Di balik aroma kopi yang kuat dan pekat, siapa sangka ada cerita tentang ketangguhan, kebangkitan, dan harapan baru dari lereng Merapi?
Ya, Kopi Merapi, baik jenis Robusta maupun Arabica, kini jadi andalan Kabupaten Sleman nggak cuma karena rasanya yang khas, tapi juga karena nilai perjuangannya.
Pasca erupsi Merapi tahun 2010, banyak yang berubah. Termasuk lahan kopi yang dulu 800 hektar, kini menyusut jadi setengahnya. Tapi bukan Sleman namanya kalau nyerah begitu aja.
“Kopi Merapi harus jadi simbol kebangkitan dan semangat baru,” kata Bupati Sleman, Harda Kiswaya
Dan benar aja budidaya kopi Merapi sekarang makin digencarkan. Areal tanamnya makin diperluas, dari kawasan Cangkringan, Pakem, sampai Turi. Semua demi satu cita-cita: kopi lokal bisa berjaya lagi, dari kaki gunung ke meja-meja kopi seluruh Indonesia.
Lewat dukungan Dana Keistimewaan DIY, khususnya dari Sri Sultan Hamengku Buwono X, pengembangan Kopi Merapi terutama jenis Robusta terus didorong. Nggak cuma soal kuantitas, tapi juga kualitas. yang berfokus pada Meningkatkan produktifitas petani kopi lokal, Meningkatkan cita rasa kopi Merapi biar makin bersaing, Bikin kopi Sleman nggak kalah pamor dari kopi Gayo, Toraja, atau bahkan kopi luar negeri.
Buat anak muda yang demen ngopi, mungkin kamu belum tahu: tiap tegukan Kopi Merapi itu dukungan langsung buat ekonomi kerakyatan di lereng Merapi. Karena ini bukan cuma soal cita rasa, tapi juga keberlanjutan Petani tetap hidup, alam tetap terjaga, dan budaya tetap berjalan.
Jadi, lain kali kamu nongkrong sambil seruput kopi, coba tanya “Ini kopi dari mana, ya?” Kalau jawabannya Kopi Merapi, tahu lah kamu sekarang: itu bukan kopi biasa. Itu rasa yang tumbuh dari abu, disiram semangat, dan dipetik dengan harapan.
Siap dukung lokal sambil nikmatin aroma vulkanik dari kopi kaki Merapi?