INVERSI.ID – Infeksi virus corona SARS-CoV-2 beserta berbagai subvariannya saat ini dinilai sudah tidak lagi menjadi ancaman besar bagi manusia seperti pada awal pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu.
Pernyataan tersebut disampaikan ahli virologi Vladimir Oberemok yang juga menjabat sebagai Kepala Departemen Biologi Umum dan Genetika di V.I. Vernadsky Crimean Federal University.
Menurut Oberemok, kondisi global saat ini jauh berbeda dibanding periode 2020 hingga 2022 ketika pandemi COVID-19 berada di puncaknya dan menimbulkan angka kematian tinggi di berbagai negara.
“Bahaya serius yang ada pada 2020–2022 telah berlalu. Kekebalan kelompok telah berkembang di seluruh dunia; sebagian besar orang telah terinfeksi penyakit ini atau telah divaksinasi, dan oleh karena itu sudah memiliki sel memori terhadap virus corona,” kata Oberemok kepada RIA Novosti.
Ia menjelaskan, terbentuknya kekebalan kelompok atau herd immunity menjadi salah satu faktor utama yang membuat dampak infeksi virus corona kini cenderung lebih ringan dibanding sebelumnya.
Selain itu, perkembangan varian virus yang lebih mudah menular namun tidak terlalu mematikan juga dinilai turut memengaruhi perubahan pola penyebaran COVID-19 di masyarakat.
“Selain itu, varian virus yang menyebar lebih mudah — bukan yang lebih mematikan — semakin banyak ditemukan. Penyakit ini semakin sering terjadi dalam bentuk yang ringan,” tambahnya.
Meski begitu, Oberemok mengingatkan kemungkinan munculnya varian baru SARS-CoV-2 dengan tingkat kematian lebih tinggi tetap bisa terjadi di masa mendatang.
Menurutnya, mutasi virus masih memungkinkan munculnya strain baru yang berpotensi memicu pandemi berikutnya apabila memiliki tingkat penularan dan fatalitas tinggi.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa meski situasi pandemi global telah jauh lebih terkendali, pengawasan terhadap perkembangan virus corona tetap perlu dilakukan oleh dunia medis dan pemerintah di berbagai negara.