INVERSI.ID – Usia 18 hingga 23 tahun sering disebut sebagai usia emas dalam memasuki dunia kerja dan berkontribusi dalam pembangunan ekonomi. Kelompok usia ini didominasi oleh Generasi Z (Gen Z), generasi yang tumbuh di era digital dan dikenal adaptif terhadap teknologi. Namun, kesiapan mental mereka dalam menghadapi tantangan dunia kerja masih menjadi sorotan.
Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Fithriatus Shalihah, S.H., M.H., dosen Magister Hukum Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dalam kuliah bersama bertema “Gen Z di Dunia Kerja” yang digelar pada 5 Mei 2025 di Kampus IV UAD.
“Gen Z memiliki keinginan dan harapan besar, tetapi kesiapan mental dan keterampilan praktis masih perlu ditingkatkan. Ini menjadi tantangan bagi dunia pendidikan dan industri,” ujar Prof. Fithriatus.
Peran Perguruan Tinggi dalam Membentuk Mental Tangguh
Prof. Fithriatus menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab penting untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi realitas dunia kerja. Hal ini mencakup peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan keterampilan praktis, dan penyediaan akses terhadap pengalaman kerja sejak dini.
“Perlu adanya fasilitasi lapangan kerja skala kecil di kampus, agar mahasiswa punya pengalaman nyata sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja,” tambahnya.
Keseimbangan Hidup Jadi Prioritas Gen Z
Ciri khas Gen Z dalam bekerja berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka mengutamakan work-life balance, menghargai waktu pribadi, dan menghindari tekanan kerja yang berlebihan. Lingkungan kerja yang fleksibel, seperti sistem kerja remote atau hybrid, menjadi daya tarik utama bagi mereka.
“Gen Z sangat memperhatikan kesehatan mental. Jika tempat kerja tidak nyaman, mereka tidak ragu untuk pindah,” jelas Fithriatus.
Perilaku ini sering kali menimbulkan kesan bahwa Gen Z kurang loyal atau tidak tahan banting, meski di sisi lain menunjukkan bahwa mereka memiliki kesadaran tinggi terhadap kesejahteraan diri.
Suka Tantangan dan Cepat Belajar, Asalkan Didukung
Meski banyak tantangan, Gen Z juga membawa harapan besar. Mereka dikenal sebagai generasi yang cepat beradaptasi, menyukai tantangan, dan terbuka terhadap peluang pengembangan diri.
“Kabar baiknya, Gen Z punya semangat untuk berkembang. Mereka hanya perlu ruang yang tepat untuk mengekspresikan potensi,” kata Fithriatus.
Dengan pendekatan yang tepat dari dunia pendidikan dan dunia kerja, Gen Z bisa menjadi pendorong utama terciptanya lingkungan kerja yang inovatif, kreatif, dan kompetitif. Hal ini diharapkan dapat menekan angka pengangguran serta meningkatkan daya saing tenaga kerja muda Indonesia.***