INVERSI.ID – Sebuah video viral di media sosial memperlihatkan tiga siswi asal Jawa Barat menyampaikan unek-unek mereka secara langsung kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Dengan gaya bicara santun namun penuh ketegasan, mereka menyuarakan keresahan atas sikap sejumlah politisi yang dinilai hanya pandai berkomentar namun minim kontribusi nyata.
“Kami ingin para pemimpin tidak hanya pandai berbicara, tapi juga hadir nyata dengan karya dan solusi,” ujar salah satu siswi dalam video tersebut.
Dalam pernyataannya, para siswi tersebut menyampaikan usulan yang cukup mengejutkan namun bermakna, mereka menyatakan para politisi yang tidak jelas kerjanya sebaiknya dikirim ke barak militer untuk belajar disiplin dan memahami arti kerja keras serta pengabdian kepada rakyat.
Namun, pesan tersebut bukan disampaikan dengan kemarahan atau kebencian, melainkan sebagai bentuk harapan dan kepedulian terhadap masa depan bangsa.
“Kami ingin perubahan. Kami ingin pemimpin yang bekerja, bukan hanya bicara,” ucap salah satu dari mereka.
Pernyataan ini menunjukkan semakin kuatnya kesadaran dan keterlibatan generasi muda dalam isu sosial dan politik di Indonesia.
Respons Gubernur: Kritik yang Membangun
Menanggapi pernyataan tersebut, Gubernur Dedi Mulyadi, yang dikenal dengan program-program populisnya, termasuk pendidikan karakter berbasis militer, mengaku menghargai kritik tersebut.
“Saya menghargai keberanian dan ketulusan mereka. Ini bukti bahwa generasi muda kita peduli dan ingin ikut serta dalam perubahan,” ujar Dedi.
Ia menegaskan bahwa masukan dari anak muda sangat penting sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan publik yang lebih efektif dan relevan.
Program Pendidikan Karakter dan Pro Kontranya
Dedi Mulyadi memang tengah gencar menjalankan program pembinaan karakter di barak militer. Program ini mengirim siswa-siswa yang dianggap memiliki masalah kedisiplinan untuk mengikuti pelatihan selama 14 hari.
Tujuannya adalah membentuk generasi muda yang tangguh, disiplin, dan memiliki semangat bela negara. Namun, program ini juga mengundang kontroversi dari sejumlah pihak.
Beberapa pengamat menilai pendekatan tersebut terlalu keras dan berpotensi berdampak negatif pada psikologis anak. Kritik juga datang terkait dasar hukum dan efektivitas program dalam jangka panjang.
Meski demikian, Dedi tetap percaya bahwa pendekatan ini adalah bagian dari solusi pembinaan karakter remaja di era modern.
Harapan Generasi Z untuk Masa Depan
Pernyataan dari ketiga siswi ini menjadi simbol kuat tentang harapan generasi muda terhadap perubahan nyata dalam kepemimpinan. Mereka ingin pemimpin yang hadir langsung di tengah masyarakat, bukan sekadar hadir di layar kaca dengan retorika.
“Kami ingin masa depan yang lebih baik. Itu hanya mungkin kalau pemimpinnya benar-benar peduli dan bekerja untuk rakyat,” ungkap salah satu siswi.
Seruan mereka sekaligus menjadi pengingat bahwa generasi muda bukan hanya objek kebijakan, tetapi juga subjek yang aktif dan kritis, siap terlibat dalam proses perubahan bangsa.***