JAKARTA – Penyesuaian harga Pertamax yang mulai berlaku sejak 10 Juni 2026 tak hanya memicu perdebatan soal energi dan ekonomi, tetapi juga melahirkan fenomena sosial baru di media sosial. Sejumlah unggahan yang mengeluhkan kenaikan harga BBM non-subsidi mendapat respons beragam dari warganet, termasuk sindiran terkait gaya hidup para penggunanya.
Di berbagai platform media sosial, muncul perdebatan antara kelompok yang menilai kenaikan Pertamax sebagai beban tambahan bagi konsumen dan kelompok lain yang menganggap reaksi tersebut berlebihan, terutama jika datang dari kalangan yang selama ini kerap menampilkan gaya hidup mapan.
Warganet ramai membandingkan keluhan soal harga Pertamax dengan unggahan liburan ke luar negeri, tiket konser internasional, koleksi barang bermerek, hingga kendaraan pribadi bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah yang sering muncul di media sosial. Tak heran jika beberapa akun selebritas yang mengeluhkan kenaikan BBM Non Subsidi, seperti Zaskia Adya Mecca di; https://www.instagram.com/stories/zaskiadyamecca/3918681043234944856/, atau Ummi Quary; https://www.instagram.com/p/DVTcMOdkgb0/?img_index=1, dan Rizky Alatas;
https://www.instagram.com/rizkyalatas/ mendapat respon negative dari netizen
“Kalau mampu liburan ke luar negeri dan beli barang branded, kenapa harga BBM non-subsidi yang naik mengikuti pasar justru dianggap masalah besar?” tulis salah satu komentar yang ramai dibagikan ulang.
Perdebatan tersebut turut membuka kembali diskusi mengenai perbedaan mendasar antara BBM subsidi dan non-subsidi.
Pertamax merupakan produk BBM komersial yang harga jualnya mengikuti perkembangan harga minyak dunia serta biaya pengadaan energi. Berbeda dengan Pertalite dan Biosolar yang sebagian biayanya ditanggung negara melalui APBN.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri sebelumnya menegaskan bahwa penyesuaian harga Pertamax dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika pasar energi global.
“Penyesuaian pada harga BBM non-subsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat,” ujar Simon.
Sementara itu, harga BBM subsidi tetap dipertahankan pada level Rp10.000 per liter untuk Pertalite dan Rp6.800 per liter untuk Biosolar.
Pengamat komunikasi digital menilai media sosial membuat publik lebih mudah menghubungkan opini seseorang dengan gaya hidup yang ditampilkan sehari-hari.
Ketika seseorang secara terbuka memperlihatkan aktivitas berlibur, menghadiri konser, mengoleksi barang premium, atau menggunakan kendaraan mewah, publik cenderung memiliki ekspektasi tertentu terhadap respons mereka terhadap isu ekonomi.
Akibatnya, keluhan mengenai kenaikan harga produk komersial seperti Pertamax sering kali memunculkan reaksi balik berupa kritik mengenai konsistensi antara gaya hidup dan sikap yang ditunjukkan di ruang publik.
Di sisi lain, tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa setiap warga negara tetap memiliki hak untuk menyampaikan pandangan mengenai kebijakan atau perubahan harga, terlepas dari kondisi ekonomi maupun gaya hidup mereka.
Perdebatan ini menunjukkan bahwa isu Pertamax kini tidak lagi sekadar soal harga BBM, tetapi juga menyentuh persoalan persepsi sosial, konsumsi kelas menengah, hingga cara masyarakat memandang subsidi dan mekanisme pasar.