JAKARTA – Tragedi maut yang merenggut 14 nyawa di Stasiun Bekasi Timur memicu tanda tanya besar. Bagaimana mungkin sistem persinyalan kereta api modern bisa kebobolan hingga menyebabkan tabrakan dari belakang? Untuk menjawab misteri ini, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) langsung menerjunkan tim investigator khusus ke lokasi kejadian.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, yang turun langsung ke lokasi pada Selasa (28/4/2026) dini hari, menegaskan pemerintah tidak akan main-main dalam mengusut tuntas insiden ini. “Kami memberikan kesempatan penuh kepada KNKT untuk melakukan investigasi, melihat secara objektif apa sebenarnya penyebab dari kecelakaan fatal yang terjadi pada malam hari ini,” tegas Menhub Dudy.
Ketua Tim Humas KNKT, Anggo Anurogo, mengonfirmasi timnya telah berada di titik nol sesaat setelah peristiwa terjadi. “Tim kami langsung turun untuk mengumpulkan fakta dan informasi di lapangan. Ini adalah langkah investigasi awal untuk memetakan kronologi pasti,” ucap Anggo.
Fokus utama investigasi KNKT diprediksi akan menyoroti dua hal krusial: Pertama, mengapa taksi Green SM bisa terjebak di perlintasan JPL 85. Kedua, dan yang paling vital, mengapa sistem persinyalan (block system) gagal memperingatkan masinis KA Argo Bromo Anggrek bahwa ada KRL yang sedang berhenti darurat di jalur yang sama di depannya.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menyatakan kesiapannya untuk bersikap kooperatif. “Kami menyerahkan sepenuhnya proses investigasi kepada KNKT agar penyelidikan dilakukan secara menyeluruh dan objektif. KAI akan mengevaluasi total sistem keselamatan perkeretaapian kami,” ujar Bobby. Publik kini menanti hasil investigasi KNKT untuk mengetahui siapa pihak yang paling bertanggung jawab atas kelalaian fatal ini.