JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian ESDM tancap gas memperkuat kedaulatan energi nasional. Langkah agresif dilakukan dengan membuka penawaran 116 blok minyak dan gas bumi (migas) baru bagi investor global, sebagai respons langsung atas temuan raksasa di Blok Ganal yang dinilai menjadi game changer sektor hulu migas Indonesia.
Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi besar untuk mengejar target produksi nasional yang telah ditetapkan dalam APBN 2026.
“Pemerintah juga menempuh beberapa langkah strategis untuk mencapai target produksi tersebut antara lain seperti membuka 116 blok migas baru bagi investor global melalui penawaran wilayah kerja migas serta membuka kolaborasi teknologi dan operasi pada wilayah kerja eksisting melalui Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025,” ujar Laode kepada media di Jakarta, Minggu (25/4).
Target lifting minyak nasional pada 2026 dipatok sebesar 610 ribu barel per hari. Untuk mencapainya, pemerintah tidak hanya mengandalkan lapangan eksisting, tetapi juga mendorong eksplorasi besar-besaran.
Momentum optimisme ini semakin menguat setelah ditemukannya cadangan raksasa di Sumur Geliga, Blok Ganal. Temuan tersebut diperkirakan memiliki potensi hingga 5 triliun cubic feet (TCF) gas serta 300 juta barel kondensat—angka yang dinilai signifikan untuk menopang kebutuhan energi nasional di masa depan.
Laode menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga kedaulatan energi di tengah tekanan geopolitik global yang semakin kompleks. Salah satu arah utama kebijakan adalah mendorong swasembada energi sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto.
Tak hanya ekspansi wilayah kerja, pemerintah juga melakukan berbagai langkah mitigasi strategis, termasuk pasca ketegangan global yang berdampak pada jalur energi seperti Selat Hormuz.
“Saat ini langkah-langkah mitigasi yang telah dilakukan Pemerintah antara lain seperti diversifikasi impor energi, optimalisasi pasokan domestik dan biofuel, peningkatan kinerja kilang, penguatan kerja sama bilateral, dan kebijakan konsumsi bahan bakar atau LPG yang efisien,” kata Laode.
Di sisi lain, pemerintah juga merombak regulasi untuk menarik investasi global. Fleksibilitas kontrak kini diberikan kepada investor, yang dapat memilih antara skema gross split atau cost recovery. Selain itu, insentif fiskal berbasis keekonomian proyek dan percepatan perizinan melalui PP Nomor 28 Tahun 2025 menjadi daya tarik tambahan.
Langkah ini mencerminkan ambisi besar Menteri ESDM untuk menjadikan Indonesia tetap sebagai pemain utama dalam peta energi dunia. Dengan kombinasi temuan raksasa, pembukaan blok baru, dan reformasi regulasi, sektor hulu migas Indonesia kini memasuki fase ekspansi yang lebih agresif.
“Reformasi sedang berlangsung. Peluang tersedia. Pemerintah mengundang para investor untuk menjadi bagian dari babak selanjutnya Indonesia di sektor hulu migas,” tutup Laode.
Dengan gebrakan ini, Indonesia tidak hanya mengejar target produksi, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai negara dengan kedaulatan energi yang semakin kokoh di tengah persaingan global.