INVERSI.ID – Setiap akhir tahun, jalan tol di sekitar Jabodetabek selalu berubah jadi lautan kendaraan. Tradisi mudik mini saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) memang sudah jadi rutinitas masyarakat urban. Tapi untuk musim libur Nataru 2025 dan Tahun Baru 2026 mendatang, Korlantas Polri memprediksi angka pergerakannya bakal lebih besar lagi. Diperkirakan hampir 3 juta kendaraan akan meninggalkan Jakarta hanya lewat jalur tol, dan ini jadi tantangan besar buat rekayasa lalu lintas agar perjalanan tetap aman dan lancar.
Prediksi tersebut disampaikan langsung oleh Kakorlantas Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho saat rapat dengan Komisi III DPR RI. Dengan pergerakan kendaraan setinggi ini, Korlantas harus menyiapkan skenario rekayasa lalin yang responsif, mulai dari contra flow sampai one way. Perhitungan harus dibuat seakurat mungkin karena kondisi di lapangan sering berubah dinamis, apalagi saat puncak arus mudik atau balik terjadi bersamaan dengan padatnya tempat wisata.
Supaya lebih gampang dipahami, berikut penjelasan lengkap tentang proyeksi pergerakan kendaraan, rute-rute yang bakal padat, hingga bagaimana Korlantas mengatur strategi agar masyarakat bisa berlibur dengan lebih nyaman.
Lonjakan Arus Keluar Jakarta Diprediksi Capai 2,9 Juta Kendaraan
Kakorlantas Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho menjelaskan bahwa pergerakan kendaraan dari Jakarta saat momen libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 diproyeksikan mencapai lebih dari 2,9 juta unit hanya di jalur tol.
“Khusus jalur tol, kami laporkan volume lalu lintas keluar Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 proyeksinya bahwa 2.915.318 kendaraan,” terangnya.
Jika dibandingkan dengan hari biasa, angka tersebut meningkat 12,2 persen dari kondisi lalu lintas normal. Kenaikan ini juga terlihat jika dibandingkan dengan musim libur Nataru 2024 yang lalu, di mana volume kendaraan tahun ini diprediksi naik sebesar 0,9 persen. Meski tidak melonjak drastis, angka tersebut tetap memberi tekanan besar kepada infrastruktur jalan tol.
Menurut Agus, jumlah ini masih bisa dikendalikan dengan pengaturan rekayasa lalu lintas. Ia menyebutkan bahwa pola seperti contra flow atau one way mungkin diterapkan jika diperlukan.
“Jadi, masih bisa kami kendalikan apakah nanti parameternya itu harus kami contra flow atau kami buat one way,” katanya.
Prediksi pergerakan kendaraan ini tidak hanya dipakai untuk menentukan kebijakan lalu lintas, tapi juga untuk memetakan potensi risiko kepadatan di titik-titik tertentu. Korlantas melakukan traffic counting secara berkala untuk memantau efek perpindahan kendaraan terhadap titik-titik arteri yang terhubung dengan jalan tol.
Titik-Titik Rawan yang Diprediksi Padat Selama Libur Nataru
Dengan jumlah kendaraan sebanyak itu, beberapa gerbang tol diprediksi bakal jadi pusat kepadatan. Dari total 2,9 juta kendaraan yang keluar Jakarta, sekitar 880 ribu unit diperkirakan bergerak ke arah barat melalui Gerbang Tol Cikupa. Sementara itu 690 ribu kendaraan akan menuju timur lewat GT Cikampek Utama, jalur yang biasanya menjadi pusat arus mudik dan arus balik terbesar. Sisanya, sekitar 672 ribu kendaraan akan mengarah ke selatan melalui GT Kalihurip Utama.
Selain itu, titik lain yang diprediksi bakal jadi pusat arus adalah KM 66 Cikampek. Menurut perhitungan Korlantas, sekitar 1.363.409 kendaraan akan melewati titik ini. KM 66 memang dikenal sebagai salah satu area pertemuan arus dengan beban lalu lintas tinggi, sehingga kebijakan seperti buka-tutup jalur, pemasangan rambu tambahan, hingga koordinasi real-time dengan operator tol mungkin diperlukan.
Agus menegaskan bahwa traffic counting sangat penting untuk menentukan mana titik yang harus diprioritaskan.
