INVERSI.ID – Sebanyak 19 anak muda dari berbagai kota di Indonesia tampil dalam panel Ashoka Young Changemaker (AYC) 2025. Dengan rentang usia 12 hingga 20 tahun, mereka mempresentasikan berbagai inisiatif dan gerakan perubahan untuk menjawab tantangan sosial dan lingkungan di hadapan dewan juri.
Direktur Regional Ashoka untuk Asia Tenggara, Nani Zulminarni, menjelaskan bahwa keterlibatan generasi muda dalam perubahan sosial seharusnya dimulai sejak dini, bukan setelah lulus SMA atau perguruan tinggi.
“Di Ashoka, kami percaya orang muda perlu diberi ruang untuk mempraktikkan perubahan di komunitas mereka sejak awal, sehingga mereka menemukan kekuatan dalam dirinya,” ujar Nani di Jakarta, Jumat (26/4).
Ashoka Young Changemaker merupakan jaringan global anak muda berusia 12-20 tahun yang telah menemukan kekuatan mereka untuk menciptakan perubahan positif. Mereka membentuk tim yang dipimpin oleh generasi muda dan meluncurkan solusi nyata terhadap berbagai isu di sekitarnya.
Director William dan Lily Foundation, Michele Soeryadjaya, yang menjadi salah satu dari 12 panelis AYC 2025, mengaku terkesan dengan semangat para finalis.
“Saya merasa optimistis tentang masa depan Indonesia setelah bertemu dengan anak-anak muda ini. Mereka sangat inspiratif dan berani mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan permasalahan,” ujar Michele.
Marketing Communication Manager Suzana Radio Network Surabaya, Windy Goestiana, juga mengungkapkan kekagumannya terhadap inovasi yang ditunjukkan para finalis.
“Ide-ide mereka luar biasa. Bahkan, presentasi mereka setara dengan mahasiswa S1. Mereka mampu meyakinkan kami bahwa inisiatif ini berkelanjutan dan berpotensi besar untuk masa depan Indonesia,” kata Windy.
Program Ashoka Young Changemaker 2025 sebelumnya melakukan seleksi awal terhadap 356 pelamar muda. Setelah melalui tahap wawancara nasional, akhirnya terpilih 19 kandidat terbaik.
Inisiatif Anak Muda untuk Perubahan
Salah satu finalis adalah Kanaya M. (19) dari Muara Bungo, Jambi, dengan gerakan “Edukasi Berjalan” yang mengajarkan anak-anak di komunitas marjinal tentang hak asasi manusia dan berpikir kritis terhadap kesenjangan sosial.
Dari Bandung, Rana A. (16) menggagas “Jabar Tapa”, sebuah gerakan edukasi dan advokasi kesiapsiagaan bencana, khususnya gempa dan longsor, untuk remaja di Jawa Barat.
Finalis termuda, Hanna A. (12) dari Jakarta, memperkenalkan “Jadikan Buku Teman Baikmu”, gerakan untuk menumbuhkan minat baca anak-anak lewat aktivitas kreatif seperti berburu harta karun dan sahabat pena.
Dari Surabaya, Febriand V. (20) membawa inisiatif “Black Screen”, sebuah platform kreatif bagi remaja penyandang disabilitas untuk membuat film yang mengangkat isu-isu yang mereka alami.
Selain mereka, inilah para finalis Ashoka Young Changemaker 2025 lainnya beserta inisiatif yang mereka usung:
- Andhika S. (15/Generasi Inspiratif Muda/Jambi)
- Anisa M. (20/Inovasi Kata Karsa/Kubu Raya, Kalimantan Barat)
- Avhinza P. (17/Sekolah Damai/Bandar Lampung, Lampung)
- Chelsea G. (19/Eco Oil/Surabaya, Jawa Timur)
- Danendra F. (18/Panoramind/Boyolali, Jawa Tengah)
- Grestine D. (19/PARTY/Semarang, Jawa Tengah)
- Izzudin A. (18/Langgar Mu/Kediri, Jawa Timur)
- Maylyn F. (16/Educe/Bandung, Jawa Barat)
- Michelle K. (17/Book Buddies/Bekasi, Jawa Barat)
- Nadia M. (19/Daur Karbon/Yogyakarta)
- Putri L. (18/Walice/Bandung, Jawa Barat)
- Reva F. (14/Intensifikasi Bunga Telang/Surabaya)
- Salwa K. (14/Readocil & Grandung/Jakarta)
- Tsani R. (17/Green Circle Sustainability/Yogyakarta)
- Yugo S. (16/Buta Digital Indonesia/Surabaya)
Dengan beragam inisiatif tersebut, para finalis diharapkan mampu memimpin gerakan “Everyone a Changemaker”, yakni mendorong semua orang, terutama generasi muda, untuk berani bersuara dan aktif berkontribusi dalam perubahan sosial.***