JAKARTA- Aktris papan atas Prilly Latuconsina kembali jadi sorotan publik Indonesia setelah menyalakan badge “Open to Work” di akun LinkedIn miliknya — langkah yang pada awalnya dipuji sebagai usaha tulus mencari pengalaman baru, namun kemudian memicu kritik tajam dan tudingan kampanye pemasaran yang dinilai tidak peka terhadap kondisi pencari kerja.
Pada 25 Januari 2026, Prilly mengunggah status “Open to Work” di LinkedIn setelah resmi mengundurkan diri dari rumah produksi Sinemaku Pictures, yang ia dirikan bersama Umay Shahab. Status ini segera menarik perhatian netizen dan profesional: akun LinkedIn-nya kemudian dibanjiri lebih dari 30 ribu permintaan koneksi baru dari berbagai perusahaan, organisasi, dan pelaku usaha. Prilly sendiri menyatakan terkejut dan berterima kasih atas antusiasme tersebut.
Untuk merasakan dunia kerja secara langsung, ia kemudian menjalani pengalaman kerja di luar industri hiburan — menjadi offline sales produk di Summarecon Mall Bekasi, hingga mengaku ingin mencoba interaksi langsung dengan konsumen serta pengalaman naik KRL pada jam sibuk Jakarta.
“Deg-degan banget, karena mereka nawarin aku mulai kerja 30 Januari 2026,” ujar Prilly soal pengalaman barunya sebagai offline sales dikutip dari LinkedIn miliknya.
Reaksi publik awalnya mendukung upaya Prilly keluar dari zona nyaman untuk turun gunung. Banyak netizen dan profesional yang melihat langkahnya sebagai bentuk kerendahan hati dan inspiratif.
Namun, narasi positif itu berubah drastis ketika banyak pengguna media sosial menilai langkah tersebut bukan sekadar eksplorasi diri, melainkan bagian dari strategi pemasaran kampanye produk pasta gigi yang menggunakan status “Open to Work” sebagai properti iklan.
Analisis netizen di Twitter dan Threads menunjukkan komentar yang pedas. Sebagian menyebut aksi itu seperti “prank terhadap jutaan pencari kerja” yang memakai tagar sama demi harapan kerja nyata di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
Sejumlah akun bahkan menyindir bahwa pendekatan ini “tidak peka sosial” dan seperti memperolok perjuangan mereka yang benar-benar membutuhkan pekerjaan.
Kritik utama terhadap Prilly bukan pada fakta bahwa ia bekerja, tetapi cara ia memanfaatkan simbol yang sangat lekat dengan perjuangan pencari kerja. Banyak netizen menilai bahwa badge “Open to Work” bagi banyak orang di Indonesia adalah simbol keterdesakan ekonomi, persaingan ketat di pasar kerja, dan harapan untuk bertahan hidup — sesuatu yang jauh berbeda dari pengalaman seorang figur publik mapan.
Di sisi lain, ada pula yang memandang bahwa setiap individu — termasuk figur publik — memiliki hak untuk mengeksplorasi peluang baru dan mencoba pekerjaan di luar bidangnya sebagai bagian dari pertumbuhan pribadi atau strategi pemasaran kreatif.
Indonesia sedang menghadapi tantangan serius di pasar tenaga kerja, termasuk pertumbuhan penduduk usia produktif, kompetisi ketat di dunia kerja, serta gejolak PHK yang dialami banyak sektor industri — semua ini membuat simbol “Open to Work” menjadi sarat makna bagi jutaan pencari kerja.
Kritik terhadap langkah Prilly menunjukkan bahwa figur publik perlu lebih peka terhadap simbol sosial yang mereka gunakan — terutama ketika simbol tersebut beresonansi kuat dengan isu yang menyangkut perjuangan hidup sehari-hari banyak orang.
Kasus Prilly Latuconsina bukan hanya soal selebritas yang mencari pengalaman baru. Ini tentang sensitivitas sosial, simbol perjuangan pencari kerja, dan bagaimana narasi yang sama dapat berarti sangat berbeda bagi mereka yang hidupnya bergantung pada peluang kerja itu sendiri.
Apakah ini strategi pemasaran yang cerdas, atau langkah yang kebablasan dan kurang empatik? Publik masih terus berdebat — dan mungkin itulah yang membuat cerita ini tetap viral dan jadi pembahasan netizen.