“Traffic counting ini sangat menentukan kondisi arus lalu lintas di jalan tol termasuk beban di arteri ketika nanti kita lakukan one way. Antara tol dan arteri ini harus seimbang sehingga cara bertindaknya harus ada perhitungan dengan parameternya,” jelasnya.
Jika volume kendaraan terlalu besar di satu titik, jalur arteri bisa ikut terdampak, membuat perjalanan makin padat. Oleh karena itu, Korlantas menyiapkan skenario terintegrasi antara jalan tol dan jalur arteri.
Selain rute utama menuju luar kota, Korlantas juga mewaspadai potensi penumpukan kendaraan di daerah tujuan wisata. Tempat-tempat seperti Bogor, Puncak, Bandung, hingga kawasan pantai di Banten biasanya jadi titik favorit untuk liburan akhir tahun. Bahkan di Jakarta sendiri, beberapa tempat wisata seperti Ancol sudah diprediksi akan dipadati pengunjung selama libur Tahun Baru.
“Kalau di Jakarta mungkin Ancol juga nanti akan terjadi tumpukan massa dan lain sebagainya. Ini sudah kami prediksikan sehingga kamseltibcarlantas yang ada di jalan tol sesuai dengan traffic accounting dan parameternya,” jelas Agus.
Arus Balik Diproyeksikan Lebih Rendah, Tapi Tetap Perlu Pengawasan Ketat
Setelah puncak arus mudik selesai, perhatian beralih ke arus balik. Korlantas memperkirakan sekitar 2,8 juta kendaraan akan kembali memasuki Jakarta setelah periode libur Natal dan Tahun Baru. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan arus keluar karena sebagian besar masyarakat biasanya kembali lebih awal untuk menghindari kemacetan panjang atau menyesuaikan jadwal kerja dan sekolah.
Meski jumlahnya lebih rendah dibanding arus keluar, arus balik tetap menjadi perhatian serius. Kapan puncak arus balik terjadi, itu bisa sangat menentukan apakah one way akan dilakukan atau tidak. Pergerakan kendaraan pada arus balik juga tidak hanya terkonsentrasi pada jalur utama, tetapi juga tersebar di sekitar tempat wisata.
Untuk memastikan keamanan dan kelancaran lalu lintas, Korlantas melakukan koordinasi dengan berbagai pihak termasuk operator jalan tol, pemerintah daerah, hingga petugas di lapangan. Tantangan terbesar biasanya muncul jika cuaca buruk terjadi atau jika ada kecelakaan yang menyebabkan penumpukan kendaraan.
Selain itu, lokasi wisata dan pusat keramaian di sekitar Jabodetabek juga menjadi fokus penting. Misalnya kawasan Ancol, yang disebutkan Agus sebagai titik yang diprediksi mengalami tumpukan massa. Pengaturan akses, penyediaan parkir, hingga rekayasa lalin lokal harus disiapkan untuk mengurangi antrean kendaraan yang mengular.
Pengalaman musim-musim libur sebelumnya menunjukkan bahwa kepadatan saat arus balik sering lebih mudah dikelola jika masyarakat mendapat informasi yang tepat waktu, baik melalui media sosial, aplikasi navigasi, maupun pesan langsung dari petugas di lapangan. Korlantas terus mendorong agar masyarakat memantau informasi resmi sebelum melakukan perjalanan, termasuk rekomendasi waktu terbaik untuk kembali ke Jakarta.
Pada akhirnya, menghadapi hampir 3 juta kendaraan yang keluar dan kembali selama musim Nataru bukan hal sederhana. Butuh perhitungan presisi, kesiapan infrastruktur, serta kolaborasi semua pihak agar pergerakan jutaan kendaraan ini tetap dalam koridor aman. Korlantas menyiapkan berbagai skenario, tapi keterlibatan masyarakat dalam memilih waktu perjalanan yang tepat juga sangat menentukan kelancaran arus.
Bagi yang berencana liburan, persiapkan kendaraan, cek kondisi cuaca, dan pantau info lalu lintas, karena perjalanan akhir tahun biasanya penuh kejutan. Dengan prediksi sepadat ini, kesadaran dan kesabaran di jalan sangat membantu menjaga keamanan bersama.