inversi.id – Tiap malam 1 Sura, Jogja bukan cuma tentang suasana mistis atau aura spiritual. Ada satu tradisi yang konsisten jadi highlight tiap tahunnya: Mubeng Beteng alias jalan kaki mengelilingi benteng Keraton Jogja. Tahun ini, prosesi itu akan digelar lagi pada Kamis, 26 Juni 2025, bertepatan dengan 1 Muharram 1447 H / 1 Sura Je 1959.
Mubeng Beteng bukan sekadar “malam-malam cari keringat”. Ini adalah bentuk tirakat dan perenungan diri, warisan budaya yang sarat makna.
Kraton Jogja menyebutnya sebagai “Hajad Kawula Dalem”, sebuah momen sakral untuk menyucikan batin dan meresapi perjalanan spiritual di awal tahun Jawa.
Tradisi ini dimulai dengan pembacaan macapat di Pelataran Kamandungan Lor (Keben), dan keberangkatan dilakukan dari Bangsal Ponconiti. Kalau kamu ikut, kamu literally akan berjalan kaki mengelilingi benteng keraton—total sekitar 5 km—dalam diam, larut malam, dengan penuh kesadaran diri.
Satu hal yang bikin tradisi ini beda dari sekadar night walk atau silent walk:
Pesertanya wajib diam. Total. No ngobrol, no bercanda, no TikTok-an.
Yup, selama prosesi, peserta diminta untuk tidak berbicara, menjaga ketertiban, dan memakai busana sopan (no celana pendek, no outfit nyentrik). Ini bukan parade, ini refleksi.
Kabar baiknya: kamu yang bukan abdi dalem juga boleh ikut! Tapi ingat: ini bukan event buat konten aesthetic atau pamer vibes mistis.
Tujuan utamanya tetap tirakat, alias menyepi sambil mikir:
“Sudah sejauh apa kita melangkah? Mau dibawa ke mana hidup ini?”
Di tengah dunia yang serba cepat dan bising, Mubeng Beteng jadi ruang untuk diam sejenak, merenung, dan menyambut tahun baru Jawa dengan hati yang lebih tenang.
Kalau kamu merasa perlu “pause” sebentar dari hiruk-pikuk sosial media dan overthinking harian, mungkin langkah sunyi keliling benteng bisa jadi titik balik kecil dalam hidupmu.
Jadi, siap jalan kaki dalam diam… sambil berdialog sama diri sendiri?