By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Bukan Comeback, Float Lanjutkan Perjalanan Musikal Lewat Lagu ‘Dimabuk Cahaya’
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Bukan Comeback, Float Lanjutkan Perjalanan Musikal Lewat Lagu ‘Dimabuk Cahaya’

Musik

Bukan Comeback, Float Lanjutkan Perjalanan Musikal Lewat Lagu ‘Dimabuk Cahaya’

Jack
By
Jack
7 months ago
Share
5 Min Read
Float. (Foto: @float_project)
SHARE

INVERSI.ID – etelah lebih dari dua dekade hadir sebagai salah satu band independen paling berpengaruh di Indonesia, Float kembali mempersembahkan karya baru berjudul ‘Dimabuk Cahaya’. Kehadiran lagu ini menegaskan bahwa perjalanan musikal mereka belum berhenti. Meski banyak yang menganggapnya sebagai tanda kembalinya band tersebut, Float menegaskan bahwa lagu ini bukanlah single comeback, melainkan kelanjutan dari perjalanan panjang yang tetap berpegang pada kejujuran dan esensi bermusik.

Contents
Filosofi ‘Mengapung’ dan Perlawanan Halus Terhadap Tekanan IndustriMakna Lirik, Cahaya yang Menguak, Menyakitkan, tapi Membebaskan

Dengan formasi terbaru yang kini beranggotakan Hotma “Meng” Roni Simamora (vokal/gitar), Timur Segara (drum), David Qlintang (gitar), dan Binsar Tobing (bass), single ini hadir sebagai babak segar tanpa meninggalkan akar identitas Float selama ini.

“Ini bukan comeback, kami cuma meneruskan nafas yang sama, tapi mungkin warnanya beda, lebih segar,” kata Meng.

Bagi Float, musik bukan sekadar medium ekspresi, tetapi ruang untuk menjaga keaslian diri. Dalam perilisan terbaru ini, mereka kembali menghadirkan pendekatan yang organik, lembut, namun tetap kaya rasa—sebuah karakter yang sejak dulu menjadi pembeda Float di tengah ramainya industri musik Indonesia.

Filosofi ‘Mengapung’ dan Perlawanan Halus Terhadap Tekanan Industri

Di tengah industri musik yang semakin cepat bergerak dan sering menuntut musisi mengikuti tren viral, Float memilih jalan berbeda. Sejak awal berdiri, mereka mengidentikkan diri dengan filosofi “mengapung”. Bagi mereka, mengapung berarti berada pada posisi stabil: tidak terlalu tinggi, tidak tenggelam, tetapi tetap ada dan konsisten berkarya.

Binsar menegaskan bahwa mereka tidak merasa perlu untuk masuk dalam hiruk-pikuk tren sesaat demi terlihat relevan.

“Kami tidak perlu ikut ribut agar terlihat relevan. Yang penting jujur dengan karya kami sendiri,” ujarnya.

Filosofi itu pula yang membuat ‘Dimabuk Cahaya’ menjadi bentuk perlawanan halus terhadap algoritma dan tekanan industri. Lagu ini mengajak pendengar untuk berhenti sejenak, masuk ke ruang keheningan, dan mendengar musik dengan cara yang lebih jernih. Pendekatan tersebut menunjukkan komitmen Float untuk tetap setia pada karakter musikal yang mereka bangun sejak awal.

Secara musikal, lagu ini mengusung warna vintage era 70-an, menghadirkan nuansa hangat, natural, dan penuh tekstur. Meng bahkan menyebut bahwa ia terinspirasi dari tema klasik film James Bond bertajuk ‘You Only Live Twice’. Referensi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi aransemen yang lembut namun kuat, menciptakan atmosfer yang menenangkan sekaligus dramatis.

