JAKARTA — Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang blak-blakan menyebut Indonesia sebentar lagi tidak lagi impor BBM mulai diterjemahkan ke dalam langkah konkret di lapangan. Pemerintah kini mempercepat dua proyek utama sekaligus, yakni implementasi Biodiesel B50 dan pengoperasian penuh kilang RDMP Balikpapan sebagai fondasi menuju swasembada energi nasional.
Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia harus berdaulat atas sumber energinya sendiri dan tidak terus bergantung pada impor BBM dari luar negeri. Saat meninjau Kampung Nelayan Merah Putih di Gorontalo, Senin, (11/5) Presiden menegaskan keyakinannya bahwa Indonesia akan segera mencapai swasembada BBM.
“Dan sebentar lagi kita swasembada BBM, kita tidak akan impor BBM lagi saudara-saudara,” kata Prabowo.
Komando itu kini diterjemahkan melalui langkah percepatan di sektor energi. Pemerintah lewat Kementerian ESDM mempercepat implementasi mandatori Biodiesel B50 yang ditargetkan mulai berjalan nasional pada 1 Juli 2026.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan kebijakan tersebut menjadi bagian penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, khususnya solar. Melalui program ini, campuran 50 persen bahan bakar nabati berbasis sawit akan digunakan dalam solar nasional.
“Kalau dia sesuai schedule, enggak ada soal, 1 Juli penerapannya,” ujar Bahlil terkait implementasi B50.
Saat ini pemerintah masih melakukan serangkaian pengujian teknis pada berbagai moda transportasi, mulai dari kapal, alat berat hingga kereta api guna memastikan implementasi berjalan optimal.
Langkah percepatan B50 itu berjalan paralel dengan pengoperasian proyek strategis nasional Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Kilang tersebut diproyeksikan menjadi kunci utama penghentian impor solar Indonesia mulai 2026.
Menurut Bahlil, jika RDMP Balikpapan beroperasi penuh, Indonesia bahkan berpotensi surplus solar sekitar 3 hingga 4 juta kiloliter per tahun.
“Solar nanti tahun 2026 itu, kalau RDMP kita sudah jadi, kita akan surplus kurang lebih sekitar 3 sampai 4 juta (kiloliter). Jadi, agenda kami tahun 2026 itu tidak ada impor Solar lagi,” ujar Bahlil.
Kombinasi antara peningkatan kapasitas produksi kilang nasional dan pemanfaatan biodiesel berbasis sawit dinilai menjadi strategi besar pemerintah untuk membangun kemandirian energi nasional. Dengan skema tersebut, ketergantungan terhadap gejolak harga minyak dunia perlahan ditekan karena kebutuhan energi dipenuhi dari produksi domestik.