BANGKOK
Defile kontingen Indonesia pada pembukaan SEA Games 2025 di Stadion Rajamangala, Bangkok, berubah menjadi panggung penuh makna ketika dua pembawa bendera tampil dengan busana adat asal Sumatera.
Robi Syanturi, pelari nomor jarak jauh, melangkah gagah dengan ulos dan ikat kepala khas Sumatera Utara, sementara Megawati Hangestri Pertiwi, pemain bola voli putri, tampil anggun dalam kebaya putih berpadu kain tapis dan mahkota siger dari Lampung. Penampilan tersebut tak sekadar memperkenalkan budaya Nusantara, tetapi menghadirkan simbol yang terasa menyentuh bagi masyarakat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang masih berduka akibat bencana hidrometeorologi.
Kedua atlet itu seolah membawa pesan solidaritas. Dari panggung olahraga internasional, para atlet Merah Putih hadir bukan hanya untuk mengukir prestasi, tetapi juga mengirim harapan dan penguatan bagi saudara-saudara mereka di Pulau Sumatera.
Ketika Robi dan Megawati memimpin barisan bersama 69 atlet dari enam cabang olahraga, sorotan publik langsung tertuju pada keindahan dan filosofi busana adat tersebut. Warna-warni pakaian tradisional seluruh kontingen Indonesia dalam parade juga ikut memperkuat pesan kebersamaan dan kekuatan budaya bangsa.
Chef de Mission Tim Indonesia, Bayu Priawan Djokosoetono, menegaskan penggunaan busana adat ini merupakan cara memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia di mata dunia. Namun pada momen ini, maknanya terasa jauh lebih dalam. “Ada rasa bangga yang sulit diungkapkan,” kata Robi, yang menyebut pengalaman membawa bendera sebagai yang paling berkesan dalam kariernya.
Di tengah kemeriahan gemerlap cahaya, musik, dan tarian tradisional Thailand, Indonesia memulai perjalanan SEA Games dengan semangat ganda, mengejar target 80 medali emas dan memberikan persembahan terbaik bagi tanah Sumatera yang sedang berjuang bangkit dari duka. Pada edisi tahun ini, Indonesia menurunkan 1.021 atlet yang akan bersaing dalam 49 cabang olahraga.