JAKARTA– Panggung politik Indonesia yang tenang tiba-tiba bergemuruh. Belum genap dua tahun pemerintahan berjalan, Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), melempar alarm politik yang mengejutkan dengan menyatakan kepuasan dan siap mendukung Presiden Prabowo Subianto untuk periode kedua.
Pernyataan yang dilontarkan Cak Imin usai membawa pengurus PKB menemui Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Rabu (4/2/2026) bukan sekedar basa-basi politik.Ini deklarasi dini yang efektif menekan tombol “mulai” untuk kontestasi 2029 dan memaksa semua pemain politik, pro atau kontra, untuk menunjukkan kartu mereka.
“Kami puas di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, kami yakin Pak Prabowo akan sukses memimpin kita bukan hanya lima tahun bahkan 10 tahun yang akan dating,” ujarnya di depan Istana Negara, kemarin.
Manuver PKB ini ibarat pisau bermata dua bagi internal Koalisi Indonesia Maju. Di satu sisi, dukungan ini memperkuat citra soliditas pemerintahan. Namun di sisi lain, langkah ini mengusik kenyamanan partai-partai besar lain yang juga memiliki agenda tersembunyi untuk 2029.
Partai Golkar, misalnya. Salah satu pilar utama kemenangan Prabowo, Golkar jelas terusik. Partai berlambang beringin ini secara tradisional selalu ingin mengusung kadernya sendiri, entah sebagai capres atau cawapres. Langkah PKB ini seolah ‘mengunci’ posisi capres hanya untuk Prabowo dan mempersempit ruang negosiasi Golkar.
Sumber internal Golkar yang enggan disebutkan namanya membisikkan bahwa manuver PKB ini “terlalu terburu-buru dan mendahului kesepakatan bersama.” Golkar, yang mungkin berharap membuka wacana capres alternatif dari internal mereka, kini dipaksa untuk ikut dalam irama yang dimainkan Cak Imin.
Sedangkan, Partai Gerindra tentu menyambut baik dukungan ini. Namun, di balik layar, elite Gerindra mungkin juga waspada. Dukungan tanpa syarat dari PKB ini pasti akan datang dengan ‘mahar’ politik yang tidak murah. “Dukungan ini memperkuat posisi Pak Prabowo, tapi kami tidak naif. PKB sedang berinvestasi, dan mereka pasti akan menagih ‘dividen’-nya nanti, kemungkinan besar dalam bentuk kursi cawapres atau posisi kabinet yang sangat strategis,” ujar seorang fungsionaris Gerindra.
Sementara, Partai-partai menengah seperti Demokrat dan PAN berada dalam posisi yang lebih sulit. Mereka tidak memiliki kekuatan sebesar Golkar atau PKB untuk menyodorkan kader sebagai prioritas utama. Langkah PKB ini membuat posisi tawar mereka semakin lemah. Mereka dihadapkan pada pilihan, ikut-ikutan mendukung Prabowo dua periode untuk mengamankan posisi, atau diam dan berisiko tertinggal dari ‘kereta koalisi’ yang sudah melaju kencang.
Cak Imin jelas sedang memainkan pertaruhan besar. Dengan menjadi yang pertama mendeklarasikan dukungan, ia berharap menjadi yang paling diingat dan diprioritaskan oleh Prabowo. Ia ingin mengunci posisi PKB sebagai ‘kingmaker’ atau setidaknya sebagai penentu utama calon wakil presiden pendamping Prabowo di 2029.
Namun, langkah ini juga berisiko. Jika ternyata konstelasi politik berubah, atau jika Prabowo pada akhirnya memilih ‘pasangan’ lain yang lebih strategis dari partai yang lebih besar, PKB bisa berakhir dengan tangan hampa.
Satu hal yang pasti, manuver Cak Imin telah berhasil membongkar ketenangan palsu di panggung politik. Genderang perang menuju 2029 telah ditabuh, dan semua mata kini tertuju pada reaksi balasan dari para raksasa politik lainnya.