JAKARTA, INVERSI – Insiden terkait pesawat yang tengah mengudara di wilayah Indonesia kembali menjadi perhatian media dan publik pada Januari 2026. Beredar sejumlah kebingungan soal jenis pesawat yang hilang kontak, dengan beberapa sumber keliru menyebutnya sebagai ATR-400.
Padahal, berdasarkan laporan resmi dan temuan di lapangan, pesawat yang mengalami kecelakaan adalah ATR 42-500, sebuah pesawat turboprop berukuran sedang yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport atas nama pemerintah untuk misi pengawasan laut.
Peristiwa ini terjadi pada 17 Januari 2026, ketika pesawat lepas landas dari Bandara Adisutjipto di Yogyakarta menuju Sultan Hasanuddin International Airport, Makassar, Sulawesi Selatan. Pesawat membawa total 11 orang di dalamnya, terdiri dari delapan kru dan tiga penumpang, yang semuanya terkait dengan operasi pengawasan laut yang diperintahkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Masih dalam fase pencarian dan penyelidikan, kontak antara pesawat dan pengendali lalu lintas udara tiba-tiba terputus ketika pesawat berada dalam fase pendekatan. Petugas radar kehilangan jejak sinyal radar pesawat ini tidak jauh dari tujuan akhir, saat berada di wilayah pegunungan dekat Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan.
Upaya pengawasan radar menunjukkan pesawat mungkin mengalami penurunan ketinggian secara cepat, namun penyebab pastinya masih dalam penyelidikan.
Dalam pencarian yang melibatkan ratusan personel termasuk militer, polisi, serta tim SAR, tim menemukan serpihan bangkai pesawat di kawasan gunung yang sulit diakses. Salah satu anggota tim SAR berhasil menemukan satu jasad yang telah dievakuasi dari lereng tajam gunung Bulusaraung, meskipun upaya untuk menjangkau lokasi bangkai lain terhambat kondisi cuaca buruk dan medan yang ekstrem.
Menurut data awal yang bersumber dari situs pemantau kecelakaan penerbangan internasional, ATR 42-500 yang bernomor registrasi PK-THT diperkirakan telah menabrak medan sebelum benar-benar jatuh. Warga setempat bahkan sempat melaporkan melihat kepulan asap dan mendengar suara ledakan kecil di area terjal tersebut, yang konsisten dengan temuan puing-puing pesawat.
Sebagai catatan, ATR 42-500 bukan tipe ATR-400, seperti yang sempat beredar di beberapa akun media sosial dan sumber tidak resmi lainnya. ATR 42 sendiri adalah keluarga pesawat turboprop yang cukup umum digunakan di rute-rute domestik dan regional, terutama di negara kepulauan seperti Indonesia, karena kemampuannya untuk lepas landas dan mendarat di bandara-bandara dengan landasan pendek.
Menanggapi kejadian ini, otoritas terkait telah mengerahkan berbagai unsur untuk mempercepat operasi pencarian dan memastikan keselamatan lokasi. Menteri terkait dari Kementerian Perhubungan dan BASARNAS secara intensif berkoordinasi untuk memastikan prosedur pencarian berjalan optimal, meskipun medan dan cuaca menyulitkan.
Pihak maskapai dan regulator penerbangan juga tengah bekerja sama dengan pabrikan ATR untuk mendapatkan data teknis yang mungkin membantu dalam investigasi lebih lanjut.
Sampai berita ini ditulis, belum semua penumpang dapat ditemukan, dan identitas korban yang ditemukan belum dipublikasikan resmi. Pihak SAR terus melakukan pencarian di sekitar area gunung Bulusaraung, memasuki hari-hari berikutnya dengan optimisme bahwa masih ada peluang untuk menemukan korban lainnya dalam kondisi apa pun.
Kejadian ini menghadirkan kembali diskusi soal keselamatan transportasi udara di Indonesia, yang secara geografis sangat bergantung pada moda penerbangan untuk menghubungkan ribuan pulau. Faktor medan yang sulit, perubahan cuaca cepat di wilayah pegunungan, serta tekanan jadwal operasional menjadi beberapa tantangan utama yang terus dihadapi aparat dan operator penerbangan di Indonesia setiap harinya.
Sebagai kesimpulan, yang menghilang bukanlah ATR-400, melainkan ATR 42-500 yang tengah melaksanakan tugas pengawasan laut, dan insiden ini masih ditangani secara serius oleh tim nasional untuk mengungkap sebab musababnya serta memberikan kepastian bagi keluarga para korban.