INVERSI.ID – Empeng untuk dewasa kini menjadi tren nyeleneh yang sedang ramai di kalangan anak muda di China. Bukan sekadar mainan, empeng ini diklaim mampu meredakan kecemasan, membantu tidur lebih nyenyak, bahkan mendukung seseorang yang sedang berusaha berhenti merokok. Fenomena ini sontak menarik perhatian dunia, terutama karena empeng biasanya identik dengan bayi bukan orang dewasa.
Empeng untuk dewasa ini menjadi sorotan bukan hanya karena keanehannya, tetapi juga karena efek psikologis yang diklaim dapat dirasakan oleh para penggunanya. Banyak anak muda di China mengaku merasa lebih rileks, aman, dan bahkan lebih mudah tidur saat menggunakan empeng ini. Tak heran jika produk ini mulai laris manis di toko online lokal.
Tidak sedikit yang menyebut bahwa empeng untuk dewasa ini menjadi bentuk pelarian dari tekanan hidup yang dialami generasi muda di Tiongkok. Terutama dengan meningkatnya tekanan kerja, kecemasan akan masa depan, dan krisis identitas yang dirasakan banyak Gen Z di sana. Meski demikian, tren ini juga menuai banyak kritik, terutama dari para dokter dan psikolog.
Produk Viral: Terjual Ribuan per Bulan
Fenomena empeng untuk dewasa ini seolah menjadi peluang bisnis baru. Berdasarkan laporan media lokal The Cover, empeng versi dewasa ini dibuat lebih besar dari versi bayi. Harga produk pun bervariasi, mulai dari 10 yuan (sekitar Rp22.000) hingga 500 yuan (sekitar Rp1,1 juta). Dalam sebulan, beberapa toko online mampu menjual lebih dari 2.000 unit empeng dewasa.
Bagian puting empeng untuk dewasa ini dibuat transparan dan pelindungnya tersedia dalam beragam warna menarik. Di platform belanja populer seperti Taobao dan JD.com, deskripsi produk menyebut bahwa empeng ini memiliki kualitas tinggi, lembut, dan tidak mengganggu pernapasan.
“Saya merasa lebih tenang dan nyaman setelah mengisap empeng untuk dewasa ini, apalagi saat sedang cemas,” tulis salah satu ulasan pembeli.
Ada juga pengguna yang mengaku empeng untuk dewasa ini membantu mereka dalam proses berhenti merokok.
Banyak pembeli yang menggunakan empeng untuk dewasa ini mengaku merasa “dimanjakan”, seolah kembali ke masa kanak-kanak. Empeng tersebut menciptakan sensasi aman dan nyaman, mirip seperti saat bayi menyusu. Secara psikologis, ini disebut sebagai bentuk regresi di mana seseorang kembali ke tahap perkembangan yang lebih awal karena merasa kewalahan menghadapi realita.
Zhang Mo, seorang psikolog dari Chengdu, menanggapi fenomena ini dengan nada kritis. Menurutnya, penggunaan empeng oleh orang dewasa adalah bentuk pelarian dari tantangan hidup.
“Solusi sebenarnya bukanlah memperlakukan diri seperti anak kecil, melainkan menghadapi tantangan secara langsung dan mencari cara sehat untuk mengatasinya,” katanya kepada media lokal.
Kekhawatiran Medis: Risiko Kesehatan di Balik Empeng Dewasa
Meski banyak klaim positif, kalangan medis menyoroti efek negatif dari penggunaan empeng untuk dewasa dalam jangka panjang. Tang Caomin, seorang dokter gigi di Chengdu, memperingatkan potensi kerusakan pada struktur mulut.
“Jika empeng digunakan lebih dari tiga jam per hari selama satu tahun, posisi gigi dapat berubah. Selain itu, bisa menyebabkan rasa sakit saat mengunyah dan membatasi kemampuan membuka mulut secara normal,” jelas Tang.
Tak hanya itu, dokter juga memperingatkan bahaya tersedak, terutama bila empeng digunakan saat tidur. Beberapa bagian empeng bisa saja terhirup ke saluran napas dan menyebabkan kondisi darurat medis.
