INVERSI.ID – NEET atau lebih lengkapnya Youth NEET adalah singkatan dari Youth Not in Employment, Education, and Training. Istilah ini merujuk pada anak muda berusia 15 hingga 24 tahun yang tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan atau kursus.
Konsep NEET pertama kali diperkenalkan oleh International Labour
Organization (ILO) dan kini diadopsi oleh banyak negara, termasuk Indonesia. Di tanah air, pengukuran jumlah Youth NEET rutin dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), yang dilaksanakan dua kali setahun, pada bulan Februari dan Agustus.
Metode pengukuran NEET dilakukan dengan menghitung jumlah penduduk usia muda yang tidak bekerja, tidak bersekolah, serta tidak mengikuti pelatihan, lalu dibandingkan dengan total populasi usia muda.
Berdasarkan hasil Sakernas Agustus 2024, tingkat Youth NEET di Indonesia tercatat sebesar 20,31 persen. Artinya, dari sekitar 44 juta penduduk muda, terdapat sekitar 9 juta yang tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan.
Meski angka tersebut masih tergolong tinggi, ada tren positif karena jumlahnya menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2023, tingkat Youth NEET berada di angka 22,25 persen, sementara pada 2022 sebesar 23,22 persen, pada 2021 sebesar 22,40 persen, dan pada 2020 sebesar 24,28 persen.
Apakah Youth NEET Sama dengan Pengangguran?
Meski sama-sama tidak bekerja, Youth NEET dan pengangguran sebenarnya merupakan dua hal yang berbeda. Staf BPS, Desta Febriana Indriyantika, menjelaskan bahwa seseorang dikatakan menganggur apabila ia tidak memiliki pekerjaan, sedang mencari pekerjaan, dan bersedia untuk bekerja.
“Jadi tidak semua Youth NEET bisa dikategorikan sebagai pengangguran. Ada yang memang tidak aktif mencari kerja, seperti ibu rumah tangga muda atau anak muda yang fokus pada hobi,” jelas Desta, dikutip dari unggahan resmi BPS.
Secara definisi, pengangguran usia muda adalah penduduk berusia 15–24 tahun yang tidak memiliki pekerjaan dan sedang aktif mencari kerja, atau sedang mempersiapkan karier baru, atau bahkan sudah punya usaha tapi belum memulai kegiatan usahanya.
Youth NEET, Tantangan Bonus Demografi
Tingginya angka Youth NEET menjadi perhatian serius, terutama dalam konteks bonus demografi yang tengah dialami Indonesia. Seharusnya, penduduk usia produktif dapat menjadi kekuatan ekonomi baru. Namun, jika banyak anak muda yang tidak aktif di dunia kerja maupun pendidikan, potensi besar itu bisa terbuang sia-sia.
Faktor penyebab Youth NEET beragam, mulai dari putus asa mencari pekerjaan, keterbatasan akses pendidikan dan transportasi, hambatan ekonomi, hingga disabilitas. Oleh karena itu, diperlukan upaya serius untuk memperluas kesempatan pendidikan, pelatihan kerja, dan penciptaan lapangan kerja yang inklusif bagi generasi muda.
Dengan perhatian dan kebijakan yang tepat, diharapkan jumlah Youth NEET di Indonesia terus menurun, sehingga bonus demografi benar-benar bisa menjadi peluang emas untuk masa depan bangsa.***