Inversi Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, memberikan dukungan penuh terhadap langkah konkret Badan Gizi Nasional (BGN) dalam memperluas rantai pasok kebutuhan pangan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Salah satu fokus utama yang ia dorong adalah pelibatan peternak bebek lokal di seluruh Indonesia sebagai pemasok komoditas telur. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem ekonomi kerakyatan sekaligus memastikan ketersediaan protein hewani yang berkualitas bagi para penerima manfaat.
Mendorong Formalisasi Kemitraan melalui MoU
Dalam pernyataan resminya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Nurhadi menekankan urgensi percepatan pembentukan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) antara Badan Gizi Nasional dengan Persatuan Peternak Bebek Nasional (PBN).
Menurutnya, payung hukum kerja sama yang kuat akan memberikan kepastian pasar bagi peternak lokal sekaligus menjamin keberlangsungan suplai ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Namun, legislator dari Fraksi NasDem ini juga mengingatkan bahwa kebijakan nasional harus tetap mempertimbangkan karakteristik geografis dan profil demografis peternak. “Negara harus hadir dengan data yang komprehensif. BGN perlu memetakan secara detail profil peternak yang tergabung dalam PBN,” ujar Nurhadi.
Ia menambahkan bahwa berbeda dengan industri ayam petelur yang distribusinya cenderung merata, populasi peternak bebek memiliki karakteristik terpusat pada wilayah-wilayah tertentu (sentra). Oleh karena itu, skema kerja sama perlu disusun berbasis pada kebutuhan dan potensi masing-masing kabupaten atau kota, sehingga efisiensi distribusi dapat tercapai.
Realisasi di Lapangan: Margin Keuntungan dan Dampak Ekonomi
Nurhadi mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil tinjauan lapangan ke sejumlah dapur SPPG, penyerapan telur bebek khususnya olahan telur asin telah menunjukkan tren positif di beberapa daerah, terutama di Jawa Timur. Fenomena ini memberikan optimisme bahwa bisnis telur bebek memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan bagi peternak skala lokal.
Berdasarkan analisis biaya produksi yang ia peroleh, harga beli di tingkat SPPG berada di kisaran Rp2.500 per butir. Dengan estimasi biaya produksi sekitar Rp1.875 per butir, peternak masih dapat menikmati margin keuntungan yang cukup kompetitif.
“Di wilayah Jawa Timur, khususnya Blitar yang memiliki populasi hingga 10.000 ekor bebek, penggunaan bahan baku lokal telah berjalan. Ini adalah contoh nyata bagaimana program MBG mampu memberikan dampak langsung terhadap pendapatan peternak,” jelasnya.
Solusi Inovatif: Pemanfaatan Maggot untuk Efisiensi Pakan
Menanggapi tantangan klasik yang sering dikeluhkan peternak, yakni tingginya harga pakan komersial yang menggerus profitabilitas, Nurhadi menawarkan solusi berbasis ekonomi sirkular. Ia mengusulkan pemanfaatan limbah sisa makanan dari dapur-dapur SPPG untuk budidaya maggot (larva lalat Black Soldier Fly).
Maggot dikenal memiliki kandungan protein yang sangat tinggi, berkisar antara 40 hingga 50 persen, sehingga sangat ideal sebagai bahan baku pakan ternak alternatif yang jauh lebih ekonomis dibandingkan pakan pabrikan.
“Pola kerja sama ini bisa menjadi solusi jitu. Sampah organik dari sisa penyajian makanan MBG dikelola untuk memproduksi maggot, dan kemudian hasilnya digunakan untuk pakan ternak. Jika sistem ini diterapkan, biaya operasional peternak bisa ditekan secara signifikan sekaligus menyelesaikan masalah pengelolaan limbah secara mandiri,” terang Nurhadi.