INVERSI – Badan Gizi Nasional (BGN) resmi meluncurkan platform digital inovatif bertajuk “Reviu MBG”. Langkah ini menjadi tonggak sejarah baru dalam tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia, yang menitikberatkan pada aspek pencegahan dini terhadap potensi kendala kualitas layanan di lapangan.
Melalui sistem ini, pengawasan tidak lagi bersifat reaktif, melainkan proaktif dan berbasis partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan. Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, dalam sambutannya pada peluncuran aplikasi tersebut, menegaskan bahwa orientasi utama lembaga saat ini adalah meminimalisasi “kejadian menonjol” melalui peningkatan kesadaran (awareness) seluruh pelaksana program.
“Fokus utama kami adalah pencegahan. Kami ingin menciptakan sistem di mana setiap pelaksana di lapangan merasa memiliki tanggung jawab moral dan operasional untuk memastikan setiap porsi makanan yang keluar dari dapur SPPG memenuhi standar kesehatan,” ujar Sony.
Melibatkan Sekolah sebagai Gardu Pengawasan
Inovasi aplikasi Reviu MBG terletak pada pemberdayaan pihak sekolah. Sebelumnya, pengawasan sering kali dilakukan secara berkala oleh tim dari pusat atau daerah. Namun, dengan aplikasi ini, Penanggung Jawab (PIC) di setiap sekolah kini bertindak sebagai pengawas kualitas di titik distribusi terakhir. Sebelum makanan didistribusikan kepada siswa, PIC sekolah wajib melakukan input penilaian melalui aplikasi.
Aspek-aspek yang dinilai mencakup parameter ketat, seperti ketepatan waktu distribusi, kesegaran bahan pangan, kualitas menu, hingga profil rasa dan aroma. Data yang masuk melalui sistem ini nantinya akan menjadi big data yang dapat dianalisis secara real-time oleh pusat kendali BGN. Jika ditemukan skor penilaian yang rendah, sistem akan memberikan notifikasi otomatis kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait untuk dilakukan perbaikan instan.
Membangun Akuntabilitas Berbasis Teknologi
Selain berfungsi sebagai alat evaluasi internal, Reviu MBG juga berfungsi sebagai instrumen kontrol sosial yang transparan. Data yang dikumpulkan tidak hanya berhenti pada angka, tetapi menjadi bahan evaluasi berkala bagi mitra penyelenggara. SPPG yang memiliki rekam jejak penilaian konsisten akan mendapatkan apresiasi, sementara unit yang mengalami penurunan kualitas akan segera mendapatkan pendampingan teknis.
Sony berharap, digitalisasi ini menjadi standar baru dalam menjalankan program pemerintah yang berskala nasional. Dengan memanfaatkan teknologi, BGN optimis dapat menjaga integritas program, menekan potensi penyimpangan, dan memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan negara benar-benar menjadi asupan bergizi yang mendukung tumbuh kembang anak-anak Indonesia menjadi generasi yang cerdas dan kompetitif menuju Indonesia Emas 2045.