INVERSI.ID – Wisudawan termuda UGM tahun ini berhasil menarik perhatian publik. Duiddo Imani Muhammad, atau akrab disapa Oi, resmi meraih gelar sarjana hukum dari Universitas Gadjah Mada pada usia 20 tahun. Pencapaian ini terbilang langka, mengingat rata-rata mahasiswa program S1 di UGM lulus pada usia sekitar 22 tahun 6 bulan 15 hari.
Wisudawan termuda UGM ini bukan hanya menyelesaikan studi lebih cepat, tetapi juga mampu meraih IPK 3,64. Ia menyelesaikan pendidikannya hanya dalam waktu 3 tahun 7 bulan, sebuah capaian yang membuatnya menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia.
Keberhasilan wisudawan termuda UGM ini tentu tidak datang begitu saja. Ada perencanaan, kerja keras, dan strategi yang dijalankan Oi sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Lalu, bagaimana perjalanan Oi hingga bisa meraih gelar sarjana di usia muda?
Merancang Karier Sejak SMA
Sebelum bekuliah di UGM atau lebih tepatnya sejak SMA, Oi sudah memiliki visi yang jelas tentang karier masa depannya. Ia menyadari bahwa masa remaja adalah waktu yang tepat untuk menentukan arah hidup. Ketertarikannya pada dunia hukum berawal dari lingkungan keluarga yang juga memiliki latar belakang serupa.
Oi kemudian memantapkan diri untuk menjadi notaris. Untuk mempercepat jalannya menuju cita-cita tersebut, ia memilih jalur akselerasi saat SMA, sehingga hanya menempuh pendidikan selama dua tahun.
“Saya masuk SD di umur 5 tahun 7 bulan dan ikut akselerasi pas SMA lewat program Kelompok Belajar Cepat,” jelasnya.
Langkah awal ini menjadi pondasi penting yang membuatnya bisa lulus lebih cepat dari teman-teman seangkatannya. Perencanaan matang sejak usia remaja menjadi salah satu kunci utama keberhasilan Oi.
Serius Menjadi Notaris
Keseriusan Oi dalam meniti jalan menjadi notaris terlihat dari berbagai langkah konkret yang ia ambil. Salah satunya adalah mengikuti magang di kantor notaris untuk memahami praktik secara langsung.
Selain itu, Oi juga sempat menerbitkan artikel jurnal yang membahas kekosongan hukum dalam pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) elektronik. Dalam tulisannya, ia menyoroti masalah ketika notaris yang seharusnya berhadapan langsung dengan klien, kini harus menyesuaikan diri dengan praktik digital.
“Di undang-undangnya seperti itu. Sedangkan RUPS ini kan sudah bisa dilaksanakan secara elektronik sehingga ada tabrakan. Ada kekosongan hukum mengenai pengaturan notaris sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta tapi harus fisik,” ujarnya.
Langkah akademis dan praktis ini menunjukkan bahwa Oi tidak hanya sekadar mengejar gelar, tetapi juga benar-benar memahami bidang yang ia tekuni.
Pengalaman Organisasi dan Penyusunan Skripsi
Selain fokus pada akademik, Oi juga aktif berorganisasi. Ia tergabung dalam organisasi kemahasiswaan Fakultas Hukum UGM, yaitu DEMA Justicia. Dari organisasi ini, Oi mendapatkan pengalaman kepemimpinan dan belajar bagaimana menjadi mahasiswa yang rendah hati sekaligus dekat dengan masyarakat.
Pengalaman berorganisasi ini ternyata sangat membantu ketika Oi harus menyelesaikan skripsinya. Ia mengambil topik relevan dengan isu sosial, yaitu perubahan status tanah Surat Ijo menjadi Hak Guna Bangunan (HGB) di Kota Surabaya.
Dalam penelitiannya, Oi menganalisis apakah tanah-tanah milik pemerintah kota yang ditempati masyarakat bisa dialihkan statusnya agar memberikan kepastian hukum. Meskipun menghadapi berbagai kendala, Oi berhasil menyusun strategi penelitian dengan baik berkat keterampilan manajemen keputusan yang ia peroleh dari organisasi.
“Jadi manajemen keputusan itu bakal ngaruh ternyata,” tuturnya.
Pesan untuk Generasi Muda
Keberhasilan Oi tentu menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama anak muda yang tengah berjuang meraih mimpi. Namun, Oi mengingatkan bahwa kesuksesan setiap orang punya jalannya masing-masing.
Ia menekankan pentingnya untuk tidak terjebak dalam fenomena FOMO (fear of missing out). Menurutnya, anak muda harus fokus pada diri sendiri, menjaga kesehatan mental, fisik, dan pikiran.
“Terus semangat, pantang menyerah, dan jangan lupa adaptif,” pesannya.
Pesan sederhana ini mencerminkan filosofi hidup Oi: tidak perlu terburu-buru membandingkan diri dengan orang lain, karena setiap orang memiliki waktunya masing-masing.
Inspirasi bagi Generasi Z
Kisah wisudawan termuda UGM ini memberi pelajaran penting bagi generasi Z. Pertama, kesuksesan membutuhkan perencanaan sejak dini. Kedua, tekad yang kuat harus dibarengi dengan langkah nyata, seperti magang, riset, dan aktif berorganisasi. Ketiga, menjaga keseimbangan antara akademik dan kehidupan sosial sangatlah penting untuk mendukung perjalanan panjang menuju cita-cita.
Oi membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk mencapai prestasi besar. Dengan strategi tepat, semangat pantang menyerah, dan sikap adaptif, siapa pun bisa mewujudkan mimpinya.
Cerita perjalanan Oi sebagai wisudawan termuda UGM menjadi bukti nyata bahwa perencanaan sejak dini, kerja keras, dan keberanian mengambil langkah berbeda bisa membuka jalan menuju prestasi luar biasa.
Generasi muda Indonesia bisa belajar banyak dari kisah ini, mulai dari pentingnya memiliki visi karier sejak SMA, hingga keberanian mengejar mimpi meski penuh tantangan. Oi adalah cermin anak muda inspiratif yang mampu menggabungkan kecerdasan akademik, keaktifan organisasi, dan mental tangguh dalam mencapai tujuan hidup.