INVERSI.ID – Curhatorium inovasi platform kesehatan mental, dukungan peer-support, dan pendekatan gamifikasi kini hadir dalam sebuah aplikasi ramah anak muda bernama. Aplikasi ini menjadi angin segar di tengah stigma masyarakat terhadap orang-orang yang mencari bantuan psikologis.
Berkat idenya yang unik dan relevan dengan generasi muda, Curhatorium berhasil meraih pendanaan dalam ajang Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2025. Platform ini lahir dari keresahan akan stigma negatif yang kerap dialami individu saat mencoba mengakses layanan kesehatan mental.
“Banyak generasi muda merasa takut atau canggung untuk bercerita ke psikolog profesional. Curhatorium hadir sebagai ruang yang ringan, membumi, dan penuh empati untuk mereka,” ujar ketua tim pengembang Curhatorium, Usamah, mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga, Senin (14/7).
Kolaborasi Mahasiswa Lintas Fakultas
Curhatorium dikembangkan oleh tim mahasiswa Universitas Airlangga yang berkolaborasi lintas disiplin ilmu. Selain Usamah, tim ini terdiri dari Ni Putu Adina Saridewi dan Carin Ongwinata dari Fakultas Psikologi (FPsi), Ah. Dliyaul Adlha Jamalul Lail, serta I Gede Arya Saputra dari Fakultas Vokasi (FV).
Mereka bersepakat menciptakan platform digital yang menyasar generasi muda berusia 16 hingga 30 tahun. Kelompok usia ini dinilai paling rentan mengalami stres, depresi, dan tekanan akibat dinamika sosial maupun tuntutan kehidupan.
“Target kami adalah kelompok yang butuh ruang aman untuk bercerita tanpa merasa dihakimi. Kami ingin menciptakan pendekatan preventif melalui empati dan komunitas,” jelas Usamah.
Peer-Support dan Gamifikasi: Membumi dan Menyenangkan
Berbeda dengan platform kesehatan mental kebanyakan, Curhatorium menggunakan metode peer-support, yaitu dukungan sebaya. Pendekatan ini dinilai lebih ringan dan mampu menciptakan kedekatan emosional antar pengguna.
“Tidak semua orang siap langsung bercerita ke psikolog. Peer-support lebih relatable dan membantu proses healing terasa natural,” kata Usamah.
Untuk meningkatkan pengalaman pengguna, Curhatorium juga mengadopsi unsur gamifikasi. Fitur-fiturnya meliputi tes kesehatan mental, jurnal harian, konsultasi ringan, hingga misi-misi harian yang memberi poin pengalaman (experience points). Poin ini bisa membuka level baru dan lencana unik, membuat proses refleksi diri terasa progresif dan menyenangkan.
Sanny: Maskot yang Selalu Mendampingi
Salah satu elemen menarik dari Curhatorium adalah kehadiran maskot bernama Sanny, karakter matahari ceria yang menemani pengguna selama proses pemulihan. Pengguna sendiri dijuluki Lunar, yang secara filosofis mencerminkan hubungan harmonis antara matahari dan bulan.
Sanny secara aktif mengingatkan pengguna untuk konsisten dalam menjaga suasana hati, menyelesaikan misi, hingga bergabung dalam diskusi kelompok. Dengan cara ini, Curhatorium berupaya membuat proses healing tidak lagi terasa berat atau menakutkan.
“Dukungan mental bukan sesuatu yang eksklusif. Kami ingin semua orang bisa mengaksesnya dengan mudah, bahkan gratis. Bisnis penting, tapi dampak sosial juga jadi prioritas kami,” tegas Usamah.
Berawal dari Komunitas, Terbukti Efektif
Sebelum menjadi aplikasi digital, Curhatorium berawal dari sebuah komunitas kecil yang diuji menggunakan metode Randomized Controlled Trial (RCT). Hasil uji coba menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kesehatan mental para pesertanya.
Survei pasar juga menunjukkan antusiasme tinggi terhadap platform ini. Dari 67 responden awal, mayoritas menyatakan tertarik. Bahkan saat pre-launch, sebanyak 257 pengguna sudah mencoba platform ini dengan respon positif.
“Validasi pasar penting buat kami, supaya benar-benar sesuai kebutuhan pengguna. Kami ingin solusi yang nyata, bukan sekadar tren,” ujarnya.
Fitur-Fitur Unggulan dan Keamanan Data
Curhatorium dilengkapi berbagai fitur andalan untuk mendukung kesehatan mental pengguna, antara lain:
- Mood and Productivity Tracker
- Share and Talk
- Support Group Discussion
- Missions of the Day
- Deepcard (kartu refleksi)
- Chatbot pendukung mental
- Webinar tematik
Untuk menjaga kerahasiaan dan keamanan data pengguna, tim Curhatorium menerapkan SOP internal dengan sertifikasi ISO 27001. Semua interaksi dalam platform berlangsung sesuai kaidah pertolongan psikologis pertama, dengan perjanjian anonimitas untuk setiap mitra yang terlibat.
“Setiap pelanggaran dapat dilaporkan lewat website atau media sosial kami. Kami ingin pengguna merasa aman, nyaman, dan terlindungi,” tandas Usamah.
Hadir untuk Anak Muda yang Membutuhkan
Kehadiran Curhatorium menjadi jawaban bagi generasi muda yang butuh ruang aman untuk menjaga kesehatan mental mereka. Dengan menggabungkan peer-support, gamifikasi, dan komunitas yang suportif, platform ini mampu memberikan pengalaman healing yang ringan, menyenangkan, dan penuh empati.
Di era ketika stigma terhadap kesehatan mental masih kuat, inovasi seperti Curhatorium sangat dibutuhkan. Bagi anak muda, platform ini bukan hanya membantu mereka mengenali diri sendiri, tapi juga membuktikan bahwa berbagi cerita bukanlah kelemahan, melainkan langkah awal untuk pulih.