PALU – Luka lama itu seakan kembali terbuka. Sulawesi Tengah, wilayah yang pada 2018 menjadi saksi salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah Indonesia, kembali diguncang gempa kuat berkekuatan Magnitudo 6,7 pada Selasa (16/6). Di tengah kepanikan warga, kabar duka kembali datang setelah seorang warga Kabupaten Sigi dilaporkan meninggal dunia akibat kejadian tersebut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pukul 10.27 WIB dengan episentrum berada sekitar 42 kilometer tenggara Palu pada kedalaman 16 kilometer. BMKG menegaskan gempa ini tidak berpotensi tsunami, namun guncangannya dirasakan kuat di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah dan memicu kepanikan masyarakat.
Di Kabupaten Sigi, satu warga dilaporkan meninggal dunia setelah tertimpa material bangunan saat gempa terjadi. Selain korban jiwa, sejumlah warga mengalami luka-luka dan kerusakan bangunan dilaporkan terjadi di beberapa titik. BNPB bersama BPBD masih terus melakukan pendataan terhadap dampak gempa tersebut.
Kepolisian bersama TNI, BPBD, Basarnas, tenaga kesehatan, dan berbagai instansi terkait bergerak cepat melakukan penanganan darurat. Aparat membantu evakuasi warga, melakukan asesmen kerusakan, serta memastikan masyarakat mendapatkan bantuan yang diperlukan sesegera mungkin.
Namun peristiwa ini bukan sekadar soal angka magnitudo atau statistik korban. Bagi masyarakat Palu, Sigi, Donggala, dan wilayah sekitarnya, setiap gempa besar selalu membawa trauma mendalam. Ingatan publik belum pernah benar-benar lepas dari bencana 28 September 2018 ketika gempa berkekuatan M7,7 memicu tsunami dan likuefaksi yang menewaskan lebih dari 2.200 orang di Sulawesi Tengah. Kabupaten Sigi sendiri kehilangan ratusan warganya dalam tragedi tersebut.
Tak heran jika video dan foto yang beredar di media sosial pada Selasa siang memperlihatkan warga berhamburan keluar rumah, kantor, sekolah, hingga rumah sakit sesaat setelah guncangan terjadi. Di Palu, pasien dan tenaga medis bahkan sempat berlarian keluar gedung untuk menyelamatkan diri.
Gelombang simpati pun mengalir dari berbagai daerah. Warganet di platform X, Instagram, dan Facebook ramai mengunggah doa serta pesan dukungan bagi masyarakat Sulawesi Tengah. Banyak yang mengingatkan bahwa Palu bukan sekadar daerah yang sedang mengalami gempa, melainkan daerah yang masih menyimpan trauma kolektif akibat bencana besar delapan tahun lalu.
Karena itu, bencana ini seharusnya menjadi panggilan kepedulian nasional. Saat sorotan publik sering berpindah dari satu isu ke isu lain, masyarakat Palu dan Sigi kembali dihadapkan pada ketidakpastian akibat aktivitas seismik yang masih tinggi. Bahkan laporan terbaru menyebut telah terjadi puluhan gempa susulan setelah gempa utama mengguncang wilayah tersebut.
Indonesia pernah bergandengan tangan membantu Palu bangkit dari tragedi 2018. Semangat yang sama perlu kembali dihidupkan hari ini. Bantuan kemanusiaan, dukungan psikososial, perhatian pemerintah, serta solidaritas masyarakat menjadi modal penting agar warga Sulawesi Tengah tidak merasa sendirian menghadapi cobaan baru.
Sebab bagi Palu dan Sigi, setiap gempa bukan hanya guncangan tanah. Ia juga mengguncang kenangan, trauma, dan perjuangan panjang untuk bangkit dari salah satu bencana terbesar yang pernah melanda Indonesia.