INVERSI.ID – Kontroversi penolakan ormas, lirik lagu Hindia, dan ancaman pembatalan konser di Tasikmalaya menjadi sorotan publik menjelang gelaran festival musik Ruang Bermusik 2025. Musisi Hindia, yang sebelumnya diumumkan sebagai salah satu pengisi acara, menghadapi protes sejumlah organisasi masyarakat (ormas) yang menuding lirik lagunya mengandung unsur bertentangan dengan norma syariat.
Konser yang dijadwalkan berlangsung pada 20 Juli 2025 di Lanud Wiriadinata, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, menuai reaksi keras dari sebagian warga setempat. Protes yang disuarakan oleh ormas ini bahkan sempat viral di media sosial setelah video unjuk rasa tersebar luas.
Dalam video tersebut, tampak beberapa orang berkumpul di Tugu Asmaul Husna, Cihideung, sambil membentangkan spanduk berisi pesan penolakan. Salah satunya bertuliskan, “Konser bukan ancaman keimanan,” yang memperlihatkan keresahan mereka terhadap kehadiran Hindia di kota santri itu.
Lirik Lagu dan Tuduhan Unsur Satanisme
Protes dari ormas Tasikmalaya terhadap kehadiran Hindia dilatarbelakangi oleh anggapan bahwa beberapa lirik lagunya memiliki makna yang dinilai melenceng dari nilai-nilai keagamaan. Ketua Ormas Al Mumtaz Kota Tasikmalaya, Ustaz Hilmi Afwan, menyebut konser Hindia harus dibatalkan demi menjaga akidah generasi muda.
“Yang dipermasalahkan musik Hindia ada indikasi satanic yang memang melanggar norma syariat, terutama pemahaman simbol dajjal, baphomet, dan lambang ateis dengan jargon freemason,” ujar Hilmi, Minggu (13/7).
Salah satu lirik yang menjadi sorotan adalah potongan lagu Matahari Tenggelam rilisan 2023, yang berbunyi: “Ku doakan kita semua masuk neraka, panjang umur, matahari tenggelam dan selamat datang malam.”
Lirik ini dinilai tidak pantas oleh sebagian ulama dan dianggap sebagai bentuk glorifikasi terhadap simbol-simbol kegelapan.
“Konser musik Hindia harus dibatalkan dan tujuannya untuk menyelamatkan akidah generasi muda dari pengaruh musik Hindia yang disinyalir liriknya membawa penonton ke dalam neraka,” tambah Hilmi.
Seni dan Musik di Mata Ulama Tasikmalaya
Meski mendapat sorotan tajam, Hilmi menegaskan bahwa Tasikmalaya tidak menolak musik dan seni secara umum. Namun, pihaknya bersikap tegas jika sebuah pertunjukan dianggap melanggar norma syariat.
“Tasikmalaya tidak alergi dengan musik dan seni, tapi jika musik yang berbalut seni terindikasi adanya upaya penggiringan menjadi ateis, menjadi pemantik, semua ulama bersikap tegas menolak konser musik Hindia,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa konser musik Hindia dinilai membawa unsur penyambutan terhadap kekuatan kegelapan, yang menurutnya merupakan bagian dari satanisme. Pernyataan ini pun memicu perdebatan di media sosial, dengan sebagian netizen menilai penolakan itu berlebihan.
Respon Pemerintah Kota Tasikmalaya
Menanggapi kontroversi ini, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Raden Dicky, menyatakan bahwa pihak penyelenggara acara tidak memiliki niat buruk dalam menghadirkan Hindia ke Tasikmalaya. Ia juga menduga bahwa penolakan ini muncul karena terpengaruh insiden serupa di Banda Aceh beberapa waktu lalu.
“Saya yakin teman dari EO tidak ada maksud buruk sama sekali,” ujarnya.
“Mungkin berpikir sebelumnya sudah pernah, kayak kejadian di Aceh, kemungkinan menjadi pemicu utamanya,” tambahnya.
Dicky memastikan pemerintah kota akan mencoba mencari solusi terbaik agar konser bisa tetap berjalan dengan mematuhi aturan yang berlaku. Ia berharap semua pihak dapat menahan diri dan mengedepankan dialog untuk menyelesaikan polemik ini.
Insiden Serupa di Banda Aceh
Kontroversi penolakan konser Hindia di Tasikmalaya mengingatkan publik pada peristiwa di Banda Aceh bulan lalu. Konser yang rencananya digelar di Taman Budaya, Banda Aceh, pada 18 Juni 2025, dibatalkan secara mendadak.
Pembatalan itu terjadi karena pihak panitia belum mengantongi rekomendasi dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh, sehingga Polresta Banda Aceh tidak dapat mengeluarkan izin keramaian.
Kasus serupa ini memperlihatkan tantangan yang dihadapi musisi dalam menyelenggarakan konser di daerah yang memiliki norma religius yang ketat.
Penyelenggara Belum Beri Pernyataan Resmi
Hingga artikel ini ditulis, pihak penyelenggara Ruang Bermusik 2025 belum memberikan keterangan resmi terkait nasib konser Hindia di Tasikmalaya. Sejumlah pihak berharap panitia dapat segera memberikan klarifikasi agar publik mendapat kepastian mengenai keberlangsungan acara tersebut.
Di media sosial, perdebatan mengenai pro dan kontra konser Hindia masih berlangsung. Sebagian warganet menyayangkan keputusan ormas yang dinilai terlalu jauh mencampuri urusan seni dan ekspresi musisi. Sementara yang lain mendukung langkah ormas untuk melindungi nilai-nilai lokal dan moral masyarakat.
Polemik yang Perlu Dialog
Polemik konser Hindia di Tasikmalaya membuka kembali diskusi tentang batasan antara seni, kebebasan berekspresi, dan norma agama di masyarakat. Di satu sisi, seni menjadi ruang ekspresi yang penting bagi generasi muda. Namun di sisi lain, setiap karya seni tetap perlu mempertimbangkan nilai-nilai budaya dan keyakinan masyarakat setempat.
Dengan adanya dialog yang sehat antara musisi, penyelenggara, ulama, dan pemerintah daerah, diharapkan masalah ini dapat diselesaikan tanpa menimbulkan ketegangan yang lebih besar.