By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: 7 Manusia Harimau, Makhluk Jadi-Jadian Pelindung dan Pemberi Peringatan Bagi Warga Bengkulu
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » 7 Manusia Harimau, Makhluk Jadi-Jadian Pelindung dan Pemberi Peringatan Bagi Warga Bengkulu

Terkini

7 Manusia Harimau, Makhluk Jadi-Jadian Pelindung dan Pemberi Peringatan Bagi Warga Bengkulu

Natio
By
Natio
ByNatio
Jurnalist and Digital Enthusias
Banyak orang meninggalkan kedai kopi untuk bekerja. justru aku mendatangi kedai kopi untuk memulai bekerja. karena bagiku kopi adalah sumber inspirasi.
Follow:
1 year ago
Share
4 Min Read
SHARE

Sinetron ‘7 Manusia Harimau’ yang sempat ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta, ternyata terinspirasi dari karya sastra Motinggo Busye yang berjudul ‘7 Manusia Harimau’.

Meskipun demikian, sejarah sebenarnya dari legenda 7 Manusia Harimau telah ada sejak lama. Manusia Harimau dikenal sebagai sosok gaib yang dekat dengan kehidupan masyarakat adat di Bengkulu, sehingga hutan tempat tinggal mereka dianggap sebagai hutan larangan yang dilindungi.

Legenda Bukit Sarang Macan di Desa Ladang Palembang, Kabupaten Lebong, Bengkulu menjadi salah satu inspirasi dari novel tersebut, dan dalam bahasa Rejang, Bukit Sarang Macan disebut Tebo Sa’ang Imau, yang artinya harimau jelmaan atau tempat pertemuan reinkarnasi leluhur.

Baca juga: Kisah Mistis Alas Purwo dari Sosok Gaib Berwujud Cantik Hingga Kerajaan Jin Terbesar di Dunia

Bukit Sarang Macan juga menjadi sorotan dalam buku ‘The History of Sumatra’ karya William Marsden pada tahun 1784, yang mencatat tentang keberadaan makhluk gaib yang sering menjelma sebagai harimau dan memiliki istana serta tata pemerintahan sendiri.

Adat setempat meyakini bahwa membunuh manusia harimau akan mendatangkan bala yang lebih besar, sehingga mereka menjaga keberadaan hewan tersebut.

Bukit Sarang Macan kemudian dijadikan hutan larangan atau hutan lindung desa untuk memastikan keberlangsungan makhluk tersebut.

Peraturan Desa Nomor II Tentang Hutan Lindung Desa dan Hutan Adat Desa diterapkan untuk menyelaraskan antara hukum adat dengan hukum pemerintah, yang menegaskan bahwa tidak ada warga setempat yang berani membunuh harimau karena diyakini akan mendatangkan bala yang lebih besar, bahkan lebih berbahaya bagi manusia.

Manusia Harimau Sebagai Pelindung dan Pemberi Peringatan

Dalam sebuah cerita yang disampaikan oleh seorang tetua dari masyarakat adat Lebong bernama Abdul Muris, diceritakan bahwa harimau jelmaan seringkali akan menampakkan diri saat kondisi masyarakat sedang kurang baik atau dalam suasana yang tegang.

Baca Juga :

Pink Is Back! Warna Favorit Gen Z dan Makna Baru di Baliknya
Kenapa Kita Suka Banget Nonton Ulang Film yang Sama? Ternyata Ini Alasannya Menurut Psikologi

Mereka juga dikatakan akan menyerang hewan peliharaan dan memakannya sebagai peringatan bagi warga.

Abdul Muris menekankan bahwa harimau jelmaan tersebut bukanlah mahluk yang merugikan atau dianggap sebagai musuh. Sebaliknya, mereka dianggap sebagai pelindung dan pemberi peringatan jika ada warga yang melanggar adat atau berperilaku amoral.

Selain itu, kawasan hutan Bukit Sarang Macan, selain dikenal sebagai tempat bertemunya harimau, juga dipercaya sebagai tempat Harimau Sumatera mencari mangsa.

Hal ini membuat warga dan pemerintahan desa sepakat untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai hutan lindung desa, yang bebas dari aktivitas pengrusakan.

William Marsden juga pernah mengulas kepercayaan Rejang tentang harimau leluhur dalam bukunya yang berjudul ‘The History of Sumatra’ yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1784. Marsden menjelaskan bahwa harimau seringkali diyakini oleh masyarakat setempat dapat menjelma menjadi manusia.

Dalam bukunya, ia juga membeberkan bahwa harimau memiliki istana dan bentuk pemerintahan yang teratur dalam suatu tempat di negeri tersebut, sebagaimana yang diungkapkan oleh para warga setempat.

Melalui kepercayaan tentang harimau leluhur ini, serta kesadaran akan pentingnya pelestarian hutan dan Harimau Sumatera, warga dan pemerintahan desa setempat menyepakati dan menetapkan kawasan hutan Bukit Sarang Macan sebagai hutan lindung desa sekitar 14 tahun yang lalu.

Sebagai bentuk penegakan aturan, warga setempat melakukan sejumlah pertemuan, pemetaan, dan memasang patok batas di kawasan hutan sebelum membuat kesepakatan tertulis.

Hingga saat ini, kondisi hutan Bukit Sarang Macan tetap terjaga dan terlindungi. Warga setempat hanya diperbolehkan mengambil buah hutan, tanaman obat, dan madu tanpa merusak pohon-pohon di hutan tersebut.

Adanya aturan ini juga diikuti dengan adanya sanksi adat bagi siapa saja yang melanggar aturan tersebut, sebagai bentuk perlindungan terhadap lingkungan dan kelestariannya.***

You Might Also Like

BBM Nelayan Rp15 Ribu Disahkan! Jurus Bahlil Lindungi Dompet Tanpa Sentuh APBN
Jakarta Darurat Judol. Ribuan Warga Pilih Jalan Spekulasi demi Bertahan Hidup
LRT Velodrome–Manggarai Segera Beroperasi, Tapi Siapkah Manggarai Tampung Lonjakan Penumpang
PT Timah Bantu Bangun Sumur Bor, SMPN 3 Simpang Katis Segera Nikmati Akses Air Bersih
Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo
Share This Article
Facebook Email Print
Share
ByNatio
Jurnalist and Digital Enthusias
Follow:
Banyak orang meninggalkan kedai kopi untuk bekerja. justru aku mendatangi kedai kopi untuk memulai bekerja. karena bagiku kopi adalah sumber inspirasi.
Previous Article Kisah Mistis Alas Purwo dari Sosok Gaib Berwujud Cantik Hingga Kerajaan Jin Terbesar di Dunia
Next Article Sejarah Kelam Jembatan Gundolayu Tempat Bunuh Diri Kompeni yang Frustrasi Kini Jadi Tempat Arwah Tukang Jamu Gentayangan
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Hadapi Musim Kemarau, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Nasional Tetap Aman

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Argentina Terlalu Tangguh untuk Swiss, Jadi Penyelamat Amerika Latin di Piala Dunia 2026

2 days ago
Pildun 2026Terkini

Inggris Tunjukkan Mental Juara, Singkirkan Norwegia dan Melaju ke Semifinal

2 days ago
Internasional

Konflik AS-Iran Memanas, PBB Ingatkan Ancaman bagi Stabilitas Dunia

4 days ago
Internasional

Cuaca Ekstrem Melanda Korea Selatan, Pemerintah Tetapkan Siaga Gelombang Panas Level Peringatan

4 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index