Konser BLACKPINK di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada 1–2 November 2025 bukan hanya menjadi ajang hiburan bagi para penggemar, tetapi juga ladang cuan bagi mereka yang jeli melihat peluang. Di tengah euforia ribuan BLINK—sebutan untuk penggemar BLACKPINK—dua penonton bernama Nasa dan Chan berhasil mencuri perhatian. Bukan karena aksi fanboying atau cosplay, melainkan karena keberhasilan mereka meraup jutaan rupiah hanya dengan bermodal kamera polaroid dan kreativitas.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa konser musik, khususnya konser K-Pop, kini bukan hanya tentang menikmati pertunjukan, tetapi juga tentang menciptakan ekosistem ekonomi mikro yang dinamis dan menguntungkan.
Nasa (24) dan Chan (24), dua sahabat asal Jakarta, awalnya hanya berniat menonton konser BLACKPINK sebagai penggemar. Namun, mereka melihat peluang besar di tengah kerumunan penonton yang ingin mengabadikan momen dengan cara yang lebih personal dan estetik.
“Kami lihat banyak orang foto-foto pakai HP, tapi hasilnya kadang nggak maksimal. Jadi kami bawa kamera polaroid dan coba tawarkan jasa foto instan,” ujar Nasa
Dengan modal kamera polaroid seharga Rp1,5 juta, beberapa pack film, dan properti sederhana seperti lightstick BLACKPINK dan backdrop mini, mereka mulai membuka jasa foto di luar area konser. Hasilnya? Dalam dua hari, mereka berhasil menjual lebih dari 200 lembar foto dengan harga Rp20.000–Rp25.000 per lembar.
Kunci keberhasilan bisnis polaroid ini terletak pada tiga hal: kesederhanaan, estetika, dan nilai emosional. Foto polaroid memiliki daya tarik tersendiri karena hasilnya langsung jadi, memiliki tekstur fisik, dan terasa lebih personal dibanding foto digital.
“Banyak yang bilang, ‘Sayang kalau momen konser cuma disimpan di HP.’ Jadi mereka senang bisa langsung pegang hasilnya,” kata Chan
Mereka juga memanfaatkan media sosial untuk promosi. Dengan membuat akun Instagram khusus dan membagikan hasil foto pelanggan (dengan izin), mereka berhasil menarik lebih banyak peminat. Bahkan, beberapa penggemar dari luar kota sengaja mencari mereka untuk berfoto sebelum konser dimulai.
Target pasar mereka sangat jelas: penggemar BLACKPINK yang mayoritas adalah Gen Z dan milenial muda. Kelompok ini sangat visual, menyukai hal-hal estetik, dan memiliki kecenderungan untuk mengabadikan momen dalam bentuk fisik seperti photocard, scrapbook, atau polaroid.
“Gen Z itu suka yang unik dan bisa dipajang. Polaroid itu bukan cuma foto, tapi kenangan yang bisa ditempel di dinding atau disimpan di album,” ujar Dita (21), salah satu pelanggan yang membeli lima lembar sekaligus.
Jika ditambah dengan repeat order, tips, dan promosi digital, keuntungan bisa lebih besar. Bahkan, beberapa pelanggan memesan sesi foto grup atau pre-concert shoot dengan harga lebih tinggi.
Meski terlihat mudah, bisnis ini juga memiliki tantangan:
- Cuaca dan pencahayaan: Foto polaroid sangat bergantung pada cahaya alami. Solusinya, mereka membawa ring light portabel.
- Persaingan: Beberapa orang mulai meniru ide mereka. Untuk itu, Nasa dan Chan menambahkan gimmick seperti stiker BLACKPINK, frame lucu, dan packaging eksklusif.
- Perizinan lokasi: Karena beroperasi di area publik, mereka harus berpindah-pindah agar tidak mengganggu lalu lintas penonton.
Melihat antusiasme yang tinggi, Nasa dan Chan berencana mengembangkan bisnis ini ke konser lain, seperti BTS, IU, atau festival musik lokal. Mereka juga mempertimbangkan untuk membuka jasa pre-order polaroid custom bertema K-Pop, lengkap dengan desain frame dan kemasan khusus.
“Ini bukan cuma soal BLACKPINK. Ini soal bagaimana kita bisa menangkap momen dan menjualnya sebagai pengalaman,” kata Chan.
Kisah Nasa dan Chan membuktikan bahwa di era digital ini, kreativitas bisa menjadi modal utama untuk meraih keuntungan. Dengan memahami audiens, memanfaatkan tren, dan berani mencoba, siapa pun bisa menciptakan peluang bisnis dari momen apa pun—bahkan dari konser musik.
Konser BLACKPINK 2025 di Jakarta bukan hanya tentang panggung megah dan penampilan spektakuler, tetapi juga tentang bagaimana generasi muda memanfaatkan momen tersebut untuk berkarya dan berwirausaha.