Lembaga Sensor Film (LSF) memastikan tidak ada kebijakan khusus terkait pembatasan genre film yang boleh tayang di bioskop Indonesia menjelang bulan Ramadhan. Meski begitu, fungsi pengawasan terhadap konten film tetap dijalankan sebagaimana mestinya.
“Saya kira semua dibebaskan, itu di luar kewenangan Lembaga Sensor Film. Tapi, kita harus mengawasi, mencatat dan melaporkan,” kata Wakil Ketua LSF Noorca M. Massardi dalam sesi temu awak media di Jakarta, Rabu.
Noorca menegaskan, seluruh rumah produksi tetap memiliki kesempatan yang sama untuk mengajukan film mereka, termasuk di momen Ramadhan. Namun, ia mengingatkan bahwa pada periode tersebut masyarakat cenderung lebih selektif dalam memilih tontonan.
“Masyarakat yang lebih sensitif terhadap hal-hal yang tidak boleh ditayangkan di bulan Ramadhan. Saya kira lembaga penyiaran televisi dan juga LSF juga menyadari itu,” katanya.
Momentum Ramadhan dan Pasca Lebaran Dinilai Ideal untuk Film Nasional
Pada kesempatan yang sama, Ketua LSF Naswardi menilai periode libur setelah Ramadhan merupakan waktu yang strategis bagi industri perfilman nasional. Ia meyakini minat masyarakat untuk menonton film di bioskop meningkat signifikan pada masa tersebut.
Karena itu, Naswardi mendorong pengelola bioskop dan rumah produksi menghadirkan film dengan beragam klasifikasi usia agar dapat menjangkau seluruh segmen penonton.
“Artinya kalau penonton ingin nonton bareng anaknya itu ada alternatif SU, kalau remaja ingin nonton ada film dengan klasifikasi 13, atau kalau dewasa aja ada film 17 atau dewasa 21 gitu. Jadi jangan hanya terfokus kepada satu klasifikasi. Tetapi semua keinginan penonton yang ingin nonton bareng keluarga di bulan Ramadhan ada alternatif juga untuk film-film semua umur,” tutup Naswardi.
Industri Film Indonesia Kian Menguat di Dalam dan Luar Negeri
Sebelumnya, Kementerian Kebudayaan mencatat jumlah penonton film nasional mencapai 80,270 juta orang. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai capaian tersebut menjadi indikator kuat bahwa film Indonesia semakin diterima di negeri sendiri.
“Tahun lalu juga sekitar itu tapi di bawahnya sedikit, ya. Jadi, paling tidak penonton Indonesia stabil ini menunjukkan film Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata dia dalam taklimat media “Refleksi 2025, Kebijakan 2026” di Jakarta, Kamis (8/12).
Selain sukses secara komersial, film Indonesia juga menorehkan prestasi di panggung internasional. Film “Pangku” berhasil mencuri perhatian di Busan International Film Festival, sementara film animasi “Jumbo” mencetak rekor sebagai film terlaris di dalam negeri sepanjang tahun lalu.