INVERSI.ID – Sakit kepala sering dianggap sebagai keluhan biasa yang dipicu kelelahan atau stres. Namun, jika rasa nyeri muncul terus-menerus dan semakin berat dari waktu ke waktu, kondisi tersebut tidak boleh diabaikan karena bisa menjadi salah satu tanda tumor otak.
Dokter spesialis bedah saraf di Columbia Asia Hospital Pulomas, Jakarta Timur, Dr. Dhira Atman, mengatakan sakit kepala merupakan gejala yang paling umum dialami penderita tumor otak. Meski demikian, terdapat ciri khas yang membedakannya dengan jenis sakit kepala lainnya.
“Kalau ditanya gejala yang paling standar, ya sakit kepala. Tapi yang khas itu nyerinya akan semakin lama semakin berat, karena benjolan di dalam otak juga semakin membesar,” kata Dhira di Columbia Asia Hospital Pulomas, Jakarta Timur, Senin.
Menurut Dhira, sakit kepala akibat tumor otak memiliki pola yang berbeda dibandingkan migrain maupun sakit kepala karena ketegangan otot (tension headache).
Pada kasus migrain, nyeri biasanya muncul secara berkala, kemudian mereda sebelum akhirnya kambuh kembali di waktu lain. Sementara itu, sakit kepala akibat ketegangan otot umumnya dipicu oleh kelelahan atau stres dan akan berkurang setelah tubuh mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Berbeda dengan kedua kondisi tersebut, sakit kepala yang dipicu tumor otak cenderung berlangsung terus-menerus dan intensitasnya semakin meningkat seiring bertambah besarnya ukuran tumor.
“Sebaliknya, kalau sakit kepala akibat tumor otak dia berlangsung terus menerus. Logikanya, barangnya di dalam kepala makin lama makin besar, jadi tekanan terhadap otak juga semakin meningkat. Jadi nyerinya semakin berat dan tidak hilang-hilang, bisa bertambah,” jelas Dhira.
Selain sakit kepala, gejala yang muncul juga bergantung pada lokasi pertumbuhan tumor di dalam otak.
Jika tumor berkembang di bagian depan otak atau lobus frontal, penderita dapat mengalami penurunan fungsi intelektual. Kondisi tersebut bisa ditandai dengan kesulitan berkonsentrasi, proses berpikir yang melambat, sering melakukan kesalahan dalam berhitung, hingga perubahan perilaku dan kepribadian.
“Jadi orang yang sebelumnya tenang bisa tiba-tiba menjadi emosional, mudah marah, atau sering mengajak bertengkar. Itu juga bisa menjadi salah satu gejala,” ucap Dhira.
Apabila tumor menekan area otak yang mengendalikan gerakan tubuh, penderita berpotensi mengalami kesemutan, kelemahan otot, bahkan kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.
Dhira menjelaskan bahwa bagian tubuh yang terdampak sangat bergantung pada posisi tumor karena jalur saraf di dalam otak saling bersilangan.
Sementara itu, jika tumor tumbuh di bagian belakang otak yang berperan sebagai pusat penglihatan, pasien dapat mengalami berbagai gangguan visual.
“Penderita bisa melihat bayangan hitam, sebagian gelap, ada bagian penglihatan yang hilang, gangguan mata, sulit diajak bicara juga bisa, tidak nyambung, ngelantur bahasanya,” kata Dhira.
Menurut Dhira, lokasi tumor yang paling berisiko berada di batang otak. Bagian tersebut berfungsi mengendalikan organ-organ vital, termasuk sistem pernapasan dan denyut jantung.
“Batang otak mengatur jantung dan paru-paru, kalau tumornya di situ, bisa saja tidak ada gejala yang jelas, tetapi tiba-tiba terjadi henti napas,” ucap Dhira.
Ia menambahkan, tumor otak yang masih berukuran kecil juga dapat berkembang tanpa memunculkan gejala berarti. Kondisi itu membuat banyak pasien baru memeriksakan diri setelah ukuran tumor membesar dan mulai memberikan tekanan pada jaringan otak.
“Semakin besar ukuran tumor saat ditemukan, semakin kompleks juga tindakan operasinya,” ujar Dhira.
Karena itu, Dhira mengimbau masyarakat untuk tidak menganggap remeh sakit kepala yang berlangsung dalam waktu lama, terutama jika frekuensinya semakin sering disertai rasa nyeri yang terus bertambah berat. Pemeriksaan medis sejak dini dinilai penting agar penyebab keluhan dapat diketahui dan penanganan diberikan sebelum kondisi berkembang lebih serius.