Baca Juga :

Bukan Rp 3,3 Juta, Peserta Magang Hub di Jakarta Digaji Setara UMP: Ini Fakta dan Rinciannya
Geopolitik Energi Memanas, Ini Strategi Bahlil Menjaga Pasokan Nasional

Float tetap mempertahankan musikalitas organik yang khas, namun dengan paduan aransemen yang lebih matang. Hal ini membuat ‘Dimabuk Cahaya’ terasa sebagai lanjutan alami dari karya-karya mereka sebelumnya, sekaligus menghadirkan kesegaran bagi para pendengar lama maupun baru.

Makna Lirik, Cahaya yang Menguak, Menyakitkan, tapi Membebaskan

Selain kekuatan musikal, daya tarik utama ‘Dimabuk Cahaya’ terletak pada liriknya. Lagu ini berbicara tentang kejujuran—baik kepada diri sendiri maupun kepada realitas yang sering ingin disembunyikan. Float menggunakan cahaya sebagai metafora yang tidak hanya lembut, namun juga keras dan “menelanjangi” hal-hal yang selama ini tidak ingin diakui.

Dalam proses kreatifnya, mereka menganggap cahaya sebagai simbol pengetahuan sekaligus iman. Cahaya dapat menyakitkan, terutama ketika mengungkap sisi-sisi yang tidak ingin dihadapi. Namun pada saat yang sama, cahaya juga bersifat membebaskan. Melalui lirik yang sederhana namun dalam, Float mencoba membawa pendengar untuk lebih sadar, lebih jujur, dan lebih dekat pada dirinya sendiri.

David menegaskan bahwa lagu ini memberikan energi baru bagi mereka.

“Yang terpenting, lewat lagu ini kami merasa lebih hidup!” ucapnya.

Kalimat itu menandai semangat Float yang tidak ingin berhenti hanya karena perubahan zaman. Sebaliknya, mereka ingin memastikan bahwa cahaya yang selalu menuntun perjalanan mereka tetap menyala.

‘Dimabuk Cahaya’ juga dirancang sebagai lagu yang memiliki fleksibilitas emosional. Pendengar dapat menikmatinya saat sedang sendiri, ketika berkendara di malam hari, atau ketika ingin meresapi suasana tenang namun tetap menggugah. Kesan meditatif dalam lagu ini menunjukkan bahwa Float tidak sedang mengejar tren, melainkan merawat esensi musikal yang sejak awal menjadi bagian penting dalam identitas mereka.

Pada akhirnya, lagu ini adalah pengingat bahwa perjalanan Float, meski panjang dan penuh dinamika, belum selesai. Ada cahaya yang terus membimbing mereka, dan melalui karya ini mereka berharap pendengar juga dapat merasakan nyala yang sama.

You Might Also Like

Endah Widiastuti Soroti Pentingnya Proteksi Hak Cipta untuk Musisi Indonesia
Tak Mau Ketinggalan Gen Z, Inul Daratista Siap Beradaptasi dengan Perkembangan Musik
Quinn Salman Nyanyikan Soundtrack Garuda Di Dadaku, Lagu Bersama Sang Garuda Penuh Semangat
Nuansa Retro dan Lirik Menyentuh, Ruth Sahanaya Perkenalkan Single Pelangi
Mocca Ciptakan Momen Tak Terlupakan di Java Jazz Festival 2026, Ajak Penonton Naik Panggung
TAGGED:LaguMusik
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article SEA Games 2025 Thailand Resmi Dibuka. Pentas Menuju Tantangan Level Asia
Next Article Kirim Pesan Kuat untuk Bangsa, Busana Adat Sumatera Jadi Ikon Defile Indonesia di SEA Games 2025
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Musik

Andien Bawa Lagu Baru dan Kenangan Kirana di Panggung Java Jazz Festival

3 weeks ago
Musik

Bilal Indrajaya Ajak Penonton Bernostalgia lewat Lagu-Lagu The Beatles di Java Jazz 2026

4 weeks ago
Musik

Slank Sioapkan Kejutan di Panggung Java Jazz 2026

4 weeks ago
Musik

Java Jazz Festival 2026 Hadir dengan Venue Baru dan Konsep Lebih Fresh

4 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index