INVERSI.ID – Gangguan kesehatan mental kini menjadi isu yang semakin mendesak di Indonesia, terutama di kalangan anak muda. Depresi dan gangguan kecemasan (anxiety disorder) menjadi dua jenis gangguan yang paling banyak dialami masyarakat, sebagaimana diungkapkan dalam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI tahun 2023.
Mirisnya, permasalahan mental ini kerap tidak disadari bahkan dianggap tabu. Padahal, kelompok usia muda termasuk yang paling rentan. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat peningkatan angka depresi pada remaja usia 15–24 tahun. Data lain dari Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (NAMHS) 2022 menunjukkan bahwa 34,9% remaja di Indonesia mengalami gangguan kecemasan.
Lingkungan dan Tekanan Sosial Jadi Pemicu Utama
Gangguan mental pada anak muda kerap berakar dari berbagai faktor, seperti konflik keluarga, trauma masa kecil, hingga relasi sosial yang toksik. Tekanan akademik, ekspektasi orang tua, hingga pergaulan yang kompetitif juga sering menjadi pemicu stres berkepanjangan.
Tanpa disadari, stres ringan bisa berkembang menjadi gangguan serius jika tidak ditangani sejak awal. Oleh karena itu, pendekatan preventif dan edukatif sangat dibutuhkan.
Universitas Bakrie Ajak Mahasiswa Ambil Peran
Untuk menjawab tantangan ini, Universitas Bakrie bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menggelar acara Guest Lecturer bertema “Generasi Sehat, Indonesia Kuat: Potensi Peran Mahasiswa dalam Penguatan Kesehatan Mental Generasi Muda”. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 17 April 2025 di Auditorium Universitas Bakrie, Jakarta.
Acara ini menjadi ruang dialog antara mahasiswa, akademisi, dan pemerintah dalam mendorong peran generasi muda dalam transformasi sistem kesehatan nasional, khususnya di bidang kesehatan mental.
Imran Pambudi, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI, hadir sebagai pembicara utama. Ia menekankan pentingnya keterlibatan anak muda dalam upaya preventif, kuratif, hingga rehabilitatif dalam menangani masalah kesehatan mental.
“Implementasi dari generasi muda bisa dimulai dengan peningkatan literasi tentang gejala gangguan jiwa, serta kemampuan untuk merespon dan mendampingi individu yang mengalami depresi,” jelas Imran.
Suara Mahasiswa: Mental Health Itu Penting!
Acara ini juga didukung oleh Bakrie Center Foundation (BCF) yang menghadirkan 30 peserta Campus Leaders Program (CLP) batch 10, yang dikenal sebagai SDGs Heroes.
Sebanyak 100 mahasiswa Universitas Bakrie turut aktif dalam sesi diskusi dan berbagi pandangan mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental.
“Menjaga mental health itu penting banget, apalagi di tengah tekanan kuliah yang sering bikin burnout. Kadang bukan cuma dari diri kita, tapi juga lingkungan yang suportif,” ujar Irene, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie.
“Isu mental health itu tanggung jawab bersama, bukan hanya mahasiswa tapi juga civitas akademika seperti dosen dan guru,” tambah Dian, dosen Universitas Bakrie.
Mahasiswa: Agen Perubahan untuk Lingkungan yang Lebih Sehat
Mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan (agent of change) dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental.
Mereka dapat mendorong literasi publik lewat pendekatan edukatif dan advokatif, serta menciptakan lingkungan yang lebih aman dan suportif, khususnya bagi sesama remaja dan kelompok rentan.
Lewat kegiatan seperti ini, diharapkan mahasiswa semakin sadar dan terdorong untuk berkontribusi dalam penyebaran informasi tentang kesehatan mental, sekaligus menghapus stigma negatif yang masih melekat di masyarakat.***