Gelaran Jazz Goes to Campus 2025 (JGTC 2025) yang digelar pada Minggu malam, 9 November 2025 di kampus Universitas Indonesia Depok sukses menutup rangkaian acara musikalnya dengan tampilan penuh energi dari sang headline act, Tulus. Lampu panggung warna-warni menyinari area Pertamina Stage dan ribuan penonton tumplek-sempil meramaikan malam yang menjadi puncak dari festival musik veteran ini.
Jazz Goes to Campus telah berlangsung sejak tahun 1977 sebagai salah satu festival musik kampus tertua di Tanah Air. Untuk edisi 2025, tema dan line-up yang disuguhkan menghadirkan kombinasi musisi legendaris dan generasi muda, menjadikan festival ini relevan bagi penggemar berbagai usia.
Penampilan Tulus sebagai penutup menjadi momen klimaks. Sebelum tampil, ia bersapa hangat kepada penonton dan menjanjikan malam yang istimewa. “Selamat malam, apa kabar? Semoga semua bahagia. Malam ini tentu akan menjadi malam istimewa karena saya akan menyanyikan lagu-lagu yang baru saya siapkan tadi siang,” ucapnya.
Tulus membuka malam dengan lagu “Lagu untuk Matahari”, memancing sorakan penonton yang mayoritas anak muda. Kemudian ia melanjutkan dengan “Kelana”, yang membawa nuansa reflektif tentang pencarian jati diri dan makna hidup.
Salah satu momen paling menyentuh terjadi ketika ia membawakan “Monokrom”. Dengan video grafis hitam-putih di latar, penonton terdengar bernyanyi lirih bersama. Tulus kemudian menambahkan lagu-lagu populer lainnya seperti “Interaksi”, “Tergila-gila”, “Labirin”, dan “Adu Rayu”. Suasana makin riang ketika lagu “Jatuh Suka” dilantunkan, dilanjutkan dengan “Sepatu” yang mengajak seluruh penonton bernyanyi lantang.
Puncak penampilan terjadi dengan lagu “Tujuh Belas”, yang dipadu dengan tayangan timelapse wajah-wajah muda dari berbagai generasi di layar besar panggung, memunculkan nostalgia dan keterhubungan antara masa lalu dan masa depan.
1. Koneksi Antar Generasi
Tulus berhasil menjembatani generasi lama dan penggemar muda. Lirik-liriknya yang relatable dan aransemen yang rapi membuat penonton dari berbagai usia merasa terhubung.
2. Festival Sebagai Wadah Kreativitas Kampus dan Anak Muda
Lahir dari kampus, JGTC tetap menjadi panggung yang relevan bagi musisi, kreator, dan penggemar. Kehadiran musisi seperti Tulus menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar nostalgia, tapi juga tempat aktor musik masa kini membuktikan diri.
3. Produksi Panggung yang Matang
Lampu, video latar, pilihan lagu hingga interaksi dengan penonton menunjukkan bahwa festival ini telah mengemas penutupan secara profesional—bukan hanya konser kampus biasa.
Penutupan yang sukses ini memberi sinyal penting bahwa festival kampus masih punya daya tarik besar.
- Penonton: Pengalaman malam itu bisa memicu lebih banyak generasi muda tertarik ke jazz atau bahkan musik live secara umum.
- Festival: Panitia JGTC bisa menggunakan momen ini untuk meningkatkan kualitas produksi, kolaborasi, dan program yang lebih inklusif terhadap genre dan komunitas.
- Industri musik lokal: Penampilan Tulus di festival kampus besar menunjukkan bahwa musisi Indonesia tetap mampu menghadirkan show yang matang, dan bisa menjadi rujukan bagi musisi lainnya.
Aksi panggung Tulus di JGTC 2025 bukan hanya penutup biasa dari sebuah festival, melainkan malam yang penuh makna dan energi. Dari lagu pembuka hingga lagu penutup, dari lampu hingga interaksi penonton, semuanya bersatu menciptakan suasana yang hangat, energik, dan memorable.
Bagi penggemar musik, khususnya yang menyukai jazz, pop-jazz dan festival live, malam itu menjadi salah satu momen yang patut diingat. Bagi penyelenggara dan kampus, ini menjadi bukti bahwa konser kampus besar tetap relevan dan punya potensi besar. Semoga festival-festival ke depan bisa terus mempertahankan kualitas dan semangat yang sama, dan malam seperti itu bukan hanya menjadi kenangan, tetapi juga pengingat bahwa musik punya kekuatan untuk menyatukan dan menginspirasi.
Baca Juga : https://inversi.id/ngayogjazz-2025-festival-musik-penuh-cerita-dan-canda/