INVERSI.ID – Diabetes melitus pada anak muda kini menjadi fenomena medis yang mengkhawatirkan. Meski sebelumnya identik dengan usia lanjut, tren terbaru menunjukkan bahwa penyakit ini semakin banyak menyerang generasi produktif berusia 20 hingga 40 tahun. Lonjakan kasus ini tak lepas dari gaya hidup modern yang serba instan, minim gerak, dan kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula.
Data dari Eka Hospital BSD mencatat peningkatan signifikan. Dalam periode Desember 2020 hingga Juni 2025, ada 691 pasien diabetes berusia di bawah 40 tahun. Fakta ini menegaskan bahwa diabetes melitus pada anak muda bukan lagi kasus langka, melainkan fenomena yang nyata dan membutuhkan perhatian serius dari masyarakat maupun tenaga medis.
Pola hidup yang buruk menjadi pemicu utama. Menurut penelitian klinis, diabetes melitus pada anak muda erat kaitannya dengan obesitas, kurang olahraga, konsumsi makanan cepat saji, serta tingginya konsumsi minuman manis seperti boba, soda, hingga kopi susu kekinian. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu komplikasi serius mulai dari hipertensi, kolesterol tinggi, hingga penyakit jantung.
Fakta Medis: Mayoritas Pasien Muda Alami Obesitas
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Eka Hospital Permata Hijau, dr. Pandu Tridana Sakti, mengungkapkan bahwa 84 persen pasien muda yang terdiagnosis diabetes tipe 2 mengalami obesitas. Obesitas terbukti menjadi salah satu faktor risiko terbesar dalam perkembangan penyakit diabetes melitus.
“Selain obesitas, kami juga menemukan bahwa 73 persen pasien memiliki kadar kolesterol tinggi, dan 39 persen mengalami hipertensi. Jadi, kasusnya bukan hanya diabetes tunggal, tapi sudah kompleks dengan penyakit penyerta lain,” ujar Pandu dalam Temu Media Eka Hospital di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Hal ini menunjukkan bahwa gaya hidup tidak sehat di usia muda berdampak ganda. Selain meningkatkan risiko diabetes melitus, kebiasaan buruk ini juga memperbesar kemungkinan munculnya komorbid lain yang memperburuk kualitas hidup.
Mengenal Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2
Secara umum, diabetes melitus terbagi menjadi dua tipe utama. Pertama, diabetes tipe 1 yang dipicu gangguan autoimun, di mana pankreas tidak mampu memproduksi insulin. Kondisi ini biasanya muncul sejak kecil dan sulit dicegah.
Kedua, diabetes tipe 2 yang kini mendominasi kasus di kalangan anak muda. Penyakit ini muncul akibat resistensi insulin, yaitu kondisi di mana tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Pola makan tinggi gula, kurangnya aktivitas fisik, dan berat badan berlebih menjadi faktor utama penyebab diabetes tipe 2.
Menurut dr. Pandu, pola hidup buruk merupakan pemicu paling dominan diabetes melitus.
“Kebiasaan makan fast food, konsumsi minuman manis, serta minimnya asupan sayur dan buah adalah gaya hidup umum anak muda saat ini. Jika tidak segera diubah, diabetes melitus akan muncul lebih cepat dari yang diperkirakan,” tegasnya.
Bagaimana Pola Hidup Buruk Picu Diabetes?
Pola hidup modern yang serba praktis ternyata membawa dampak kesehatan serius. Anak muda cenderung memilih makanan cepat saji karena dinilai lebih hemat waktu. Padahal, makanan jenis ini umumnya tinggi lemak jenuh, garam, dan kalori.
Selain itu, budaya nongkrong dengan minuman kekinian seperti boba, kopi manis, atau minuman bersoda turut mempercepat lonjakan kasus diabetes. Tubuh yang menerima asupan gula berlebih akan kesulitan memprosesnya, sehingga gula darah meningkat drastis. Jika kondisi ini berlangsung lama, resistensi insulin terbentuk, dan pada akhirnya berujung pada diabetes.
Lebih parah lagi, gaya hidup sedentari alias malas bergerak memperparah risiko. Anak muda yang jarang olahraga atau terlalu lama duduk saat bekerja maupun belajar memiliki peluang lebih besar terkena diabetes dibanding mereka yang aktif secara fisik.
Faktor Risiko Lain pada Anak Muda
Selain pola makan dan kurangnya aktivitas fisik, ada sejumlah faktor risiko lain yang membuat anak muda rentan terhadap diabetes tipe 2, di antaranya:
- Genetik dan riwayat keluarga – Jika salah satu orang tua atau saudara kandung menderita diabetes, risiko seseorang meningkat.
- Kualitas tidur buruk – Begadang dan kurang tidur dapat memengaruhi metabolisme tubuh, termasuk sensitivitas insulin.
- Stres kronis – Tekanan akademik, pekerjaan, maupun gaya hidup yang penuh tekanan dapat meningkatkan kadar gula darah.
- Berat badan berlebih – Lemak yang menumpuk di sekitar perut menjadi faktor risiko paling signifikan dalam resistensi insulin.
Pencegahan, Langkah Nyata Sejak Dini
Dr. Pandu menegaskan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Langkah sederhana berikut bisa membantu menurunkan risiko diabetes pada anak muda:
- Jaga pola makan sehat: perbanyak konsumsi sayur, buah, dan biji-bijian. Batasi makanan cepat saji dan minuman manis.
- Rutin olahraga: lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, seperti jogging, bersepeda, atau sekadar berjalan kaki.
- Cek kesehatan rutin: pemeriksaan gula darah dan kolesterol penting dilakukan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan diabetes.
- Kelola stres dengan baik: praktikkan meditasi, yoga, atau hobi yang bisa membantu menurunkan tingkat stres.
- Tidur cukup: tidur 7-8 jam per malam membantu menjaga metabolisme tubuh tetap seimbang.
Dampak Jangka Panjang Jika Tidak Ditangani
Diabetes tipe 2 yang tidak dikendalikan dapat menyebabkan komplikasi serius, bahkan pada usia muda. Beberapa komplikasi yang umum terjadi meliputi:
- Penyakit jantung dan stroke
- Gagal ginjal kronis
- Kerusakan saraf (neuropati)
- Masalah penglihatan hingga kebutaan
- Luka yang sulit sembuh, berisiko amputasi
Kondisi ini tentu berdampak pada kualitas hidup serta produktivitas seseorang. Oleh karena itu, kesadaran sejak dini sangat penting agar anak muda lebih peduli pada kesehatan mereka.
Kasus diabetes melitus pada anak muda menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan di Indonesia. Faktor utama pemicunya adalah pola hidup buruk, seperti konsumsi makanan cepat saji, minuman tinggi gula, obesitas, kurang olahraga, serta kualitas tidur yang buruk.
Meski demikian, penyakit ini bisa dicegah dengan langkah sederhana seperti menjaga berat badan ideal, membatasi konsumsi gula, rutin olahraga, dan memeriksa kesehatan secara berkala. Generasi muda perlu menyadari bahwa kesehatan adalah investasi jangka panjang, sehingga pola hidup sehat harus diterapkan sejak dini.