INVERSI.ID – Nama Josh Robinson mendadak jadi bahan pembicaraan di kalangan pecinta sepak bola Asia Tenggara. Bek muda berusia 20 tahun itu dikabarkan tengah dilirik untuk dinaturalisasi menjadi pemain tim nasional Malaysia. Namun, di tengah isu hangat soal naturalisasi ilegal di Negeri Jiran, status Robinson langsung bikin banyak orang penasaran.
Lahir di London, Inggris, Robinson merupakan jebolan akademi salah satu klub paling bergengsi di dunia — Arsenal. Pemain kelahiran 20 Desember 2004 ini pernah mencatatkan 65 penampilan di berbagai ajang untuk tim muda The Gunners sejak bergabung pada 2016. Ia dikenal sebagai bek serbabisa yang bisa bermain di berbagai posisi, mulai dari bek tengah, bek kanan, sampai gelandang bertahan.
Pada 2023, Robinson sempat meneken kontrak profesional bersama Arsenal, tapi kariernya di klub itu tidak berlangsung lama. Di pertengahan musim 2024, ia memutuskan pindah ke Wigan Athletic, klub yang bermain di Divisi 3 Liga Inggris. Sayangnya, perjalanannya di Wigan juga tidak berjalan sesuai harapan karena ia tak mencatat satu pun menit bermain. Menurut data Transfermarkt, saat ini Robinson berstatus sebagai free agent alias tidak terikat kontrak dengan klub mana pun.
Kondisi tersebut membuat rumor soal dirinya akan pindah kewarganegaraan dan memperkuat timnas Malaysia makin kencang. Tapi, di tengah ramainya skandal naturalisasi yang baru-baru ini mengguncang dunia sepak bola Malaysia, status keturunan Robinson ikut dipertanyakan publik.
Mengaku Berdarah Malaysia dari Garis Ibu
Sebenarnya, kabar tentang hubungan Robinson dengan Malaysia bukan hal baru. Dalam wawancara lama yang kembali viral, Robinson pernah mengungkap kalau ibunya adalah campuran Malaysia dan Inggris. Sementara sang ayah berasal dari Jamaika.
“Saya dibesarkan di kawasan Leyton di London Timur,” ucapnya, dikutip dari artikel di situs resmi Arsenal yang terbit pada 24 Februari 2024.
“Latar belakang keluarga saya adalah ayah saya berasal dari Jamaika dan ibu saya dari Malaysia, dan Inggris,” lanjutnya.
Pernyataan ini menjadi dasar kuat kenapa namanya masuk radar Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM). Namun, karena belakangan muncul skandal naturalisasi ilegal yang melibatkan tujuh pemain asing, publik jadi lebih skeptis. Tujuh pemain tersebut — Facundo Garces, Jon Irazabal, Hector Hevel, Joao Figueiredo, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, dan Gabriel Palmero — diduga memperoleh status kewarganegaraan Malaysia dengan cara yang tidak sah.
Kasus itu membuat pemerintah dan FAM kini jauh lebih berhati-hati. Setiap pemain yang mengaku punya darah Malaysia akan diperiksa secara mendalam, termasuk keabsahan dokumen silsilah keluarganya.
Meski begitu, kalau memang silsilah Robinson terbukti valid, peluangnya untuk memperkuat Harimau Malaya tetap terbuka lebar. Sebagai pemain muda yang tumbuh di sistem sepak bola Inggris, dia bisa jadi tambahan kekuatan besar bagi lini pertahanan Malaysia.
“Saya juga menyukai pekerjaan bertahan, jadi ini peran yang sempurna bagi saya,” kata Robinson yang kini tengah menunggu klub baru.
Selain itu, Robinson juga mengaku pengalaman bermain sebagai winger di masa mudanya sangat membantu saat ia dipindahkan ke posisi bek sayap.
“Pengalaman sebagai winger membantu saya beradaptasi menjadi bek sayap karena saat ini Anda harus maju dan mendukung serangan,” ujarnya.
Dengan fleksibilitas seperti itu, ia bisa jadi pemain yang berharga dalam sistem permainan modern. Malaysia sendiri sedang butuh pemain bertahan muda yang bisa beradaptasi dengan berbagai formasi.
Malaysia Kini Super Ketat Soal Naturalisasi
Belajar dari kasus sebelumnya, FAM tampaknya tak mau gegabah lagi. Setelah publik Malaysia dibuat heboh dengan dugaan pemalsuan dokumen pemain-pemain asing, kini setiap kandidat naturalisasi akan melewati proses pemeriksaan super ketat.
Pemilik klub Johor Darul Ta’zim (JDT), Tunku Ismail Sultan Ibrahim, bahkan ikut angkat bicara dan meminta semua pihak yang punya informasi tentang pemain berdarah Malaysia untuk langsung berkoordinasi dengan federasi.
“Setiap pemilik klub atau pihak terlibat dalam sepak bola Malaysia – baik dari asosiasi sepak bola negara bagian, pemilik klub, atau CEO – jika mereka memiliki agen atau informasi tentang pemain berketurunan Malaysia yang memenuhi syarat untuk mewakili negara, hendaklah menghubungi FAM,” ujarnya.
“FAM kemudian harus memberikan detail yang relevan kepada pemerintah,” lanjut sosok yang akrab disapa Tunku Mahkota Johor (TMJ) itu, seperti dikutip dari Scoop.
Langkah ini dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang. Malaysia ingin memastikan setiap pemain naturalisasi benar-benar memenuhi syarat, baik dari sisi legalitas maupun silsilah keluarga.
Di sisi lain, beberapa pengamat menilai, jika Malaysia berhasil memverifikasi latar belakang Robinson dan ia bersedia memperkuat tim nasional, itu bisa jadi keuntungan besar. Pengalamannya di Inggris bisa membawa mentalitas baru ke skuad Harimau Malaya yang sedang berupaya memperbaiki peringkat FIFA dan prestasi di kawasan ASEAN.
Namun, sampai semua proses verifikasi selesai, status Robinson akan tetap jadi tanda tanya. Publik tentu berharap FAM lebih transparan kali ini, terutama setelah kasus yang menimpa tujuh pemain naturalisasi sebelumnya.
Kalau akhirnya Robinson benar-benar sah menjadi warga Malaysia dan membela tim nasional, kisahnya bisa jadi salah satu contoh sukses naturalisasi yang dilakukan dengan cara yang benar. Tapi kalau tidak, ya publik Malaysia tampaknya akan semakin skeptis terhadap program naturalisasi pemain keturunan di masa depan.
Satu hal yang jelas: sepak bola Malaysia saat ini sedang berada di persimpangan antara ambisi untuk bersaing di level internasional dan keharusan menjaga integritas sistemnya. Di tengah situasi itu, nama Josh Robinson jadi simbol menarik — antara harapan baru atau kontroversi lanjutan.