INVERSI.ID – Shell Indonesia menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam menggelar roadshow Shell LiveWire Energy Solutions pada Rabu, 23 April 2025, di Fakultas Teknik UGM. Kegiatan ini mengangkat tema “Inovasi Teknologi untuk Energi Terbarukan” dan menghadirkan para pakar teknik serta pelaku industri energi untuk membahas tantangan dan peluang dalam transisi menuju energi bersih.
Program ini menjadi bagian dari upaya membangun sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri, seiring dengan target Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission pada 2050 atau 2060.
Potensi Energi Terbarukan di Indonesia Masih Belum Maksimal
Direktur Kemitraan dan Relasi Global UGM, Prof. Dr. Puji Astuti, S.Si., M.Sc., Apt., menyambut baik inisiatif kolaborasi ini. Ia menyoroti bahwa Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan potensi energi terbarukan yang telah diakui dunia, namun pemanfaatannya masih jauh dari maksimal.
“Transisi energi tidak hanya membuka peluang bisnis, tapi juga menjadi langkah menuju keberlanjutan,” kata Puji dalam sambutannya.
Tantangan Transisi Energi: Biaya dan Kesiapan Infrastruktur
Guru Besar Teknik Industri UGM, Prof. Ir. Alva Edy Tontowi, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menekankan bahwa transisi energi membutuhkan investasi besar. Ia memaparkan bahwa dana yang dibutuhkan setara dengan dua kali anggaran sektor kesehatan nasional.
“Sebanyak 118 proyek batu bara akan ditutup pada 2040. Sementara kebutuhan energi terus naik. Artinya, kita harus mulai dari sekarang dengan inovasi-inovasi yang konkret,” ujar Alva.
Ia menyebutkan tiga sumber energi terbarukan yang paling potensial di Indonesia: tenaga air (hydroelectric), panas bumi (geothermal), dan tenaga surya. Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa energi surya masih terkendala mahalnya biaya produksi.
“Inovasi bukan hanya soal ide, tapi bagaimana menjadikannya produk yang menjawab kebutuhan masyarakat dengan spesifikasi yang tepat,” tambahnya.
Peran Generasi Muda dalam Mendorong Inovasi Energi
General Manager B2B Lubricant Shell Indonesia, Farishadi Rukandi, menyatakan bahwa transisi energi merupakan keniscayaan global. Dengan jumlah penduduk dunia yang terus bertambah, kebutuhan energi juga meningkat tajam.
“Generasi muda perlu menjadi pionir inovasi. Asia adalah pasar besar dan riset jadi kunci untuk mendukung pertumbuhan teknologi yang berkelanjutan,” jelasnya.
Farishadi menekankan pentingnya membangun ekosistem inovasi yang kuat. Menurutnya, inovasi tidak hanya sebatas produk, tapi juga mencakup model bisnis dan pola kerja sama lintas sektor.
“Proses pengembangan produk selalu melalui trial and error. Karena itu, kolaborasi multisektor menjadi faktor penting agar inovasi bisa beradaptasi dan berkelanjutan,” tutupnya.***