Seiring popularitas empeng untuk dewasa meningkat, video-video tentang tren ini pun membanjiri media sosial Tiongkok. Salah satu tagar terkait bahkan telah ditonton lebih dari 60 juta kali di platform sejenis TikTok versi China, yaitu Douyin. Netizen memberikan beragam reaksi, dari penasaran, geli, hingga mengkritik habis-habisan.
“Dunia ini sudah gila! Sekarang orang dewasa pakai empeng?” tulis salah satu komentar.
“Ini sih bukan gaya hidup, tapi pajak kebodohan,” tulis lainnya dengan nada sarkastik.
Namun, ada juga yang membela. Mereka berpendapat bahwa selama tidak merugikan orang lain, kebiasaan ini sah-sah saja. Beberapa bahkan mengaitkan penggunaan empeng dengan bentuk self-healing dan cara alternatif mengurangi stres.
Gaya Hidup Anti-Mainstream di Kalangan Gen Z China
Fenomena empeng dewasa bukan satu-satunya tren aneh di kalangan Gen Z Tiongkok. Sebelumnya, publik juga dikejutkan dengan gaya hidup “rat people” atau manusia tikus—sekelompok anak muda yang memilih hidup menyendiri di apartemen bawah tanah, bekerja malam, dan menghindari interaksi sosial. Ada pula tren tidur dengan boneka, minum susu dari botol bayi, hingga mengenakan pakaian bergaya kartun Jepang sebagai bentuk ekspresi diri.
Tren-tren ini memperlihatkan bahwa generasi muda di Tiongkok tengah mengalami gelombang tekanan psikologis dan sosial yang cukup besar. Banyak dari mereka mencari pelarian atau “zona aman” dengan cara-cara yang menurut sebagian orang dianggap tidak biasa atau bahkan tidak rasional.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Meski tren empeng dewasa terlihat aneh, fenomena ini bisa menjadi refleksi serius tentang kesehatan mental generasi muda. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh tekanan, banyak orang merasa kesulitan untuk mengelola stres dan kecemasan. Alih-alih menghadapinya secara langsung, sebagian memilih mencari kenyamanan dari simbol masa kecil—seperti empeng.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di China. Di berbagai belahan dunia, tren-tren serupa juga mulai bermunculan. Di Jepang, misalnya, ada tren menyewa “ayah sewaan” untuk pelukan dan curhat. Di Korea Selatan, terapi menangis bersama di tempat umum menjadi populer. Semua ini menunjukkan satu hal: dunia modern sedang haus akan rasa aman, perhatian, dan kedamaian.
Penggunaan empeng dewasa mungkin bisa memberikan kenyamanan sesaat, tetapi tidak menyelesaikan akar masalah. Jika kamu merasa stres, cemas, atau burnout, ada banyak cara lain yang lebih sehat untuk mengatasinya—seperti olahraga ringan, meditasi, journaling, atau mencari bantuan profesional.
Tren ini bisa dijadikan bahan refleksi, bukan ditiru mentah-mentah. Terutama bagi pembaca muda, penting untuk menyadari bahwa healing tidak harus aneh dan nyeleneh. Yang penting adalah mengenali apa yang benar-benar kamu butuhkan—bukan sekadar mengikuti tren viral.
Di Balik Empeng, Ada Cerita Lebih Besar
Empeng dewasa mungkin hanya produk kecil, tapi dampaknya merefleksikan sesuatu yang besar, kebutuhan akan kenyamanan dalam dunia yang semakin tidak pasti. Fenomena ini juga menjadi pengingat pentingnya membicarakan kesehatan mental secara terbuka, tanpa stigma, dan tanpa perlu malu.
Kalau kamu merasa cemas atau tertekan, itu bukan hal memalukan. Yang penting adalah mencari cara sehat untuk mengelolanya. Jangan biarkan tekanan hidup membuatmu lari ke kebiasaan yang justru bisa berisiko bagi kesehatan.