INVERSI.ID – Psikolog Samanta Clara Elsener mengungkapkan bahwa dorongan untuk memiliki kendali penuh atas orang lain dapat menjadi salah satu faktor utama yang memicu seseorang melakukan tindakan penyekapan hingga penyiksaan terhadap korban.
Menurut psikolog yang juga merupakan pengurus pusat Himpunan Psikologi Indonesia (PP HIMPSI) tersebut, pelaku kerap memiliki pengalaman psikologis berupa rasa tidak berdaya, kegagalan, atau perasaan rendah diri yang telah berlangsung lama dalam kehidupannya.
“Kebutuhan akan kontrol dan kekuasaan menjadi pemicu yang paling klasik. Pelaku sering kali merasa tidak berdaya, gagal, atau kecil dalam kehidupan nyata maupun pengalaman masa lalunya,” kata Samanta saat dihubungi ANTARA, Rabu.
Samanta menjelaskan bahwa kondisi psikologis tersebut dapat mendorong individu mencari cara ekstrem untuk mendapatkan kembali rasa berkuasa. Dalam beberapa kasus, pelaku memilih mengendalikan kehidupan orang lain secara total sebagai bentuk kompensasi atas ketidakberdayaan yang pernah dialami.
Menurutnya, penyekapan menjadi salah satu bentuk kontrol paling ekstrem karena memungkinkan pelaku mengatur hampir seluruh aspek kehidupan korban.
“Untuk mengompensasi rasa tidak berdaya itu, mereka mencari cara ekstrem agar bisa mengendalikan hidup orang lain secara mutlak. Menyekap adalah bentuk kontrol total karena pelaku menentukan kapan korban makan, tidur, atau bahkan bernapas,” ujarnya.
Selain faktor kebutuhan akan kekuasaan, tindakan penyiksaan juga dapat dipengaruhi oleh menurunnya kemampuan seseorang untuk merasakan penderitaan orang lain atau berkurangnya empati terhadap sesama.
Samanta menuturkan, hilangnya empati bisa dipicu oleh berbagai kondisi, mulai dari tekanan psikologis yang berat dan berlangsung lama, penyalahgunaan zat seperti narkoba maupun alkohol, hingga gangguan pada area otak yang berperan dalam mengatur respons empatik.
“Seseorang bisa sampai menyiksa karena otaknya tidak lagi merespons rasa sakit orang lain. Ada proses desensitisasi emosi atau matinya rasa empati,” katanya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa kekerasan juga dapat berakar dari kemarahan yang tersimpan dalam waktu panjang dan tidak pernah tersalurkan secara sehat. Dalam situasi tertentu, korban dapat menjadi sasaran pelampiasan emosi yang sebenarnya berasal dari pengalaman masa lalu pelaku.
Menurut Samanta, korban terkadang dianggap mewakili individu atau peristiwa yang pernah menimbulkan luka emosional bagi pelaku sehingga menjadi target kemarahan yang telah lama terakumulasi.
“Kadang korban menjadi simbol dari orang yang dibenci pelaku di masa lalu. Pelaku melampiaskan akumulasi kemarahan yang sudah bertahun-tahun dipendam kepada korban saat ini,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Samanta sebagai tanggapan atas kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang perempuan di Kabupaten Bandung yang belakangan menjadi sorotan publik dan memicu perhatian luas di masyarakat.
Kasus tersebut kembali mengingatkan pentingnya deteksi dini terhadap perilaku kekerasan, sekaligus perlunya dukungan kesehatan mental untuk mencegah munculnya tindakan ekstrem yang dapat membahayakan orang lain.