INVERSI.ID – Kenakalan dan stres pada remaja semakin menjadi perhatian serius di era modern. Menurut dokter spesialis kesehatan jiwa RS Murni Teguh Tuban, dr. Amita Rouli Purnama Sitanggang, SpKJ, kasus ini meningkat karena adanya perubahan hormon yang memengaruhi emosi sekaligus perilaku remaja. Hal tersebut disampaikannya dalam program Rahina Ayu di Programa 4 RRI Denpasar, beberapa waktu lalu.
Fenomena kenakalan dan stres pada remaja sejatinya bukan hal baru, namun kini semakin kompleks karena remaja menghadapi tekanan ganda: perubahan internal dalam tubuh dan tantangan eksternal dari lingkungan.
“Masa remaja adalah fase penuh perubahan fisik, hormon, dan emosi yang signifikan. Banyak dari mereka bingung menghadapi perubahan tubuh dan emosi sehingga memengaruhi perilakunya,” jelas dr. Amita.
Lebih jauh, kenakalan dan stres pada remaja dapat terjadi karena minimnya pendampingan. Jika orang tua atau orang terdekat gagal memahami proses perubahan tersebut, remaja cenderung memendam masalah sendiri tanpa tahu cara meminta pertolongan. Kondisi ini bisa memperburuk stres, bahkan berujung pada perilaku menyimpang.
Masa Remaja: Fase Penuh Pergolakan
Masa remaja merupakan periode transisi yang sangat penting dalam perkembangan seseorang. Pada fase ini, hormon-hormon reproduksi mulai aktif, sehingga memicu perubahan fisik seperti pertumbuhan badan, suara, maupun penampilan. Namun, yang sering kali lebih sulit dihadapi adalah perubahan emosi yang menyertai.
Remaja sering merasa bingung dengan perasaan yang naik turun. Mereka bisa merasa gembira sesaat, lalu tiba-tiba sedih atau marah tanpa alasan jelas. Pergolakan emosional ini wajar, tetapi tanpa pendampingan, remaja bisa merasa terasing bahkan salah arah dalam merespons situasi sehari-hari.
Menurut dr. Amita, peran keluarga menjadi krusial. Orang tua seharusnya hadir sebagai pendengar sekaligus pembimbing, bukan sekadar pengatur.
“Anak adalah cerminan orang dewasa, maka orang tua harus memberi contoh yang baik,” tegasnya.
Komunikasi yang Kurang Bikin Remaja Rentan
Salah satu penyebab utama stres pada remaja adalah kurangnya komunikasi dengan orang tua. Banyak anak akhirnya memilih memendam perasaan karena takut dihakimi atau dianggap belum dewasa. Padahal, keterbukaan bisa menjadi jalan keluar untuk mengurangi beban psikologis mereka.
Dr. Amita menjelaskan, ketika komunikasi terputus, remaja lebih mudah mencari validasi di luar rumah. Mereka mungkin merasa lebih diterima oleh teman sebaya, meskipun lingkaran pertemanan itu tidak selalu membawa pengaruh positif.
Dari sinilah sering muncul perilaku yang dianggap kenakalan remaja, seperti bolos sekolah, pulang larut malam, atau terlibat dalam aktivitas berisiko. Perilaku ini sebenarnya bukan sekadar bentuk pemberontakan, tetapi cara mereka melampiaskan stres dan mencari identitas.
Kenakalan Remaja sebagai Bentuk Pelarian
Fenomena kenakalan remaja sering kali salah dimaknai sekadar perilaku negatif. Padahal, dalam banyak kasus, hal itu adalah ekspresi dari tekanan batin dan kurangnya ruang sehat untuk mengeluarkan emosi.
Remaja yang merasa tidak dipahami di rumah akan cenderung mencari tempat lain untuk merasa diterima. Teman sebaya sering menjadi pilihan utama karena mereka dianggap lebih mengerti. Namun, tanpa arahan yang tepat, hal ini bisa menjerumuskan remaja ke perilaku berisiko.
“Kenakalan seperti bolos sekolah atau pulang larut malam sering kali bukan karena mereka ingin melawan, tetapi karena butuh pelampiasan stres,” kata dr. Amita.
Oleh karena itu, alih-alih hanya memberi hukuman, orang tua sebaiknya mencoba memahami akar masalah dan mencari solusi bersama.
Peran Orang Tua dalam Pendampingan
Pendampingan orang tua merupakan faktor kunci dalam membantu remaja melewati fase perubahan ini. Orang tua dituntut untuk lebih terbuka, sabar, dan mau mendengarkan tanpa cepat menghakimi.
Dr. Amita menekankan bahwa orang tua perlu memberi contoh yang baik dalam mengelola stres. Misalnya, dengan menunjukkan sikap sabar ketika menghadapi masalah, atau berbicara dengan tenang saat terjadi konflik. Sikap orang tua yang konsisten akan menjadi cermin bagi anak-anaknya.
Selain itu, orang tua perlu menyediakan waktu berkualitas untuk bersama remaja, meski hanya sekadar makan malam bersama atau melakukan aktivitas ringan. Hal sederhana seperti ini bisa menciptakan rasa aman dan keterikatan emosional yang kuat.
Selain keluarga, lingkungan sekolah juga memiliki peran besar dalam membentuk perilaku remaja. Sekolah bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga ruang sosial di mana remaja belajar berinteraksi, bekerja sama, dan menghadapi tekanan kelompok.
Jika sekolah gagal menciptakan suasana inklusif dan sehat, remaja bisa merasa semakin tertekan. Oleh karena itu, kerja sama antara guru, konselor sekolah, dan orang tua menjadi sangat penting. Program konseling atau ekstrakurikuler positif dapat menjadi wadah penyaluran energi sekaligus ruang aman bagi remaja untuk mengekspresikan diri.
Menemukan Solusi Bersama
Menghadapi kenakalan dan stres pada remaja tidak bisa dilakukan dengan pendekatan otoriter semata. Diperlukan kombinasi empati, komunikasi terbuka, dan pendampingan berkelanjutan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Membangun komunikasi sehat – mendengarkan tanpa menghakimi.
- Memberikan contoh nyata – orang tua sebagai role model pengendalian emosi.
- Mendorong kegiatan positif – seperti olahraga, seni, atau aktivitas komunitas.
- Bekerja sama dengan sekolah – memanfaatkan konseling dan kegiatan ekstrakurikuler.
- Meningkatkan literasi emosi – mengajarkan remaja mengenali dan mengelola perasaan.
Dengan pendekatan ini, remaja dapat lebih siap menghadapi perubahan hormon dan emosi, sekaligus mengurangi risiko kenakalan yang merugikan diri mereka sendiri.
Kasus kenakalan dan stres pada remaja semakin meningkat akibat perubahan hormon yang memengaruhi emosi serta perilaku. Kurangnya komunikasi dengan orang tua dan lingkungan yang kurang mendukung membuat remaja sering mencari validasi di luar rumah, bahkan lewat perilaku berisiko.
Namun, solusi selalu ada. Dengan komunikasi terbuka, pendampingan orang tua, dukungan sekolah, dan aktivitas positif, remaja bisa melewati fase ini dengan lebih sehat. Orang tua pun diingatkan untuk menjadi teladan, karena anak adalah cerminan orang dewasa.
Generasi muda membutuhkan ruang untuk didengar, dipahami, dan diarahkan. Jika semua pihak berperan aktif, maka kenakalan dan stres pada remaja bisa ditekan, digantikan dengan perkembangan yang lebih sehat dan produktif.