenapa Festival Ini Penting untuk Jakarta dan Indonesia
- Memperkuat literasi nasional
Dengan tema dan programnya, JILF mendorong masyarakat untuk membaca, berdialog, dan berpikir kritis—hal yang sangat dibutuhkan untuk pembangunan budaya dan intelektual. - Menautkan sastra dan sekolah kehidupan
Tema “Tanah Air dalam Tubuh Kita” mengajak peserta untuk memahami identitas dan tanggung jawab sosial melalui sastra—bahkan musik Barasuara menjadi jembatan estetika antara bacaan dan pengalaman nyata. - Memperluas jangkauan budaya muda
Dengan menghadirkan band populer seperti Barasuara sebagai pembuka, festival ini dipastikan lebih “mengena” ke generasi muda serta komunitas musik dan literasi yang selama ini berbeda dunia.
Apa yang Bisa Diantisipasi dari JILF 2025
- Talk show dengan penulis dan penerjemah internasional yang membahas isu budaya global dan lokal.
- Performa seni dan musik yang mengeksplorasi tema identitas, tanah air, dan kebebasan.
- Kegiatan interaktif seperti workshop menulis, diskusi komunitas, hingga bazar buku yang relevan dengan tema dasar.
- Program yang menjembatani antara literasi klasik dan budaya pop—contohnya kolaborasi sastra dan musik seperti yang dilakukan Barasuara.
Malam pembukaan JILF 2025 dengan aksi Barasuara mengukuhkan bahwa festival ini bukan hanya soal buku atau diskusi akademik saja, tetapi sebuah festival budaya hybrid yang merangkul musik, sastra, identitas dan masyarakat luas. Tema “Homeland in Our Bodies” hadir sangat relevan di zaman ketika konsep tanah air dan identitas semakin dinamis.
Bagi siapa pun yang mencintai literasi, musik, hingga perbincangan penting tentang bangsa dan manusia, JILF 2025 menjadi ajang yang layak dikunjungi. Pastikan kamu hadir (atau mengikuti secara daring) hingga 16 November dan nikmati semua rangkaian acara yang tak hanya menginspirasi tetapi juga menghubungkan, menggugah dan merayakan keberagaman kita bersama.