INVERSI.ID – Media sosial dan dinamika dunia kerja yang terus berubah telah membentuk pola pikir baru bagi generasi muda, terutama Gen Z. Sebuah laporan terbaru bertajuk Gen Z Career Prospects 2025 mengungkap fakta mencengangkan: sebanyak satu dari empat pekerja Gen Z menyesal pernah menempuh pendidikan tinggi.
Laporan yang disusun berdasarkan survei oleh Pollfish ini menunjukkan bagaimana generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 kini mulai mempertanyakan nilai dari gelar pendidikan yang mereka tempuh. Sebagian besar dari mereka menyadari bahwa gelar akademis tidak selalu berbanding lurus dengan peluang karier yang menjanjikan, apalagi di era digital yang membuka banyak pintu kesuksesan tanpa harus kuliah formal.
Survei dilakukan antara 24 April hingga 10 Mei 2025 terhadap 1.000 pekerja Gen Z purnawaktu di Amerika Serikat. Dengan metodologi Random Device Engagement (RDE), survei ini memastikan data yang representatif dari berbagai kalangan gender, usia, dan latar belakang sosial.
Gelar Tak Lagi Jadi Jaminan Sukses
Dalam laporan tersebut, hampir 1 dari 5 responden Gen Z menyatakan bahwa pendidikan mereka tidak memiliki kontribusi signifikan terhadap karier yang mereka jalani saat ini. Bahkan, 23% atau hampir seperempat dari mereka mengaku menyesal telah menempuh pendidikan tinggi.
Ketika ditanya bagaimana mereka akan menjalani pendidikan jika diberi kesempatan mengulang, hasilnya beragam:
- 32% mengaku puas dengan jalur pendidikan yang telah diambil dan tidak akan mengubahnya.
- 22% ingin memilih gelar di bidang yang lebih menjanjikan secara ekonomi, seperti teknologi, keuangan, teknik, atau kesehatan.
- 13% ingin mempelajari keterampilan atau profesi yang tidak membutuhkan gelar akademis.
- 12% menyatakan ingin mengambil jurusan berdasarkan minat pribadi, seperti seni, musik, atau desain.
- 11% ingin mengambil jurusan yang sama, tetapi dari institusi yang lebih murah atau tidak terlalu bergengsi.
- 10% memilih fokus membangun bisnis atau menjadi wirausahawan.
Temuan ini menjadi sinyal bahwa pandangan terhadap pendidikan formal semakin bergeser. Generasi muda lebih pragmatis dalam melihat masa depan mereka—mereka ingin hasil yang konkret dan relevan dengan perkembangan zaman.
Laki-Laki Gen Z Lebih Banyak yang Menyesal Kuliah
Menariknya, laporan ini juga mengungkapkan adanya perbedaan sikap antara laki-laki dan perempuan Gen Z terhadap pendidikan tinggi. Laki-laki cenderung memiliki tingkat penyesalan yang lebih tinggi dibandingkan perempuan.
- 28% laki-laki Gen Z mengaku menyesal kuliah, dibandingkan dengan 19% perempuan.
- 14% laki-laki mengatakan lebih memilih belajar keterampilan atau profesi yang tak memerlukan gelar, dibanding 12% perempuan.
- 14% laki-laki juga menyatakan lebih tertarik untuk fokus pada kewirausahaan, sedangkan hanya 8% perempuan yang berpandangan sama.
- Di sisi lain, 32% perempuan merasa puas dengan pilihan pendidikannya, dibandingkan dengan hanya 26% laki-laki.
Perbedaan ini bisa jadi mencerminkan tekanan sosial dan ekspektasi yang berbeda terhadap laki-laki dan perempuan, terutama dalam hal keberhasilan finansial dan status pekerjaan. Laki-laki mungkin merasa lebih terdesak untuk “cepat sukses”, sehingga cenderung kecewa bila pendidikan tinggi tidak segera menghasilkan keuntungan konkret.
Pendidikan vs Realita Dunia Kerja
Tren penyesalan ini sebenarnya bukan tentang penolakan terhadap pendidikan, melainkan bentuk keprihatinan terhadap ketidaksesuaian antara pendidikan yang ditempuh dengan kebutuhan nyata dunia kerja.
Di era yang serba cepat dan digital seperti sekarang, banyak peluang karier yang bisa diraih tanpa harus melalui jalur kuliah konvensional. Platform seperti YouTube, TikTok, marketplace digital, bahkan kursus daring seperti Coursera dan Skillshare telah membuka jalan alternatif bagi siapa saja yang ingin sukses secara mandiri.
Meski demikian, pendidikan tetaplah penting. Gelar akademis masih memiliki nilai, terutama dalam bidang-bidang seperti kedokteran, hukum, atau teknik. Namun, yang perlu disadari adalah bahwa pendidikan bukan satu-satunya jalan. Ada banyak cara untuk belajar, berkembang, dan meraih sukses.
Saatnya Meredefinisi Arti Belajar
Temuan dalam laporan ini harus menjadi refleksi bagi institusi pendidikan, perusahaan, bahkan orang tua. Pendidikan tinggi tidak boleh lagi hanya fokus pada teori dan hafalan, tapi harus mulai membuka ruang bagi praktik, kewirausahaan, dan pengembangan soft skill yang relevan dengan zaman.
Bagi anak muda Gen Z, penting untuk tetap semangat belajar, namun juga cerdas dalam memilih jalur pendidikan yang benar-benar sesuai dengan tujuan hidup dan kondisi pribadi. Sukses bukan hanya milik mereka yang kuliah di universitas ternama, tapi juga milik mereka yang berani mencoba, gagal, belajar lagi, dan bangkit.
Zaman sudah berubah. Dan saatnya kita mengubah cara pandang kita terhadap arti dari “pendidikan” itu sendiri.